The Power of thinking and The Power of word atau kekuatan pikiran dan kekuatan kata-kata yang saya ciptakan sendiri, saya jadikan sebagai autosugesti untuk mencapai keinginan dan kebahagiaan saya. Tidak ada yang tidak mungkin selagi usaha dan kerja keras yang positif, kita jadikan autosugesti pikiran dan kata-kata dan perbuatan kita.
Saya sadari bahwa autosugesti yang saya ciptakan sendirilah yang membuahkan keberhasilan dalam mencapai kebahagiaan saya, terlepas orang memaki dan tidak suka dengan kita, atau menunjukkan wajah yang tidak suka. Intinya kita harus merespon dengan respon yang membuat kita bahagia.
Kekutan pikiran, kekuatan kata-kata atau strategi kita mengelola pikiran dan kata-kata adalah senjata otomatik yang mampu menolong diri kita dan menolong orang lain tetap bahagia.
Salah satu kisah nyata yang di alami anak gadis saya Thalia Emerandal Ninta biasa dipanggil Thalia yang saat itu masih duduk di bangku salah satu SMA di kawasan Kemang Pratama Bekasi terpengaruh dengan kekuatan kata-kata dan strategi yang saya lakukan. Tidak saja anak saya tapi guru-guru dan teman-teman sekelasnya juga terheran-heran melihat kegilaan saya menghadapi situasi yang di alami anak saya saat itu.
Ceritanya begitini, suatu saat anak saya pergi ke sekolahnya untuk mengikuti pelajaran ekstra yaitu Paduan Suara Sekolah. Setelah mereka berlatih dengan tekun tiba saatnya makan siang di sekitar pertokoan Kemang Pratama. Selesai makan anak saya dan teman-teman sekelasnya kembali melanjutkan latihan Paduan Suara Sekolah. Dalam perjalanan ternyata semua anak-anak harus melompat got atau saluran air yang ada di depan Ruko yang saat itu kondisi basah dan licin.
Semua anak-anak berhasil melompat dan mendarat keseberang got dengan sempurna. Giliran anak saya melompat, ternyata tidak mendarat dengan sempurna dan menyebabkan tulang kaki depannya terbentur batu dan menangis menjerit melihat darah yang muncrat keluar dari kaki anak saya saya persisnya dibawah lutut.
Kepanikan terjadi dalam diri semua anak-anak sambil kebingungan dan menelpon kerumah dan diterima oleh Mama anak saya. Suara gelisah dan spontan emosi keluar dari mulut mama anak saya.
Tiba saatnya temen-temen anak saya menelpon saya sambil berkata: "… Ini papanya Thalia.." Saya jawab "Betul" ini siapa ya… Ini temen Thalia sekolah Om, barusan Thalia loncat nyeberang got terus gak sampai dan jatuh kakinya bolong". Dengan santainya saya menjawab :" ooo itu ma biasa terjadi. Sekarang Thalia dimana". Temannya menjawab :"Sudah dibawah ke Rumah sakit di ruang UGD." Bagus dong kalau udah di rumah sakit pasti aman saya jawab lagi. Anak-anak santai aja ya nanti Om kesana. Dalam perjalanan saya masih mampir beli es kerim Medan hahaha. Anak lagi di UGD saya dengan santainya makan es kerim dulu hehe. Karena yang saya pikirkan dalam pikiran saya bahwa anak saya sudah berada di tempat yang benar.
Sesampainya di Rumah sakit saya langsung ke ruangan UGD dan semua temen-temen anak saya beresedih dan anak saya menangis tersedu-sedu. Saya pun menunjukkan muka yang berseri-seri dan gembira menyapa semua anak-anak dan langsung tertawa di depan anak saya sambil berkata, idih udah gede segitu aja masak nangis. Emang tadinya mau ngapain sih ke sekolah semua. Saya menyapa anak saya dan semua temen-temennya. Mau latihan paduan suara Om buat pertandingan jawab mereka. O ya emang pada pernah jadi juara di pertandingan paduan suara. Jawab sebagian anak-anak Pernah Om. Oke sekarang Om ingin semua kalian membayangkan sedang diatas panggung mendengarkan pengumuman juara Paduan Suara dan ternyata Team Paduan Suara Kalian menang. Bagaimana reaksi tepuk tangan penonton dan teman-teman sekolahan termasuk adek-adek semua. Nah… mulailah mereka tersenyum membayangkan kata-kata saya kedalam pikiran mereka. Termasuk anak sayapun mulai tersenyum melihat tingkah saya kepada mereka. Sambil saya bercerita kepada mereka dokterpun dengan sempurna menyelesaikan pekerjaannya untuk merawat kaki anak saya.
Beberapa hari kemudian anak saya cerita kepada saya bahwa mereka salut dengan kesabaran saya memperlakukan situasi itu. Teman anak saya sampaikan bahwa sangat bertolak belakang dengan respon mama anak saya. Dengan bangga anak saya berkata papaku sudah belajar Hypnosis dan NLP yang mengelola pikiran itu lo.
Untuk itu kelola pikiran kita dengan positif, jangan terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi seperti yang kita pikirkan. Terutama ketika terjadi permasalahan orang lain. Jika perasaan kita disakiti, mereka berusaha memancing emosi kita, kita tidak perlu menambah beban pikiran kita. Untuk apa memikirkan semua itu, sementare merekapun tidak peduli dengan kita. Tindakan berfikir seperti ini hanya buang-buang energy kita. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak bisa kita rubah, tapi berusahalah selalu memberikan respon yang positif dan menyenangkan terhadap semua masalah sehingga hidup kita selalu bahagia hehehe….
Salam
Julianus Ginting

