Menjadi anggota geng motor yang ugal-ugalan, terlibat tawuran, hingga melakukan kekerasan di jalanan sering kali dicap masyarakat sebagai produk dari salah pergaulan, mallpraktik pengasuhan dan cap anomaly lainnya Namun, jika kita membedah fenomena ini menggunakan analisis neurosains, bergabungnya remaja ke dalam geng motor ekstrem adalah manifestasi nyata dari otak yang sedang haus akan stimulasi dan validasi, yang sayangnya menemukan wadah kanalisasi yang salah. Mari kita menggunakan analisis dari Dr. Laurence Steinberg, salah satu pakar neurosains perkembangan remaja terkemuka di dunia (Director of the Developmental Psychology Lab di Temple University dan penulis buku Age of Opportunity).
Steinberg terkenal dengan "Dual Systems Model", sebuah teori yang menjelaskan mengapa remaja sangat rentan mengambil risiko ekstrem demi pengakuan sosial. Di bawah lampu jalanan kota yang temaram, sekelompok remaja memacu motornya tanpa helm, menerobos lampu merah, bahkan membawa senjata tajam. Bagi orang dewasa, perilaku ini adalah kegilaan yang tidak logis. Namun, bagi sistem saraf seorang remaja berusia 16 tahun, malam itu adalah puncak sirkuit penghargaan (reward system) yang bekerja maksimal dan aktif mencari pengakuan, kebutuhnannya di usia itu memang demikian
Mengapa remaja rela mempertaruhkan nyawa dan masa depan demi loyalitas kelompok yang destruktif? Jawabannya ada pada ketidakseimbangan perkembangan dua sistem utama di dalam otak mereka. Menurut Dr. Laurence Steinberg, otak remaja mengalami perkembangan yang tidak sinkron. Ada dua sirkuit utama yang berkembang dengan kecepatan berbeda. Sistem sosial emosional area yang memproses emosi, hadiah (reward), dan ancaman. Sistem ini menjadi sangat sensitif dan matang penuh selama masa pubertas akibat ledakan hormon seksual. Sistem ini diibaratkan seperti mesin mobil Ferrari yang sangat bertenaga. Kemudian system control kognitif di bagian depan otak yang bertugas merencanakan masa depan, menimbang risiko, dan mengerem impuls emosional.
Sayangnya, PFC baru akan matang sempurna di usia pertengahan 20-an. Saat mereka merajai jalanan, amigdala dan sirkuit dopamin mereka menyala terang-benderang. Mereka tahu tindakan itu berbahaya, tetapi sirkuit "rem" (PFC) di otak mereka belum cukup kuat untuk menghentikan dorongan adrenalin tersebut. Salah satu eksperimen paling terkenal dari Steinberg membuktikan bahwa kehadiran teman sebaya melipatgandakan kecenderungan remaja untuk mengambil risiko. Dalam pemindaian fMRI, ketika remaja bermain game simulasi berkendara sendirian, sirkuit pencari risiko mereka bekerja normal seperti orang dewasa. Namun, ketika mereka tahu ada teman mereka yang sedang menonton di ruangan sebelah, pusat penghargaan di otak mereka langsung banjir dopamin, meskipun teman-teman tersebut tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Geng motor adalah tindkaan sempurna untuk The Peer Effect. Di dalam geng, penerimaan kelompok (social acceptance) adalah mata uang tertinggi. Remaja tidak ugal-ugalan sendirian mereka melakukannya untuk ditonton oleh kelompoknya. Raungan knalpot, tantangan tawuran, dan aksi nekat adalah cara otak remaja berburu "dopamin kolektif". Pengakuan dari ketua geng atau sorak-sorai teman kelompok mengaktifkan sirkuit penghargaan di otak dengan intensitas yang jauh lebih kuat daripada nilai rapor yang bagus. Ketika remaja membaurkan diri terlalu dalam ke dalam geng motor, terjadi proses neuroplastisitas yang salah arah. Otak mereka mengalami desensitisasi (penurunan sensitivitas) terhadap rasa takut dan bahaya.
Aktivitas ekstrem yang awalnya memicu rasa takut (seperti dikejar polisi atau dikepung geng lawan), lama-kelamaan dianggap biasa oleh otak karena dilakukan berulang-ulang. Otak mengkalibrasi ulang ambang batas bahayanya. Akibatnya, untuk mendapatkan tingkat kepuasan yang sama, mereka harus melakukan aksi yang jauh lebih ekstrem dan brutal dari sebelumnya. Selain itu, sirkuit Default Mode Network (DMN) mereka yang mendefinisikan konsep diri terbajak. Identitas personal mereka melebur menjadi identitas kelompok. Ketika identitas kelompok sudah mengambil alih, empati terhadap kelompok luar (seperti pengendara jalan lain atau geng saingan) diredam oleh otak, memudahkan mereka melakukan tindakan kekerasan tanpa rasa bersalah.
Melalui kacamata Dr. Laurence Steinberg, kita disadarkan bahwa memenjarakan atau sekadar memarahi remaja geng motor tidak akan menyelesaikan akar masalah secara biologis. Otak mereka tidak butuh doktrin moralitas yang kaku saat sirkuit dopaminnya sedang sakau stimulasi. Solusinya adalah mengalihkan jalur sirkuit penghargaan (rewiring the reward pathway). Remaja-remaja ini membutuhkan wadah alternatif yang memiliki "level stimulasi, risiko, dan pengakuan sosial" yang setara dengan geng motor, tetapi dalam koridor yang positif.
Mengalihkan mereka ke klub balap motor resmi, olahraga ekstrem (seperti skateboarding atau panjat tebing), atau pelibatan dalam aksi kemanusiaan yang membutuhkan keberanian fisik, adalah cara neurosains menjinakkan mesin Ferrari di dalam kepala mereka. Otak mereka juga tidak nakal, mereka hanya sedang mencari di mana mereka bisa bersinar, lalu jalanan menawarkan itu lebih cepat daripada rumah atau sekolah mereka.

