IBHCenter

Indonesian Board of Hypnotherapy Official Website

  • Home
  • Blog
  • Member
    • Certified Hypnotist
    • Certified Hypnotherapist
    • Trainer
  • Jadwal Pelatihan
  • Renewal
  • login

Membuka Kemungkinan melalui Paradigma Psikologi Positif

May 13, 2026 by Lynda Yenie Listaunsanti, S.Psi., CHt., CI

Ketika manusia sedang terluka, dirinya cenderung melihat persoalan hanya dari satu sudut pandang. Menurutnya gagal berarti tidak berharga, ditolak berarti tidak layak dicintai, kehilangan berarti akhir dari segalanya. Pola pikir seperti ini membuat luka batin terasa semakin berat karena pikiran hanya berputar pada satu kemungkinan yang menyakitkan. Di sinilah pentingnya berpikir divergen, yaitu kemampuan melihat lebih dari satu kemungkinan, lebih dari satu jawaban, dan lebih dari satu jalan keluar.

 

Berpikir divergen adalah konsep dalam psikologi kognitif yang merujuk pada kemampuan menghasilkan berbagai alternatif solusi terhadap suatu masalah. Tokoh yang banyak membahas ini adalah J. P. Guilford, yang menjelaskan bahwa berpikir divergen berkaitan dengan kreativitas, fleksibilitas mental, dan kemampuan melihat sesuatu dari banyak perspektif. Dalam kehidupan emosional, kemampuan ini sangat penting karena luka batin sering membuat seseorang berpikir secara kaku. Berpikir dalam konsep hitam atau putih, berhasil atau gagal, diterima atau ditolak. Padahal hidup jarang sesederhana itu.

 

Dalam proses self-healing, berpikir divergen membantu seseorang keluar dari jebakan pola pikir korban. Misalnya, ketika sebuah hubungan berakhir, pikiran konvergen berkata: “Saya ditinggalkan karena saya tidak cukup baik.” Namun dengan berpikir divergen membuka kemungkinan lain seperti, bisa saja hubungan itu selesai karena ketidakcocokan nilai, mungkin itu bentuk perlindungan, atau mungkin itu adalah ruang untuk pertumbuhan baru. Perubahan perspektif ini tidak menghapus rasa sakit, tetapi membuat seseorang tidak tenggelam di dalam situasinya.

 

Paradigma psikologi positif sangat mendukung proses self healing. Psikologi positif yang dikembangkan oleh Martin Seligman menekankan bahwa fokus psikologi bukan hanya memperbaiki gangguan, tetapi juga membangun kekuatan, makna hidup, harapan, dan kesejahteraan psikologis. Seligman menjelaskan bahwa manusia dapat bertumbuh ketika ia tidak hanya melihat penderitaan, tetapi juga peluang untuk berkembang. Dalam konteks ini, berpikir divergen menjadi tools penting untuk menemukan makna baru di balik pengalaman yang menyakitkan.

 

Seseorang yang berpikir divergen tidak mudah terjebak dalam kalimat seperti “hidup saya sudah selesai” atau “saya tidak akan pernah bahagia lagi.” Justru dirinya belajar bertanya: “Apa lagi yang mungkin?” Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat kuat. Pertanyaan tsb membuka ruang harapan. Dalam self-healing, harapan adalah energi psikologis yang sangat penting. Ketika seseorang masih mampu melihat kemungkinan, ia masih punya kesempatan berhasil meraih tujuan.

 

Berpikir divergen juga membantu dalam relasi interpersonal. Banyak konflik terjadi karena seseorang terlalu cepat menafsirkan perilaku orang lain dari sudut luka pribadinya. Misalnya, diam dianggap penolakan, kritik dianggap kebencian, jarak dianggap pengabaian. Dengan pola pikir yang lebih fleksibel, seseorang belajar bahwa tidak semua hal harus dimaknai secara personal. Ini membantu regulasi emosi dan mengurangi reaktivitas yang sering memperparah luka batin.

 

Dalam praktik sehari-hari, berpikir divergen dapat dilatih melalui journaling reflektif, coaching, konseling, dan self-hypnosis. Ketika menghadapi masalah, biasakan menulis minimal tiga kemungkinan penjelasan, bukan hanya satu asumsi yang paling menyakitkan. Latih pikiran untuk bertanya: “Apa pelajaran di balik ini?” bukan hanya “Mengapa ini terjadi pada saya?” Pergeseran kecil ini membantu otak keluar dari mode ancaman menuju mode pertumbuhan.

 

 

Self-compassion juga memperkuat proses healing. Orang yang terlalu kaku pada dirinya sendiri sulit berpikir divergen karena pikirannya sibuk menghukum diri. Ketika seseorang belajar memperlakukan dirinya dengan kelembutan, ia memiliki ruang mental yang lebih luas untuk melihat alternatif. Ia tidak lagi terjebak dalam rasa bersalah yang sempit, tetapi mulai melihat hidup dengan lebih jernih dan sehat.

 

Pada akhirnya, self-healing bukan hanya tentang menyembuhkan luka, tetapi juga memperluas cara pandang terhadap hidup. Berpikir divergen mengajarkan bahwa satu kegagalan tidak menentukan seluruh masa depan, satu penolakan tidak mendefinisikan harga diri, dan satu kehilangan tidak berarti akhir dari kebahagiaan. Dalam paradigma psikologi positif, kesembuhan lahir ketika seseorang berani membuka kemungkinan baru. Karena sering kali, jalan keluar tidak datang dari perubahan keadaan, tetapi dari keberanian melihat hidup dengan cara yang berbeda.#LYL.

Filed Under: General

In memoriam Yan Nurindra

Certified Instructor of The Month April-2026

Azwan Zamzami, S.Psi, CI, CMT.NNLP, C.PLC, CT.NLC
No Anggota: 12092

lihat Profile

//Artikel Terbaru

  • Membuka Kemungkinan melalui Paradigma Psikologi Positif
  • Refleksi Psikologis Hari Raya Idul Adha
  • Saat Rezeki Mengalir dari Diri yang Selaras
  • Only Positive Vibes, Not Always a Good Thing
  • Neurosains Untuk Kaum Kurang Pelukan

//Jadwal Pelatihan

Advanced Hypnotherapy

13-May-2026 - Malang

Ilyas Afsoh

Detail

Basic Hypnotherapy

13-May-2026 - Bandung

Deden Rizwan R, S. Pd. I, CI. IBH

Detail

Advanced Hypnotherapy

14-May-2026 - Bandung

Deden Rizwan R, S. Pd. I, CI. IBH

Detail

Basic Hypnotherapy

14-May-2026 - Tangerang

Bernartdous Sugiharto, S.S.T, CH, CHt, CPHt, CMH, CI, C.ESTher, CT. MTH, CT. NLMOR, CT NNLP, CT. PBL, CT. HLC

Detail

Jadwal Lengkap

// News

// Our Network

logo-nca logo-nnlp

// The Indonesian Board of Hypnotherapy

Plaza Basmar Lantai 3
Jl. Mampang Prapatan Raya 106 Jakarta Selatan
Whatsapp: 0813-8100-0981 (Mey)
IBH is managed by Integra

© Copyright 2014 IBH Center · All Rights Reserved · Powered by Indonesia9 ·