Ketik brain scan depression atau biomarker MRI ADHD di mesin pencari dan kamu akan menemukan klinik-klinik yang menjual jasa "precision psychiatry" pemindaian otak yang katanya bisa memetakan gangguan jiwamu secara objektif seolah depresi atau skizofrenia punya penampakan yang khas di layar MRI seperti tumor atau patah tulang. Narasinya menggoda: psikiatri, bidang yang selama ini bergantung pada wawancara dan kuesioner gejala, akhirnya akan setara dengan kardiologi atau onkologi, penyakit yang bisa dilihat, diukur, difoto.
Sebuah studi yang terbit di Nature Neuroscience pertengahan 2026 baru saja menunjukkan betapa jauh jarak antara janji itu dan kenyataan di data.
Apa yang diuji
Tim peneliti yang dipimpin Cao dan koleganya mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tapi belum pernah dijawab dalam skala sebesar ini kalau otak pasien dengan diagnosis psikiatri yang sama dipindai di lokasi berbeda-beda, apakah pola perbedaan otaknya dibanding orang sehat akan tampak konsisten?
Mereka mengumpulkan data dari 59 lokasi studi di seluruh dunia, mencakup lima diagnosis, skizofrenia, gangguan skizoafektif, autisme, depresi mayor, dan bipolar. Total 2.437 pasien dan 2.065 kontrol sehat. Untuk tiap diagnosis, mereka memetakan pola perbedaan volume materi abu-abu dan ketebalan korteks antara pasien dan kontrol di tiap lokasi lalu membandingkan seberapa mirip peta-peta itu satu sama lain.
Hasilnya nyaris seragam buruk: konsistensi lintas lokasi sangat rendah (median korelasi ≤ 0,16 mendekati nol). Ini bukan soal alat scanner yang beda merek bukan soal perbedaan usia atau jenis kelamin sampel, dan bukan soal pilihan metode statistik peneliti mengontrol semua faktor itu, dan hasilnya tetap rendah.
Yang membuat temuan ini benar-benar tajam adalah pembandingnya. Mereka menghitung ukuran yang sama untuk Alzheimer penyakit dengan penanda biologis yang sudah mapan, seperti atrofi hipokampus dan plak amiloid dan hasilnya jauh lebih tinggi (r = 0,54). Jadi bukan metodenya yang lemah. Metode yang sama, diterapkan ke Alzheimer, bekerja jauh lebih baik. Yang berbeda adalah objek yang dicari.
Kalau bukan alatnya, lalu apa?
Ini mengarah ke pertanyaan yang selama ini coba dihindari psikiatri biologis mungkin bukan alat pemindaiannya yang belum cukup canggih untuk menangkap "sidik jari otak" skizofrenia atau depresi mungkin sidik jari semacam itu memang tidak ada, karena kategori diagnosisnya sendiri bukan entitas biologis tunggal.
DSM, buku panduan diagnosis psikiatri, menyusun kategori seperti "depresi mayor" lewat konsensus komite atas klaster gejala, sembilan gejala, cukup lima yang muncul, sudah masuk kriteria. Masalahnya, kombinasi lima dari sembilan itu bisa menghasilkan ratusan variasi presentasi klinis yang berbeda, semuanya dilabeli nama yang sama. Ada makalah lama yang dikutip dalam studi Cao dkk. sendiri, judulnya provokatif: "636.120 cara untuk mengalami PTSD" mengacu pada berapa banyak kombinasi gejala berbeda yang bisa memenuhi satu kriteria diagnosis yang sama. Kalau satu label ternyata menaungi ratusan ribu presentasi yang secara klinis berbeda, tidak mengherankan kalau pola otaknya juga tidak pernah konvergen di layar MRI bukan karena scan-nya kurang tajam, tapi karena yang dicari memang bukan satu benda.
Dua jalan yang terbuka dari sini
Temuan ini bisa dibaca dengan dua cara, dan keduanya punya taruhan besar.
Cara pertama ini kemunduran, bukti bahwa psikiatri masih tertinggal jauh dari cabang kedokteran lain, terus mengejar biomarker yang mungkin tidak pernah akan ditemukan selama kategori diagnosisnya sendiri tidak dirombak.
Cara kedua, dan menurutku lebih jujur ini bukan kegagalan psikiatri untuk menjadi "sains yang sebenarnya," tapi sinyal bahwa psikiatri mungkin sejak awal butuh kerangka penjelasan yang berbeda dari model biomedis linear ala "satu penyakit, satu penanda, satu scan." Gangguan jiwa bisa jadi memang bukan objek yang levelnya tepat di lapisan neuroanatomi, levelnya ada di perilaku, relasi, riwayat hidup, dan konteks sosial, yang semuanya bisa punya akar biologis tanpa harus tereduksi jadi satu pola volume otak yang seragam untuk setiap orang dengan diagnosis yang sama.
Klinik yang menjual precision psychiatry brain scan mungkin menjual sesuatu yang secara jujur belum ada dasarnya bukan karena mereka menipu dengan sengaja, tapi karena mereka menjual kepastian dari bidang yang datanya sendiri, di jurnal paling top sekalipun, baru saja mengaku belum menemukan apa yang selama ini dicari.
Pertanyaan yang tertinggal bukan "kapan psikiatri akan punya biomarker otak seperti Alzheimer," tapi lebih mendasar, apakah pertanyaan itu sendiri yang keliru sejak awal.

