Tio tahu dia adalah masalah bagi ruang rapat itu.
Setiap kali manajer pemasaran memaparkan data kuartalan, kaki Tio akan mengetuk-ngetuk lantai. Tangannya tidak bisa diam, memainkan pulpen bolak-balik sampai berbunyi klik-klik-klik. Matanya kerap berpindah dari layar proyektor ke burung yang hinggap di jendela, lalu ke retakan kecil di langit-langit ruang rapat.
"Tio, fokus," tegur sang manajer, wajahnya berkerut masai. "Kamu ini tidak pernah bisa tenang dan mendengarkan ya? Coba tiru yang lain."
Tio menunduk. Rasa hangat yang akrab sekaligus memalukan menjalar di tengkuknya. Dia sudah mencoba. Sungguh. Dia sudah memaksa otaknya duduk diam, mencatat baris demi baris angka. Namun, semakin dia dipaksa "normal", isi kepalanya justru semakin bising dan mengabur, seperti siaran televisi yang kehilangan sinyal. Bagi ruang rapat itu, Tio adalah mesin yang cacat.
Setelah rapat bubar dengan jalan buntu karena tim kehilangan ide segar untuk kampanye digital bulan depan Rian, sang kepala desainer kreatif, menghampiri meja Tio.
Rian tidak membawa teguran. Ia hanya meletakkan sebuah benda di atas meja Tio: selembar kertas kalkir kosong yang sangat besar dan sekotak spidol warna-warni.
"Tio," kata Rian santai. "Besok waktu rapat, kamu tidak usah duduk di kursi. Berdirilah di sudut ruangan dekat papan tulis. Dan tolong, jangan catat apa yang kami katakan."
Tio mengernyit bingung. "Maksudnya?"
"Tulis atau gambar apa saja yang melintas di kepalamu saat mendengar kami bicara. Jangan ditahan. Biarkan tanganmu bergerak," ujar Rian sambil tersenyum, lalu berlalu.
Keesokan harinya, rapat lanjutan dimulai. Tio berdiri di pojok belakang, memegang spidol merah. Ketika manajer mulai mengeluhkan masalah retensi audiens yang turun, alih-alih memaksa dirinya duduk diam menatap angka, Tio membiarkan dorongan impulsifnya bekerja.
Tangannya mulai menari di atas kertas kalkir. Saat manajer menyebut kata "bosan", Tio menggambar gurita berwajah lesu. Saat diskusi beralih ke strategi media sosial yang terlalu kaku, Tio menarik garis-garis zigzag yang kacau, yang kemudian menghubungkan gurita itu dengan ide-ide acak yang sempat terlontar sekilas di rapat kemarin ide yang dilupakan orang lain, tapi terekam di kepala Tio yang hiperaktif.
Di akhir rapat, Tio bernapas lega. Kakinya tidak pegal karena menahan dorongan untuk bergerak, dan kepalanya terasa jernih.
"Oke, kita masih belum punya konsep utama," desah sang manajer pasrah.
Rian berdeham, lalu menunjuk ke sudut ruangan. "Kurasa kita punya. Lihat ke dinding belakang."
Semua orang menoleh. Di atas kertas kalkir besar itu, bukan lagi coretan tanpa arti. Tio telah membuat mind map raksasa berbentuk visual yang luar biasa kaya. Sketsa gurita lesu itu bertransformasi menjadi konsep kampanye interaktif: "Don't Be a Bored Octopus" sebuah metafora unik tentang kejenuhan digital masyarakat urban, lengkap dengan alur visual bagaimana aplikasi mereka bisa menjadi solusinya.
Itu adalah lompatan ide lateral yang tidak akan pernah lahir dari diskusi linier yang kaku. Manajer itu terpaku, menatap bolak-balik antara kertas penuh warna itu dan Tio. "Ini… ini brilian. Bagaimana kamu bisa memikirkan korelasi sejauh ini, Tio?" Tio tersenyum canggung. "Otak saya memang suka melompat-lompat, Pak."
Di dalam kepala seorang dengan ADHD, dunia tidak berputar dalam ketukan tempo 4/4 yang ajeg. Dunia mereka adalah simfoni jazz yang liar, penuh improvisasi, ketukan tak terduga, dan perpindahan melodi yang acak. Seringkali, sistem di sekitar kita mulai dari bangku sekolah hingga kubikal kerja memaksa musik jazz ini diredam, digubah ulang agar terdengar seperti mars militer yang seragam dan patuh. Pertanyaannya, Apakah ADHD adalah sebuah "kerusakan" yang harus dipaksa normal, ataukah ia sekadar variasi cara kerja otak yang tidak perlu diseragamkan?
Secara neurosains, sirkuit otak ADHD memang memiliki cetak biru yang berbeda, terutama dalam pengelolaan dopamin dan fungsi eksekutif. Namun, memaksakan otak ADHD untuk berfungsi persis seperti otak neurotipikal sering kali berujung pada keletihan mental (burnout) dan hilangnya potensi unik mereka, seperti hiperfokus dan kreativitas yang melompat melampaui batas konvensional. ADHD tidak perlu secara serius dipaksa berbeda dari dirinya sendiri, biarkan mereka berlompat lebih banyak …

