Dua kalimat berhadapan di sampul buku Yosef Grodzinsky. Chomsky menyebut model bahasa besar sebagai janji palsu, sedangkan Geoffrey Hinton menyatakan bahwa jaringan saraf jauh lebih baik memproses bahasa daripada apa pun yang pernah dihasilkan Mazhab Chomsky. Grodzinsky sendiri bertanya siapa yang benar dan bagaimana kita bisa tahu. Bagian kedua pertanyaan itu lebih penting daripada yang pertama, karena yang diperselisihkan sesungguhnya adalah syarat sesuatu boleh disebut teori tentang bahasa.
Pengantar kuliah Grodzinsky di Tel Aviv, yang bersumber dari bukunya memotret latar sengketanya. Model bahasa besar dianggap lulus uji Turing dengan gemilang, sehingga minat pada pendekatan simbolik yang dipraktikkan para linguis dan neurolinguis teoretis menurun. Hinton dalam Romanes Lecture di Oxford tahun 2024, menyatakan bahwa Chomsky pernah berjasa besar tetapi masanya sudah lewat. Perhatikan kata yang dipakai masanya. Itu argumen tentang zaman bukan tentang bukti.
Dalam sains yang berbasis prediksi, mesin yang menebak kata berikutnya dengan akurasi luar biasa memegang jenis bukti yang jarang dimiliki linguistik teoretis. Penggugat juga punya satu amunisi yang tidak boleh diabaikan. Dari yang saya ketahui, riset tentang bahasa mustahil (misalnya yang diterbitkan Kallini dan kawan-kawan pada 2024) menemukan bahwa model bahasa lebih sulit mempelajari bahasa buatan yang melanggar pola bahasa manusia. Bila itu benar, tuduhan bahwa model ini sepenuhnya tak terkendala tidak lagi bisa diucapkan dengan ringan.
Namun penolakan Grodzinsky tidak berhenti pada soal performa. Ia berargumen bahwa model bahasa besar hanyalah mesin yang cukup baik direkayasa untuk tugas bahasa tertentu, tetapi tidak bisa dipandang sebagai teori tentang kapasitas bahasa manusia dan bahwa secara konseptual model-model itu adalah perangkat tak terkendala. Ia juga menyatakan bahwa ketika diuji dengan tolok ukur ilmiah yang serius, model-model itu gagal telak.
Perumpamaan paling tajam untuk dalil ini adalah penerbangan. Pesawat terbang jauh lebih cepat daripada burung mana pun tetapi tidak ada orang yang mengklaim bahwa rancangan mesin jet adalah teori tentang bagaimana sayap burung bekerja. Teori yang layak tentang bahasa manusia harus mampu mengatakan bahasa macam apa yang tidak mungkin dimiliki manusia. Perangkat yang bisa meniru apa pun tidak melarang apa pun dan teori yang tidak melarang apa pun tidak mengatakan apa pun. Temuan tentang bahasa mustahil tadi menjadi jawaban parsial tetapi tuntutannya tetap berdiri sulit dipelajari belum berarti dibatasi dengan cara yang sama seperti otak.
Buku ini mempertanyakan apakah otak kita satu jaringan raksasa atau tersusun dari modul-modul dengan bahasa sebagai salah satunya, lalu menghadapkan kedua pendekatan itu pada catatan rekayasa, linguistik, dan neurologis. Tradisi neurolinguistik punya bahan untuk pertanyaan ini. Pada banyak pasien afasia, kerusakan otak menghancurkan bahasa sementara kemampuan berpikir lain relatif utuh dan sebaliknya. Pola ini sulit dijelaskan bila bahasa hanyalah sisi lain dari jaringan umum.
Saksi ini juga harus diperiksa dengan jujur. Tingkat modularitas bahasa di otak masih diperdebatkan, dan pola kerusakan jarang serapi di buku teks. Persamaan antara otak dan model bahasa besar yaitu sama-sama berupa jaringan, justru persamaan paling dangkal. Yang menentukan adalah bagaimana jaringan itu diorganisasi.
Posisi Grodzinsky berpijak pada linguistik kontemporer yang didirikan dan diilhami Chomsky, hipotesisnya sendiri tentang peran area Broca dalam sintaksis pun termasuk yang diperdebatkan. Standar yang sama harus berlaku di kedua sisi. Bila kegagalan model pada tolok ukur dihitung sebagai kelemahan, kegagalan teori pada data klinis juga harus dihitung.
Perkara ini menyingkap sesuatu yang lebih besar daripada nasib Chomsky. Model bahasa besar memisahkan prediksi dari pemahaman dan keberhasilan rekayasa menurunkan harga ketidaktahuan. Kita kini bisa memiliki mesin yang berbahasa tanpa memiliki teori mengapa bahasa mungkin. Hal itu mengubah apa yang dianggap cukup.
Linguistik mungkin kalah di pasar tanpa pernah kalah dalam argumen, dan model bahasa mungkin menang di pasar tanpa pernah memenangkan penjelasan. Bahayanya bukan karena mesin kini bisa bicara. Bahayanya adalah kita berhenti menuntut dari apa pun yang pandai bicara, termasuk dari diri kita sendiri, penjelasan tentang mengapa ia bisa.

