Selama bertahun-tahun saya kira itu cuma kebiasaan. Ternyata itu justru inti dari cara otak bekerja dan penjelasannya membawa saya ke tempat yang tidak saya duga kembali ke Freud. Maret 2026, jurnal Entropy menerbitkan paper dari Erik Stänicke dan koleganya di Universitas Oslo yang isinya cukup provokatif untuk kalangan neurosains, mereka bilang teori psikoanalisis Freud, proyeksi, transferensi, wishfulfillment semua istilah yang dulu dianggap terlalu subjektif untuk disebut sains punya kemiripan struktural dengan teori paling dominan di neurosains kognitif hari ini yaitu predictive processing.
Predictive processing sendiri singkatnya menjelaskan kalau otak bukan alat pasif yang menerima data dari indera lalu mengolahnya. Otak itu mesin prediksi. Ia terus-menerus menyusun tebakan tentang apa yang akan terjadi berikutnya lalu membandingkan tebakan itu dengan apa yang benar-benar masuk lewat mata, telinga, kulit. Yang kita sebut persepsi sebagian besar sebenarnya bukan dunia luar murni tapi tebakan otak yang dikoreksi sedikit demi sedikit oleh kenyataan. Karl Friston salah satu tokoh besar di balik teori ini bahkan merumuskannya jadi prinsip matematis. Otak berusaha meminimalkan prediction error selisih antara yang diharapkan dan yang terjadi.
Freud masuk lagi lewat pintu belakang. Stänicke dan timnya menunjukkan bahwa konsep proyeksi dalam psikoanalisis cara kita melempar keinginan, ketakutan, atau luka batin ke orang atau situasi di luar diri itu strukturnya persis sama dengan cara otak memproyeksikan prediksinya ke dunia sensorik. Transferensi, gejala klasik di ruang terapi di mana pasien memperlakukan terapisnya seolah dia figur penting dari masa lalu, dibaca sebagai model prediktif lama yang dipaksakan ke situasi baru. Bahkan mimpi yang oleh Freud disebut jalan raya menuju alam bawah sadar oleh peneliti seperti Mark Solms dijelaskan ulang sebagai otak yang menjalankan model prediksinya tanpa gangguan input sensorik nyata.
Yang menarik para penulis paper ini hati-hati sekali menegaskan mereka tidak sedang bilang "Freud benar". Mereka bilang dua kerangka yang lahir dari dunia yang sama sekali berbeda, psikoanalisis yang berangkat dari pengalaman subjektif di ruang konsultasi dan neurosains komputasional yang berangkat dari model matematis dan pencitraan otak kebetulan sampai pada deskripsi yang mirip soal cara kerja pikiran hanya dengan bahasa dan tingkat analisis yang berbeda.
Bukan di detail teknis predictive codingnya. Freud itu ilmuwan yang nasibnya aneh. Selama beberapa dekade dia diangkat jadi semacam nabi psikologi populer, ditempel ke mana-mana, iklan, film, obrolan warkop soal bawah sadar dan trauma masa kecil. Lalu generasi berikutnya membongkarnya habis-habisan, teorinya disebut tidak falsifiable, metodenya dianggap tidak ilmiah, obsesinya soal seksualitas dikritik berlebihan. Psikologi akademik modern nyaris membuang nama Freud sama sekali dari kurikulum serius. Dan sekarang, seratus tahun lebih setelah dia menulis soal proyeksi dan hasrat yang tak terucap, neurosain bidang yang paling percaya diri soal dirinya sendiri sebagai sains "keras" menemukan gaung dari gagasan itu lewat jalur yang sama sekali tidak disengaja.
Ini bukan cerita tentang Freud dibenarkan. Ini cerita tentang bagaimana sebuah gagasan bisa kehilangan kredibilitasnya bukan karena isinya salah tapi karena bahasanya belum ketemu kerangka yang bisa membuktikannya. Freud tidak salah menebak bahwa pikiran manusia banyak bekerja lewat proyeksi dan pengulangan pola lama. Yang dia tidak punya adalah matematika dan pencitraan otak untuk menunjukkan mekanismenya. Seratus tahun kemudian, alat itu baru datang dan kebetulan atau mungkin tidak kebetulan mengonfirmasi bentuk dari apa yang dulu cuma bisa dia amati dari sofa terapi.
Ada semacam pelajaran murah hati di sini soal cara kita menilai gagasan lama yang dianggap "sudah dibantah sains". Kadang yang dibantah bukan intuisinya tapi cuma kerangka pembuktiannya saat itu belum cukup. Kita cepat sekali membuang sesuatu begitu label "tidak ilmiah" ditempelkan, padahal batas antara belum terbukti dan salah itu jauh lebih tipis dari yang kita kira.
Tapi ada juga sisi yang tidak nyaman dari cerita ini yang menurut saya jarang disebut. Kalau otak manusia memang cuma mesin prediksi yang terus memproyeksikan model lama ke pengalaman baru berarti sebagian besar dari apa yang saya rasakan sebagai pengalaman langsung, cinta pertama yang terasa unik, firasat yang terasa personal, ketakutan yang terasa datang dari intuisi murni sebenarnya cuma otak manusia menjalankan template lama dan menyebutnya baru. Setiap kali saya kira saya sedang mengenal seseorang dengan cara segar, ada kemungkinan besar saya cuma memproyeksikan pola dari relasi-relasi sebelumnya dan menyalahartikan keakuratan prediksi itu sebagai keintiman.
Saya tidak tahu harus merasa lega atau justru sedikit kehilangan sesuatu ketika membaca itu. Lega, karena berarti ada penjelasan untuk kenapa saya bisa meraih saklar lampu di kegelapan tanpa berpikir. Kehilangan, karena berarti sebagian dari apa yang saya kira paling otentik dalam diri saya, reaksi spontan, insting, rasa cinta yang langsung terasa benar mungkin cuma proyeksi statistik dari pengalaman lama yang dijalankan otak dengan sangat meyakinkan.
Freud pernah menulis bahwa tujuan psikoanalisis adalah membuat yang tidak sadar menjadi sadar. Barangkali seratus tahun kemudian, tujuan itu belum berubah cuma alatnya yang berganti, dari sofa terapis ke persamaan matematis tentang prediction error.

