Banyak orang tua baru menyadari adanya tanda-tanda Autism Spectrum Disorder (ASD) ketika anak berusia 3–4 tahun. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa gejala ASD sebenarnya sudah dapat mulai terlihat sejak usia 12–24 bulan, bahkan beberapa tanda awal dapat muncul sebelum usia 12 bulan. Sayangnya, banyak tanda tersebut sering dianggap sebagai "nanti juga bisa sendiri", sehingga kesempatan emas untuk mendapatkan intervensi dini menjadi terlewat. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa deteksi dini bukan bertujuan memberi label kepada anak, melainkan membuka kesempatan agar anak memperoleh dukungan yang tepat sedini mungkin.
Salah satu karakteristik utama ASD adalah adanya perbedaan dalam komunikasi sosial, interaksi, dan munculnya perilaku yang berulang atau minat yang sangat terbatas. Berdasarkan berbagai studi longitudinal, beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Anak jarang melakukan kontak mata.
- Tidak merespons ketika namanya dipanggil secara konsisten.
- Jarang menunjuk untuk menunjukkan sesuatu yang menarik.
- Tidak berbagi perhatian atau kesenangan dengan orang lain (joint attention).
- Terlambat berbicara atau kehilangan kemampuan bicara yang sebelumnya sudah dimiliki.
- Lebih tertarik bermain sendiri dibandingkan berinteraksi dengan orang lain.
- Melakukan gerakan berulang seperti mengepakkan tangan, memutar benda, atau menyusun benda secara berulang.
- Memiliki respons sensorik yang sangat kuat atau justru sangat rendah terhadap suara, cahaya, tekstur, maupun makanan tertentu.
Penelitian juga menunjukkan bahwa tidak semua anak ASD memiliki gejala yang sama. Ada anak yang mengalami keterlambatan bicara cukup berat, sementara anak lain justru sudah mampu berbicara tetapi mengalami kesulitan dalam memahami komunikasi sosial. Oleh karena itu, para peneliti menekankan bahwa kombinasi beberapa tanda perkembangan lebih bermakna dibandingkan hanya melihat satu gejala saja. Orang tua juga perlu memperhatikan apabila anak mengalami regresi perkembangan, misalnya sebelumnya sudah bisa mengucapkan beberapa kata atau sering melakukan kontak mata, kemudian kemampuan tersebut berkurang atau menghilang. Kondisi seperti ini perlu segera dievaluasi oleh tenaga profesional.
Berbagai organisasi kesehatan dunia merekomendasikan skrining perkembangan dan skrining ASD pada usia 18 bulan dan 24 bulan sebagai bagian dari pemantauan tumbuh kembang anak. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa alat skrining seperti M-CHAT-R/F dapat membantu mengidentifikasi anak yang berisiko ASD sehingga mereka dapat memperoleh evaluasi lebih lanjut dan intervensi lebih awal. Penting dipahami bahwa skrining bukan diagnosis, tetapi merupakan langkah awal untuk mengetahui apakah anak memerlukan pemeriksaan yang lebih komprehensif.
Kabar baiknya, penelitian selama lebih dari dua dekade menunjukkan bahwa intervensi dini mampu memberikan dampak positif terhadap kemampuan komunikasi, bahasa, interaksi sosial, perilaku adaptif, dan kemandirian anak. Semakin cepat anak mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhannya, semakin besar peluang perkembangan yang dapat dicapai karena otak anak pada usia dini masih berada dalam fase neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk belajar dan membentuk koneksi baru dengan sangat cepat. Oleh karena itu, orang tua tidak perlu menunggu hingga anak "benar-benar terlambat". Ketika muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan, konsultasi sejak dini merupakan langkah terbaik.
Di Allia Kids Lumajang, kami percaya bahwa deteksi dini adalah investasi terbaik bagi masa depan anak. Melalui asesmen tumbuh kembang, observasi perilaku, serta pendampingan yang tepat, kami membantu orang tua memahami kebutuhan unik setiap anak. Jika Ayah dan Bunda mulai melihat tanda-tanda seperti speech delay, kurang kontak mata, tidak merespons saat dipanggil, kesulitan berinteraksi sosial, atau perilaku berulang, jangan menunggu hingga masalah menjadi lebih kompleks. Dapatkan informasi dan konsultasi lebih lanjut melalui website kami di Allia Kids.

