Setiap tahun, peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia membawakan tema besar “Changing the Narrative on Suicide” atau “Mengubah Narasi tentang Bunuh Diri”. Pesan utamanya sangat jelas dan menyentuh dasar kemanusiaan kita: “Start the Conversation” (Mulai Percakapan).
Mengubah narasi berarti kita diajak untuk meruntuhkan tembok stigma dan rasa malu. Kita didorong untuk menciptakan ruang aman yang memungkinkan siapa pun berbicara dan mendengarkan tanpa menghakimi. Mengapa percakapan ini begitu krusial? Karena sering kali, luka emosional yang terpendam dalam diam dan keterasingan adalah pemicu utama seseorang merasa kehilangan harapan.
Sebagai seorang konselor sebaya dan hipnoterapis, saya sering bertemu dengan pribadi-pribadi tangguh yang tampak baik-baik saja di luar, namun menyimpan peperangan batin yang luar biasa di dalam. Mereka bertahan dalam diam demi menjaga perasaan dunia, sementara hatinya sendiri merasa remuk dan terabaikan.
Menunjang Proses Pemulihan: Peluncuran Buku Pulih Pelan-Pelan
Selaras dengan semangat Start the Conversation, percakapan yang paling menentukan sering kali berawal dari bagaimana kita berbicara pada diri kita sendiri (self-talk). Untuk mendukung dan menunjang proses pemulihan trauma serta kesehatan mental secara mandiri, saya resmi merilis buku pertama saya yang berjudul:
PULIH PELAN-PELAN: 14 Hari Self Talk & Journaling Trauma dengan Self Hypnosis Sederhana
Buku ini dirancang bukan sebagai bacaan teori yang berat, melainkan sebagai sebuah workbook praktis yang memadukan tiga pendekatan efektif untuk menenangkan pikiran dan sistem saraf:
-
Self Talk: Mengubah narasi batin yang semula kritis dan menghakimi menjadi suara yang lebih adil, jujur, dan penuh kasih.
-
Journaling: Mengurai benang kusut emosi yang tertahan di kepala agar pikiran menjadi lebih lega dan jernih.
-
Self Hypnosis Sederhana: Latihan relaksasi terfokus untuk membantu menenangkan sistem saraf yang terlalu lama bersiaga (hypervigilance).
Mulai Percakapan, Pulih Bersama
Proses pemulihan tidak pernah menuntut kita untuk langsung berlari atau berpura-pura cepat sembuh. Pulih bukan tentang seberapa cepat kita sampai di garis finis, melainkan tentang seberapa jujur kita berani melangkah kembali, pelan-pelan.
Melalui momen Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia ini, mari kita bersama-sama mulai membuka percakapan—baik kepada orang-orang di sekitar kita maupun kepada diri sendiri. Ingatlah bahwa meminta bantuan dan berani mengakui luka bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk tertinggi dari keberanian untuk hidup.
Mari kita ubah narasi bersama: dari diam menjadi bicara, dari menghakimi menjadi mendengarkan, dan dari rasa sakit menuju pulih pelan-pelan.

