Ada gambaran yang dipakai tim peneliti University of Kentucky untuk menjelaskan temuan mereka dan menurut saya gambaran itu jauh lebih jujur daripada bahasa ilmiah manapun bayangkan ada kebakaran kecil di dapur. Sebelum kau sempat memadamkannya sendiri, sprinkler otomatis di seluruh rumah menyala dan membanjiri semua ruangan. Api padam, tapi rumahmu sudah rusak lebih parah daripada kalau kebakaran itu dibiarkan sebentar. Itulah yang terjadi di otak penderita Alzheimer plak amiloid adalah api kecil di dapur, dan microglia, sel imun bawaan otak, adalah sprinkler yang bereaksi berlebihan sampai membanjiri seluruh rumah.
Selama ini kita menyalahkan plak amiloid untuk hampir semua gejala Alzheimer, termasuk salah satu yang paling melelahkan buat pasien dan keluarganya gangguan tidur berat yang dialami hampir separuh penderita. Antara seperempat sampai hampir setengah pasien Alzheimer mengalami gangguan tidur yang secara klinis melumpuhkan salah satu gejala paling berat dari penyakit ini dan salah satu alasan utama pengasuh melaporkan kelelahan, burnout, sampai akhirnya memilih membawa keluarganya ke panti rawat. Tim di Kentucky, dipimpin Shannon Macauley, justru menemukan bahwa dalang sebenarnya bukan plaknya. Ketika microglia bereaksi terhadap plak, mereka memicu kaskade peradangan yang rumit seolah-olah microglia sedang berpesta semalaman dan membuat otak tetap terjaga. Yang paling mengejutkan ketika peneliti melumpuhkan 87% populasi microglia dengan obat selama 14 hari, tikus dengan patologi Alzheimer mendapat kembali lebih dari dua jam tidur nyenyak (NREM) per malam tanpa satu pun plak yang hilang dari otaknya.
Baca dua kali kalimat terakhir itu. Tidurnya pulih. Plaknya masih ada, tidak berkurang sedikit pun. Yang disingkirkan bukan penyakitnya, melainkan respons tubuhnya sendiri terhadap penyakit itu. Selama puluhan tahun kita menganggap peradangan otak sebagai efek samping yang tak terhindarkan dari penyakit neurodegenerative konsekuensi, bukan penyebab tersendiri. Studi ini membalik urutannya kadang yang menyiksa pasien bukan lukanya, tapi caranya tubuh berusaha menyembuhkan luka itu.
Di ujung yang lain bulan yang sama, tim di Sanford Burnham Prebys menemukan sesuatu yang seolah jadi pasangan cermin dari cerita microglia kali ini tentang pertahanan yang justru bekerja. Tau, protein yang biasanya menstabilkan struktur internal sel saraf, pada Alzheimer dan tauopati lain mulai menggumpal jadi kusut yang toksik, dikaitkan dengan kematian neuron dan penurunan kognitif. Yang mereka teliti adalah protein bernama SORLA, yang sebelumnya sudah diketahui menekan produksi dan penumpukan amiloid-beta, tapi belum jelas apakah ia juga berperan pada sisi tau dari penyakit ini. Dengan menyilangkan tikus yang memproduksi SORLA manusia berlebih dengan tikus yang mengembangkan kusutan tau, atrofi otak, dan defisit kognitif, mereka menemukan kelebihan SORLA melindungi dari berbagai proses biologis yang berujung pada pembentukan kusutan tau dan progresi neurodegenerasi. Tikus dengan SORLA ekstra menunjukkan lebih sedikit hiperfosforilasi tau, lebih sedikit "benih" tau yang merekrut protein lain untuk menggumpal, atrofi otak yang lebih ringan, dan sambungan sinaps yang lebih sehat sementara tikus yang kekurangan gen SORLA justru mengalami kerusakan tau yang lebih parah.
Taruh dua cerita ini berdampingan, dan yang muncul bukan cuma dua temuan medis yang kebetulan terbit di bulan yang sama. Yang muncul adalah pertanyaan yang lebih tua daripada neurosains itu sendiri kapan sebuah sistem pertahanan berhenti melindungi dan mulai merusak yang dilindunginya? Microglia dan SORLA sama-sama lahir dari desain evolusi yang sama mekanisme protektif, dirancang untuk menjaga otak tetap utuh. Bedanya cuma soal kalibrasi. Yang satu terlalu bersemangat sampai kebablasan, yang lain bekerja tepat pada takarannya dan justru jadi tameng.
Saya jadi berpikir ini bukan cuma metafora yang pas untuk biologi. Berapa banyak hal dalam hidup kita yang polanya persis begitu dirancang untuk melindungi, tapi karena dosisnya lepas kendali, malah jadi sumber masalah baru? Orang tua yang terlalu protektif membuat anaknya makin rapuh, bukan makin aman. Aturan birokrasi yang dibuat untuk mencegah korupsi kadang membuat sistem terlalu kaku untuk bekerja sama sekali. Bahkan kecemasan sendiri, dalam dosis kecil, adalah alarm yang membuat kita waspada terhadap bahaya dalam dosis besar, ia jadi penjara. Rumah tangga yang penuh microglia yang terlalu waspada, kalau boleh saya pinjam istilahnya, mungkin tidak akan pernah kebakaran, tapi juga tidak akan pernah tenang.
Yang menarik dari dua studi ini, kalau ditaruh dalam kerangka itu, adalah bahwa jawabannya bukan "hilangkan saja sistem pertahanannya" melumpuhkan seluruh microglia secara permanen tentu bukan solusi, sama seperti menghilangkan rasa takut sepenuhnya bukan jalan menuju keberanian. Yang dicari justru kalibrasi bagaimana caranya menahan sistem pelindung itu tetap ada, tapi tidak berlebihan atau, seperti SORLA, bagaimana menemukan mekanisme yang memang sudah pas dari awal dan memperkuatnya.
Kedua penemuan ini masih jauh dari terapi yang siap dipakai manusia, obat yang bisa meningkatkan SORLA belum ada, dan pelumpuhan microglia baru diuji pada tikus. Tapi arah yang mereka buka sama-sama menggeser cara kita memandang penyakit ini bukan lagi sekadar "membersihkan sampah" di otak (plak, kusutan protein), melainkan menata ulang respons tubuh sendiri terhadap sampah itu. Barangkali itu juga cara yang lebih jujur untuk memandang banyak kerusakan dalam hidup manusia secara umum bukan selalu soal menyingkirkan ancamannya, tapi soal belajar bagaimana bereaksi terhadapnya tanpa membanjiri seisi rumah.

