IBHCenter

Indonesian Board of Hypnotherapy Official Website

  • Home
  • Blog
  • Member
    • Certified Hypnotist
    • Certified Hypnotherapist
    • Trainer
  • Jadwal Pelatihan
  • Renewal
  • login

Pelacuran Sains : Saat Ilmu Bungkuk Pada Algoritma Bisnis

January 13, 2026 by Rifqah Ramdhana Jufri

Ada semacam ketegangan alami, silahkan yang bernama manusia unjuk diri. Ketika sesuatu yang sifatnya "murni" seperti ilmu pengetahuan harus masuk ke dalam wadah yang digerakkan oleh profit atau algoritma bisnis. Fenomena ini memang membawa risiko nyata terhadap orisinalitas dan integritas ilmu.

Eksploitasi Jalur Mesolimbik Saat Data Digital Terfokus Pada Metrik

1. Reward Seeking Dopamine Loop

Media sosial didesain untuk membuat kita berpindah dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik. Sadar nggak sih bedanya membaca melalui buku dengan digital kita mudah terpapar pada konten lain yang view nya lebih banyak pada hiburan, ada stage hipnotis disitu yang akhirnya sulit dikendalikan dan shifting begitu cepat.

Sementra proses untuk mengubah sikap, manusia butuh deep work dan kontemplasi (berpikir dalam) diverse, imajinasi dan ketergugahan yang lebih kuat. Sementara itu, media sosial melatih otak kita untuk memiliki rentang perhatian yang pendek (short attention span). Kita terlalu sibuk mencari "ilmu baru" sampai lupa mempraktikkan "ilmu yang tadi".

Dopamine Spiking (Lonjakan Dopamin) komersialisasi menggunakan variable reward (seperti jumlah likes, views, atau viralitas). Setiap kali sebuah konten "ilmu" disukai secara massal, otak kreator maupun konsumen mengalami lonjakan dopamin di nucleus accumbens. Novelty Bias (Bias Kebaruan), otak kita secara evolusioner terprogram untuk mencari informasi baru demi bertahan hidup.

Komersialisasi mengeksploitasi ini melalui algoritma yang memaksa ilmu diproduksi secepat mungkin. Akibatnya, otak tidak sempat melakukan konsolidasi memori (mengubah info menjadi pemahaman mendalam). The Hijacked Brain dalam kondisi ini, otak berada dalam mode "Survival/Gratifikasi" di mana kuantitas dan kecepatan mengalahkan kualitas dan kebenaran

Resistensi ini yang lalu mengubah makna ilmu secara konsisten sebenarnya. Dalam sains murni, hasil negatif (eksperimen yang gagal) adalah ilmu yang berharga. Namun, dalam ekosistem bisnis, kegagalan tidak bisa dijual. Risikonya, orang cenderung hanya menampilkan sisi yang sukses atau yang menjual. Ini adalah bentuk distorsi orisinalitas karena kita hanya melihat sebagian kecil dari kebenaran yang utuh.

Secara sistematis, platform bisnis menciptakan "filter" yang mengubah bentuk ilmu tersebut. Contohnya lisan (Oral Culture) yang sangat kuat, masyarakat kita secara historis besar dalam budaya tutur (cerita, obrolan, nongkrong). Kita lebih suka mendengar "kata orang" atau menonton video daripada membaca teks panjang yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Platform bisnis menangkap celah ini dengan menyajikan konten singkat yang memanjakan telinga dan mata, bukan otak.

Selain ini dalam praktik pemenuhan ekonomi dengan distraksi yang semakin kuat, saat membaca dan memvalidasi ilmu butuh energi mental yang besar. Bagi banyak orang yang sudah lelah bekerja seharian demi kebutuhan pokok, hiburan (entertainment) jauh lebih menarik daripada literasi. Ilmu itu berat, sedangkan bisnis menawarkan kemudahan. Akhirnya, orang memilih yang instan meskipun isinya sudah "terkontaminasi" kepentingan bisnis. Dalam segmen pendidikan yang realitasnya masih belum bangkit dari konsep feodalisme, menekankan "menghafal", bukan "menalar". Banyak dari kita dididik untuk menelan informasi agar bisa menjawab ujian, bukan untuk mempertanyakan atau mencari kebenaran orisinal

2. Pergeseran Prioritas Dari "Kebenaran" ke "Keterlibatan"

Dalam platform berorientasi bisnis (seperti media sosial atau jurnal berbayar), algoritma sering kali memprioritaskan konten yang viral atau populer daripada yang akurat secara mendalam. Ilmu yang kompleks sering kali "diiris" secara berlebihan (oversimplified) demi mengejar engagement. Orisinalitas bisa hilang karena kreator educated lebih fokus pada apa yang disukai pasar daripada apa yang benar secara esensi.

