Tahun ini sekelompok peneliti dari Basque Center on Cognition, Brain and Language memindai otak 728 orang dari kawasan itu, orang-orang yang tumbuh dengan kombinasi bahasa Spanyol, Basque, Prancis, dan Inggris, dalam jumlah yang berbeda-beda ada yang cuma satu bahasa, ada yang sampai empat. Mereka memakai magnetoensefalografi, alat yang menangkap medan magnet sangat lemah yang dihasilkan sel-sel otak saat aktif berkomunikasi satu sama lain lalu memakai model kecerdasan buatan untuk membangun semacam "jam usia otak" bukan usia biologis tapi usia yang dibaca dari pola konektivitas saraf.
Hasilnya berjenjang rapi, seperti dosis obat. Orang yang bilingual, otaknya tampak sekitar enam tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Yang menguasai tiga bahasa, tujuh tahun lebih muda. Yang fasih dalam empat bahasa, tiga belas tahun lebih muda dan efeknya makin kuat pada orang yang belajar bahasa keduanya sejak usia dini serta benar-benar fasih bukan sekadar tahu beberapa kosakata untuk basa-basi.
Yang menarik dari temuan ini bukan cuma angkanya tapi kenapa itu bisa terjadi. Otak yang menua biasanya kehilangan sesuatu yang sangat sederhana, kecepatan dan kekuatan koneksi antar sel saraf mulai melemah dan muncul gejala yang kita kenal sebagai pikun lupa nama orang, lambat memproses informasi baru, sulit mengingat kata yang tadi ada di ujung lidah. Berpindah-pindah antar bahasa ternyata memaksa otak melakukan sesuatu yang sangat spesifik dan berat, menekan satu sistem bahasa sambil mengaktifkan sistem yang lain, berkali-kali, tanpa henti, setiap kali seseorang beralih dari satu bahasa ke bahasa lain dalam percakapan sehari-hari. Semacam angkat beban untuk sirkuit kontrol kognitif bagian otak yang juga dipakai untuk hal-hal yang jauh lebih luas dari sekadar berbahasa menahan godaan, mengalihkan perhatian, menyelesaikan tugas yang saling bersaing.
Ada godaan untuk membaca ini sebagai kabar gembira yang sederhana, ambil kursus bahasa, dapatkan otak yang lebih awet muda, selesai. Tapi ada sesuatu yang lebih menggelitik kalau dipikirkan lebih jauh. Selama beberapa dekade terakhir banyak kebijakan pendidikan dan bahkan budaya kerja global justru bergerak ke arah sebaliknya, mendorong satu bahasa dominan sebagai bahasa "efisien" untuk bisnis, sains dan pendidikan tinggi sementara bahasa daerah atau bahasa ibu kedua dianggap beban tambahan yang boleh dilepas begitu seseorang cukup fasih berbahasa global. Logika efisiensi ini masuk akal secara ekonomi jangka pendek. Tapi kalau otak yang harus bekerja keras menahan dan berpindah antar sistem bahasa itu justru yang menua paling lambat maka yang selama ini kita anggap sebagai "beban kognitif yang tidak perlu" mungkin justru latihan paling berharga yang pernah ada dan kita sedang pelan-pelan membuangnya atas nama kepraktisan.
Kawasan Basque bukan tempat yang mempertahankan banyak bahasa demi manfaat kesehatan otak. Mereka mempertahankannya karena identitas, sejarah, keras kepala politik selama puluhan tahun menolak bahasa mereka ditelan oleh bahasa yang lebih dominan. Manfaat neurologis yang baru terungkap ini datang belakangan sebagai efek samping dari sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dimaksudkan sebagai program kesehatan otak sama sekali.

