IBHCenter

Indonesian Board of Hypnotherapy Official Website

  • Home
  • Blog
  • Member
    • Certified Hypnotist
    • Certified Hypnotherapist
    • Trainer
  • Jadwal Pelatihan
  • Renewal
  • login

Gagal Fokus, Doomscrolling Tanpa Jeda

June 2, 2026 by Rifqah Ramdhana Jufri

Menggunakan pisau analisis dari salah satu tokoh neurosains kognitif paling terkemuka di dunia, yaitu Dr. Michael Merzenich (Profesor Emeritus di UC San Francisco, yang dikenal secara luas sebagai bapak neuroplastisitas. Merzenich adalah ilmuwan yang membuktikan bahwa otak manusia tidak kaku, melainkan sangat plastis (neuroplasticity) artinya, struktur dan sirkuit otak terus berubah dan mendesain ulang dirinya berdasarkan apa yang kita lakukan secara berulang-ulang. Salah satu hukum dasar neuroplastisitas dari Merzenich adalah sirkuit otak yang terus-menerus digunakan akan semakin kuat, sedangkan sirkuit yang diabaikan akan melemah dan akhirnya "terpangkas" (synaptic pruning). Otak adalah organ yang sangat efisien, ia selalu beradaptasi dengan lingkungan tempat ia berada.

Ketika remaja menghabiskan waktu berjam-jam untuk doomscrolling (terus-menerus menggulir layar melihat berita buruk, gosip, atau video TikTok berdurasi 15 detik), mereka sedang melatih otak mereka untuk memproses informasi secara superfisial dangkal dan cepat. Setiap kali jempol berpindah ke konten baru, otak melepaskan sedikit dopamin. Otak remaja mendesain ulang sirkuitnya untuk menjadi expert (ahli) dalam memindai informasi cepat, namun akibatnya, sirkuit yang digunakan untuk membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru yang panjang menjadi melemah karena jarang digunakan.

Merzenich sering memperingatkan dalam berbagai artikel dan bukunya bahwa teknologi modern modern berpotensi menciptakan "degradasi kognitif massal" jika tidak dikendalikan. Mengapa? Karena argumentasi media sosial adalah kebalikan dari apa yang dibutuhkan otak untuk membangun deep focus. Deep Focus membutuhkan delayed gratification atau kepuasan tertunda). Otak harus bekerja keras dulu (membaca, memahami logika rumit) sebelum akhirnya mendapatkan kepuasan berupa pemahaman. Doomscrolling menawarkan kepuasan isntan tanpa usaha, otak langsung disuapi stimulasi visual dan emosional (marah, sedih, tertawa). Menurut prinsip plastisitas Merzenich, otak remaja sedang berada pada puncak masa perkembangannya. Ketika mereka dihadapkan pada paparan stimulasi instan ini setiap hari, ambang batas (threshold) otak mereka untuk merasa "bosan" menjadi sangat rendah. Akibatnya, ketika dihadapkan pada tugas sekolah/kuliah yang membutuhkan konsentrasi lebih dari 10 menit, otak mereka akan mengalami withdrawal (gejala sakau stimulasi) dan langsung mencari pelarian ke gadget.

Lalu mengapa remaja lebih suka doomscrolling (mencari berita buruk/sensasional) daripada konten yang tenang? Di sinilah plastisitas otak bertemu dengan mekanisme bertahan hidup purba. Otak kita secara evolusioner memiliki negativity bias, kita dirancang untuk lebih memperhatikan ancaman atau berita buruk demi keselamatan diri. Ketika algoritma menangkap kecenderungan ini, remaja disajikan konten-konten yang memicu kecemasan secara beruntun. Dr. Merzenich menjelaskan bahwa pembelajaran/perubahan sikit otak terjadi paling cepat ketika otak berada dalam kondisi waspada (state of high alertness). Saat remaja doomscrolling berita buruk/kontroversi, amigdala mereka aktif (waspada/cemas). Kondisi emosional yang intens ini justru mempercepat neuroplastisitas yang salah arah. Otak mereka dengan sangat cepat mengunci kebiasaan scrolling ini menjadi sebuah kecanduan struktural. Otak mereka belajar untuk "gelisah jika tidak melihat informasi baru".

Kemampuan untuk memilah mana informasi yang penting dan mana yang harus diabaikan disebut sebagai cognitive control, yang berpusat di prefrontal cortex. Merzenich menekankan bahwa kemampuan ini tidak tumbuh otomatis, melainkan harus dilatih. Di era doomscrolling, remaja tidak perlu menyaring informasi, algoritmalah yang memilihkan untuk mereka. Otak remaja menjadi pasif. Akibatnya, kemampuan mengeksekusi tugas (executive function), merencanakan masa depan, dan mempertahankan atensi mental menjadi lumpuh.

Menggunakan kacamata Dr. Michael Merzenich, kita bisa membawa argumen ini ke tingkat yang sangat kritis bahwa masalah berkurangnya fokus pada remaja bukanlah masalah "malas" atau "kurang niat belajar", melainkan masalah perubahan fisik pada otak (physical reshaping of the brain). Remaja saat ini sedang hidup dalam sebuah eksperimen neurosains terbesar dalam sejarah manusia, di mana otak mereka dipaksa beradaptasi dengan lingkungan digital yang sangat cepat. Mengkritik remaja karena tidak bisa fokus sama saja dengan mengkritik seseorang yang ototnya mengecil karena dipaksa duduk di kursi roda selama bertahun-tahun. Otak mereka hanya merespons apa yang melatihnya setiap hari.

 

Filed Under: Hypnotherapy

In memoriam Yan Nurindra

Certified Instructor of The Month May-2026

Lanny Kuswandi
No Anggota: 03954

lihat Profile

//Artikel Terbaru

  • Gagal Fokus, Doomscrolling Tanpa Jeda
  • Menghindari Perceraian Makanya Tidak Menikah “Fenomena Vicarious Trauma Marriage Kalangan Remaja”
  • FOMO, Cyberbullying, dan Social Rejection Kalangan Remaja
  • Mengenali Potensi Diri
  • MEKI RAHASIA INTI EKSEKUSI TANPA TERKECUALI

//Jadwal Pelatihan

Basic Hypnotherapy

2-Jun-2026 - Bandung

Deden Rizwan R, S. Pd. I, CI. IBH

Detail

Professional Hypnotherapy Workshop

2-Jun-2026 - Jakarta

DR.(H.C) ARIS BUDIMAN, CHt.,CPHt.,CMHt, CI, CMTHt.

Detail

Advanced Hypnotherapy

2-Jun-2026 - Tangerang

Bernartdous Sugiharto, S.S.T, CH, CHt, CPHt, CMH, CI, C.ESTher, CT. MTH, CT. NLMOR, CT NNLP, CT. PBL, CT. HLC

Detail

Professional Hypnotherapy Workshop

3-Jun-2026 - Semarang

Ilyas Afsoh

Detail

Jadwal Lengkap

// News

// Our Network

logo-nca logo-nnlp

// The Indonesian Board of Hypnotherapy

Plaza Basmar Lantai 3
Jl. Mampang Prapatan Raya 106 Jakarta Selatan
Whatsapp: 0813-8100-0981 (Mey)
IBH is managed by Integra

© Copyright 2014 IBH Center · All Rights Reserved · Powered by Indonesia9 ·