Ketika ilmu pengetahuan sangat bergantung pada platform bisnis atau sponsor korporat, muncul risiko Conflict of Interest (Konflik Kepentingan). Penelitian atau edukasi lebih diarahkan untuk mendukung produk tertentu atau menghindari topik yang merugikan pemilik platform. Orisinalitas terancam karena ilmuwan atau pengajar tidak lagi sepenuhnya bebas bersuara. Ini sangat kuat terjadi dalam permintaan persyaratan administrasi perguruan tinggi

3. Merkantilisasi Pengetahuan

Ilmu yang seharusnya menjadi milik publik (public goods) kini sering kali dipagari oleh paywalls atau sistem langganan. Ilmu pengetahuan menjadi barang mewah. Orisinalitas gagasan bisa terhambat karena akses terhadap referensi yang valid hanya dimiliki oleh segelintir orang yang mampu membayar, menciptakan gema (echo chamber) di dalam lingkaran itu saja. Ilmu pengetahuan yang orisinal biasanya penuh dengan ketidakpastian, batasan, dan bahasa yang hati-hati (seperti kata "mungkin", "tergantung", atau "dalam kondisi tertentu"). Di Platform bisnis bahasa seperti itu tidak laku. Algoritma menyukai pernyataan yang hitam-putih, bombastis, dan solutif seketika. Apa yang terjadi selanjutnya, ilmu kehilangan "jiwa" kehati-hatiannya demi terlihat menarik di layar ponsel

4. Ilmu Sebagai "Konsumsi", Bukan "Transformasi" ( Piece Of Knowledge )

Di media sosial, kita memperlakukan ilmu seperti menonton Netflix. Kita merasa sudah "pintar" hanya dengan menonton video singkat tentang tips hidup atau sains, padahal itu hanya ilusi pengetahuan. Mengetahui (knowing) tidak sama dengan (being). Media hanya menyentuh lapisan kognitif (tahu), tapi tidak menyentuh lapisan afektif (sikap) karena minim proses perenungan yang melatih area critical secara tajam sebagai bahan bakar sikap dan keteladanan. (The Loss of Role Models) dulu, ilmu didapat dari guru atau buku yang dibaca dalam waktu lama, sehingga ada proses transfer nilai. Di media, kita mendapatkan ilmu dari layar yang dingin. Kita tidak melihat bagaimana si pemberi ilmu berperilaku dalam kehidupan nyata.

Tanpa contoh nyata (keteladanan), ilmu hanya menjadi kumpulan teks atau suara tanpa jiwa yang sulit diaplikasikan menjadi area kognitif. Ala-ala life hacks atau potongan-potongan kecil. Manusia kehilangan cara berpikir sistemik. Kita tahu “what nya” yang harus dilakukan, tapi tidak paham "why nya" serta "how nya secara mendalam. Tanpa fondasi "kemengapaan", ilmu itu tidak akan pernah cukup kuat untuk mengubah kebiasaan lama yang sudah berkarat, ibarat re-framing atas kondisi evolusi yang cukup panjang seperti yang sudah saya jelaskan di artikel sebelum ini

Kita bisa belajar dari bagaimana strategi paksa yang di bangun melalui system. Pemerintahan Finlandia memberikan "Paket Bayi" kepada setiap orang tua yang baru melahirkan, yang isinya bukan cuma baju dan popok, tapi buku bacaan. Membaca sudah "dipaksakan" masuk ke rumah sejak hari pertama kelahiran

Jepang dengan budaya "Tachiyomi". Mereka memiliki hukum tentang Promotion of Children's Reading Activities. Di swalayan misalnya pemilik toko membiarkan orang membaca gratis tanpa membeli, karena mereka percaya masyarakat yang cerdas akan menguntungkan ekonomi dalam jangka panjang. Islandia "Bokatidindi" ada tradisi unik di mana setiap warga negara dikirimi katalog buku gratis ke rumah mereka menjelang Natal. Kebijakannya, industri buku sangat didukung pemerintah. Menghadiahkan buku saat Natal adalah kewajiban sosial yang tidak tertulis

Sampai sini anda tahu harus mengambil posisi yang seperti apa, selamat berlatih ..

I invite you to spectacular collaboration 

Find me in contact +62 819-3822-9535

Filed Under: Stage Hypnotism

In memoriam Yan Nurindra

Certified Instructor of The Month April-2026

Azwan Zamzami, S.Psi, CI, CMT.NNLP, C.PLC, CT.NLC
No Anggota: 12092

lihat Profile

//Artikel Terbaru

  • Self Healing Alamiah dan Ilmiah
  • Penggunaan Self Hipnosis dalam Pendidikan
  • Kesediaan Menghadapi Rasa Tidak Nyaman
  • Berkenalan dengan Kelenjar Pineal
  • Membuka Kemungkinan melalui Paradigma Psikologi Positif

//Jadwal Pelatihan

Advanced Hypnotherapy

17-May-2026 - Bandung

Deden Rizwan R, S. Pd. I, CI. IBH

Detail

Advanced Hypnotherapy

17-May-2026 - Yogyakarta

Agung Dwi Sasongko, S.Pd., S.Psi., M.Pd.

Detail

Advanced Hypnotherapy

17-May-2026 - Jakarta

DR.(H.C) ARIS BUDIMAN, CHt.,CPHt.,CMHt, CI, CMTHt.

Detail

Advanced Hypnotherapy

17-May-2026 - Tangerang

Bernartdous Sugiharto, S.S.T, CH, CHt, CPHt, CMH, CI, C.ESTher, CT. MTH, CT. NLMOR, CT NNLP, CT. PBL, CT. HLC

Detail

Jadwal Lengkap

// News

// Our Network

logo-nca logo-nnlp

// The Indonesian Board of Hypnotherapy

Plaza Basmar Lantai 3
Jl. Mampang Prapatan Raya 106 Jakarta Selatan
Whatsapp: 0813-8100-0981 (Mey)
IBH is managed by Integra

© Copyright 2014 IBH Center · All Rights Reserved · Powered by Indonesia9 ·