Coba saya tanya dulu bisakah kamu menyebutkan berapa kali jantungmu berdetak dalam 15 detik terakhir tanpa memegang nadi atau dada? Saya sendiri, ketika pertama kali mencoba ini, kagum betapa buruknya tebakan saya. Aneh rasanya, sesuatu yang berdetak hanya beberapa sentimeter dari kesadaran saya sendiri, ternyata begitu asing.
Dari situ saya mulai penasaran dengan satu hal yang jarang dibicarakan kita punya lebih dari lima indra. Selain penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba, ada satu indra diam-diam yang bekerja sepanjang waktu membaca detak jantung, ritme napas, tekanan di usus, suhu tubuh, rasa lapar. Indra ini disebut interoception, dan semakin saya pelajari, semakin saya sadar betapa ia mengubah cara saya memandang hubungan antara tubuh dan pikiran.
Pusat pemrosesannya ada di sebuah bagian otak bernama insula lipatan korteks yang terselip di antara lobus temporal dan frontal. Saya membayangkannya seperti stasiun penerima sinyal mentah dari organ tubuh mengalir masuk lewat batang otak, singgah dulu di insula posterior sebagai peta kasar kondisi fisiologis, lalu diteruskan ke insula anterior. Di titik itulah, menurut saya bagian paling menarik terjadi sinyal murni tubuh diubah menjadi sesuatu yang kita kenali sebagai emosi.
Semakin saya renungkan, semakin saya teringat gagasan Antonio Damasio soal somatic marker hypothesis. Damasio berpendapat bahwa keputusan-keputusan yang kita anggap murni rasional sebenarnya sering dipandu lebih dulu oleh sinyal tubuh. Sebelum pikiran sempat menyusun argumen logis, tubuh sudah lebih dulu "berbisik" lewat rasa tidak nyaman di perut, degup jantung yang berubah, atau ketegangan di dada. Saya jadi bertanya-tanya berapa banyak keputusan dalam hidup saya yang sebenarnya sudah "diputuskan" tubuh, jauh sebelum saya sadar sedang berpikir?
Tapi sistem ini tidak selalu bekerja rapi. Pada orang dengan kecemasan, sinyal tubuh sering dibaca berlebihan detak jantung yang sedikit lebih cepat, yang sebenarnya wajar setelah naik tangga atau minum kopi, bisa langsung ditafsirkan otak sebagai tanda bahaya, dan dari situ spiral panik dimulai. Di ujung yang lain ada kondisi bernama alexithymia, di mana seseorang justru kesulitan mengenali sinyal tubuhnya sendiri sebagai emosi ada sesuatu yang terasa, tapi tidak bisa diterjemahkan jadi kata "aku sedih" atau "aku marah". Saya melihat dua kondisi ini seperti dua ujung dari kemampuan yang sama: satu terlalu peka, satu lagi terlalu tumpul.
Yang membuat saya semakin yakin topik ini penting untuk diangkat interoception bukan cuma urusan klinis. Riset neuroimaging pada praktisi meditasi menunjukkan peningkatan aktivitas insula dan akurasi interoceptive yang lebih tinggi memberi saya alasan untuk percaya bahwa body-scan meditation bukan sekadar jargon spiritual, melainkan latihan yang benar-benar mengasah kepekaan pada sinyal tubuh. Dan menariknya lagi, orang-orang yang harus mengambil keputusan cepat dan intuitif atlet, dokter di ruang gawat darurat, trader sering menunjukkan interoceptive accuracy yang tinggi. Seolah tubuh menyimpan informasi berharga jauh sebelum informasi itu sempat diproses secara sadar dan verbal.
Saya menutup renungan ini dengan satu hal yang terus saya pikirkan kita terbiasa menganggap "diri" sebagai sesuatu yang terjadi di kepala pikiran, memori, kesadaran. Tapi interoception mengingatkan saya bahwa sebagian besar dari apa yang saya sebut "perasaan" sebenarnya adalah interpretasi otak atas sinyal yang terus-menerus dikirim tubuh saya sendiri. Dan mungkin, menjadi lebih peka pada sinyal ini bukan hanya soal kesehatan mental tapi soal mengenal ulang, di mana sebenarnya batas antara "saya" dan "tubuh saya" berada.

