Ada dua berita yang terbit dalam bulan yang sama dan kalau ditaruh berdampingan, keduanya menampar asumsi yang selama ini kita anggap sudah selesai bahwa kecerdasan itu soal ukuran. Otak besar, lebih pintar. Parameter lebih banyak, model lebih cerdas. Dua studi ini bilang tidak juga.
Yang pertama datang dari Finlandia. Lebih dari satu abad lalu, psikolog Jerman Wolfgang Kohler melakukan eksperimen klasik yang membuktikan simpanse bisa memecahkan masalah baru secara tiba-tiba menyusun kotak untuk meraih pisang yang di luar jangkauan. Selama ini kemampuan itu, yang disebut insight menyambungkan potongan informasi terpisah jadi solusi baru secara spontan tanpa dilatih sebelumnya dianggap milik eksklusif makhluk berotak besar, simpanse, gajah, gagak, manusia. Tim di Universitas Oulu memutuskan mengujinya pada makhluk yang ototnya seukuran biji wijen lebah tanah.
Eksperimennya sederhana tapi liciknya luar biasa. Peneliti membangun arena bundar kecil berisi bunga buatan berwarna biru mengandung larutan gula, dan sebuah bola foam diletakkan di dekatnya sekadar untuk membiasakan lebah dengan objek tersebut, tanpa pernah mengajarkan hubungan antara keduanya. Untuk meraih hadiah yang disembunyikan di bawah bunga itu, lebah yang berhasil harus menggelindingkan bola kecil ke bawah bunga lalu memanjatnya rangkaian tindakan yang tidak pernah mereka latih sebelumnya. Ini bukan trial and error yang kebetulan berhasil. Peneliti menjalankan tiga eksperimen yang makin menuntut secara sistematis untuk menyingkirkan penjelasan yang lebih sederhana, belajar coba-coba, gerakan bola acak, atau panduan visual langsung sebelum menyimpulkan lebah-lebah itu benar-benar merencanakan ke depan. Menurut salah satu penulis studi, Olli Loukola, pemecahan masalah spontan semacam ini belum pernah ditunjukkan pada invertebrata mana pun sebelumnya.
Sementara lebah-lebah kecil ini sedang membuktikan mereka bisa berimprovisasi, di belahan lain dunia riset, model-model AI raksasa justru sedang gagal pada tes yang jauh lebih sederhana daripada menggelindingkan bola. Tim yang dipimpin Suketu Patel menguji model-model bahasa besar dengan tugas Stroop, tes klasik psikologi di mana kata-kata warna dicetak dengan tinta warna yang kadang cocok, kadang tidak, dan partisipan diminta menyebut warna tintanya, bukan membaca katanya. Tes ini dipakai secara klinis untuk mengukur kontrol eksekutif, kemampuan menahan respons otomatis demi mengejar tujuan yang sebenarnya diminta.
Ketika kata dan warna tinta tidak cocok, model-model bahasa itu tampil baik untuk daftar lima kata. Tapi begitu daftarnya diperpanjang, semuanya berantakan. Beberapa sistem terkemuka jatuh dari akurasi di atas 90% menjadi nyaris gagal total. Semakin tinggi tuntutan kognitifnya, model-model ini mengalami kolapsnya kemampuan untuk mengesampingkan respons otomatis. Manusia, sebaliknya, memang butuh waktu lebih lama untuk menjawab benar ketika kata dan warna bertentangan, tapi tetap stabil dan akurasinya tinggi bahkan pada daftar kata yang panjang
Bandingkan dua gambar ini. Lebah dengan seratus ribu neuron memecahkan masalah fisik yang belum pernah ia temui, lewat rangkaian gerakan yang harus disusun sendiri dari nol. Model bahasa dengan miliaran parameter, yang bisa menulis esai filsafat dan lulus ujian hukum, kehilangan kemampuan paling dasar untuk sekadar tidak terganggu ketika daftar kata jadi terlalu panjang. Ini bukan soal siapa lebih pintar secara umum perbandingan semacam itu keliru sejak awal. Ini soal kecerdasan ternyata bukan satu sumbu tunggal dari bodoh ke pintar, melainkan sekumpulan kapasitas yang berbeda-beda, yang bisa hadir atau absen secara terpisah satu sama lain, tidak peduli seberapa besar otak yang menjalankannya.
Lebah tidak punya korteks prefrontal, tidak punya bahasa, tidak punya apa pun yang kita anggap prasyarat untuk berpikir. Tapi ia punya sesuatu yang disebut peneliti sebagai kemampuan menyimpan lokasi tujuan tersembunyi dalam ingatan sambil memanipulasi objek dalam kaitannya dengan tujuan itu sebentuk perencanaan minimalis yang cukup untuk masalah barunya. Model bahasa, sebaliknya, punya kemampuan linguistik luar biasa tapi ternyata rapuh soal executive control menahan diri dari jalan pintas yang paling mudah diambil, demi menjalankan instruksi yang sebenarnya diminta, ketika tekanan kognitifnya menumpuk.
Salah satu peneliti bee, seperti dikutip media, mengatakan temuan ini semestinya membuat kita berpikir ulang seberapa banyak kecerdasan yang bisa dimuat dalam sistem saraf kecil, dan bahwa manusia sebagai makhluk berpikir sesungguhnya dikelilingi oleh berbagai jenis makhluk berpikir lain, betapa pun radikal berbedanya cara berpikir mereka. Saya kira ini juga peringatan yang pas untuk cara kita menilai AI kita cenderung menyimpulkan kecerdasan umum dari kefasihan bahasa, karena bahasa adalah alat ukur yang paling mudah kita kenali sebagai manusia. Tapi kefasihan bukan bukti stabilitas kognitif, sama seperti otak besar bukan jaminan fleksibilitas berpikir.
Yang tersisa dari dua studi ini bukan jawaban yang rapi, melainkan pertanyaan yang lebih jujur kalau lebah bisa berimprovisasi tanpa bahasa dan tanpa otak besar, dan model bahasa bisa berbahasa fasih tapi runtuh saat harus bertahan fokus, mungkin yang perlu kita revisi bukan daftar makhluk mana yang pintar, tapi definisi kita sendiri tentang apa artinya berpikir.

