Dari beberapa perempuan dewasa yang Saya jumpai di sesi konseling membawa pertanyaan yang hampir mirip. Mereka penasaran mengapa hubungan romansa yang dijalani terasa berulang dengan pola yang mirip. Ada yang merasa takut ditinggalkan, terlalu bergantung pada validasi orang lain, cenderung sulit mengatakan “tidak”, atau justru selalu menarik diri ketika hubungan mulai terasa dekat.
Di dalam kepala mereka sering muncul pertanyaan seperti, "Ada apa dengan diriku selalu bertemu orang yang salah?", "Apa yang membuatku mudah cemas dalam hubungan?", "Aku sering sulit merasa cukup". Mereka merasa takut ditinggalkan meskipun pasangannya tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi. Merasa sulit percaya kepada orang lain, mudah merasa tidak cukup baik, terlalu sering meminta maaf.
Banyak perempuan dewasa mengalami hal seperti ini tanpa memahami dari mana asalnya. Tidak sedikit yang menganggap dirinya terlalu sensitif, mudah cemas, terlalu membutuhkan perhatian, atau tidak pandai menjalin hubungan. Padahal, terkadang akar dari perasaan tersebut bukan semata-mata berasal dari hubungan yang sedang dijalani saat ini. Bisa jadi ada pengalaman masa lalu yang emosinya masih tersimpan dan belum sepenuhnya diproses.
Ketika mendengar istilah luka masa kecil atau inner child wound, banyak orang membayangkan pengalaman yang sangat berat. Padahal, pengalaman emosional yang meninggalkan jejak tidak selalu tampak besar dari luar. Misalnya, tumbuh dengan tuntutan dari orang tua untuk selalu menjadi anak yang baik, jarang mendapatkan apresiasi atau validasi, terbiasa menahan perasaan sendiri, sering dibandingkan dengan orang lain, merasa harus kuat sejak kecil, belajar bahwa kebutuhan diri sendiri bukan prioritas.
Saat kecil, kita belajar cara memahami dunia melalui lingkungan terdekat. Kita belajar bagaimana dicintai, bagaimana merasa aman, dan bagaimana memandang diri sendiri. Ketika kebutuhan emosional tidak terpenuhi secara optimal, sering kali seseorang mengembangkan pola bertahan yang sebenarnya sangat membantu saat itu. Namun saat dewasa, pola tersebut terkadang justru memunculkan tantangan baru.
Pengalaman masa kecil yang belum diproses dapat muncul dalam bentuk. Dampaknya Pada relasi saat dewasa sebagaimana yang diceritakan di atas. Yang sering membuat mereka bingung adalah pola ini berjalan sangat otomatis. Kita mungkin sadar bahwa sesuatu terasa tidak nyaman, tetapi sulit memahami mengapa hal itu terus berulang.
Memahami pengalaman masa lalu bukan berarti mencari siapa yang salah atau menyalahkan orang-orang di sekitar kita.Tujuannya bukan untuk hidup dalam cerita lama.Tujuannya adalah memahami diri dengan lebih utuh. Ketika seseorang mulai memahami alasan di balik rasa takut, marah, sedih, atau cemas yang muncul dalam hubungan, ia mulai memiliki kesempatan untuk membangun pola yang lebih sehat.
Proses ini membantu seseorang untuk mengenali kebutuhan emosionalnya, membangun batasan yang sehat, meningkatkan rasa berharga dalam diri, serta menjalani relasi yang lebih aman dan nyaman. Karena setiap perempuan berhak memiliki ruang untuk pulih. Sering kali perempuan terbiasa menjadi tempat bersandar bagi banyak orang entah apakah itu pasangannya, anak, keluarga, teman. Namun di balik peran-peran tersebut, ada kalanya seseorang juga membutuhkan ruang untuk didengar tanpa dihakimi. Tidak semua proses harus dijalani sendiri. Kadang-kadang, langkah kecil seperti mulai memahami diri sendiri dapat menjadi awal perubahan yang besar. Karena hubungan yang paling lama akan kita jalani sepanjang hidup adalah hubungan dengan diri sendiri. Terkadang dimulai ketika seseorang mulai duduk sejenak, mendengarkan dirinya sendiri, dan berkata: "Mungkin sekarang waktunya aku juga memberi perhatian untuk diriku." #LYL.

