Membahas fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dan cyberbullying melalui kacamata neurosains akan menjadi sangat tajam jika kita membedahnya menggunakan teori dari salah satu tokoh paling berpengaruh di bidang social cognitive neuroscience, yaitu Prof. Matthew Lieberman (Direktur Social Cognitive Neuroscience Lab di UCLA dan penulis buku berekstensi besar, Social, Why Our Brains Are Wired to Connect).
Sosial adalah kebutuhan primer yang setara dengan makanan sampai sini kita sepakat yah. Dalam pandangan evolusi klasik, kebutuhan primer manusia adalah makanan, air, dan tempat tinggal. Namun, Lieberman membalik logika ini melalui temuan neurosainsnya. Bagi mamalia terutama manusia, dan mencapai puncaknya pada fase remaja koneksi sosial adalah kebutuhan bertahan hidup (survival) yang paling utama.
Ketika remaja mengalami FOMO (melihat teman-temannya berkumpul tanpa dirinya di instagram story) atau mendapat komentar negatif di media sosial, otak mereka tidak membaca itu sebagai "ah, cuma dunia maya". Otak remaja membacanya sebagai ancaman kematian eksistensial. Secara evolusioner, terisolasi dari kelompok berarti "mati" karena tidak ada yang melindungi dari predator.
Salah satu kontribusi terbesar Lieberman (bersama rekannya Naomi Eisenberger) adalah eksperimen menggunakan fMRI (pemindai otak) yang disebut Cyberball Experiment. Dalam eksperimen ini, subjek bermain lempar bola virtual di komputer dengan dua orang lain (yang sebenarnya adalah program komputer). Di tengah permainan, kedua pemain virtual ini tiba-tiba berhenti melempar bola ke subjek dan hanya melempar bola di antara mereka berdua saja (pengucilan). Temuan fMRI-nya mengejutkan dunia sains. Saat dikucilkan, area otak bernama dACC (dorsal Anterior Cingulate Cortex) aktif dengan sangat kuat. ACC adalah area yang sama yang memproses rasa sakit fisik (physical pain distress), misalnya saat tangan seseorang teriris pisau atau kaki patah.
Analisis kasus remaja. Lieberman membuktikan secara empiris bahwa otak tidak bisa membedakan antara patah hati/sakit hati akibat cyberbullying dengan patah tulang secara fisik. Ketika orang dewasa berkata kepada remaja, "Halah, cuma komentar di medsos aja dimasukkan ke hati," orang dewasa tersebut tidak memahami neurobiologi. Bagi remaja yang otaknya sedang sangat sensitif terhadap penerimaan sosial cyberbullying dan FOMO memberikan penderitaan fisik yang nyata di dalam otak mereka.
Lieberman juga meneliti DMN (Default Mode Network), yaitu jaringan saraf yang aktif ketika otak kita sedang istirahat atau tidak memikirkan tugas spesifik (melamun, ngelamun santai). Lieberman menemukan bahwa setiap kali otak manusia memiliki waktu luang bahkan hanya sepersekian detik, DMN langsung otomatis aktif, dan fungsi utama DMN adalah memikirkan orang lain, hubungan sosial, dan posisi diri kita di mata orang lain. Pada remaja, DMN ini bekerja ekstra keras karena mereka sedang berada di fase mencari identitas (Who am I? dan Who am I to them?).
Di era digital, ruang "melamun" remaja telah digantikan oleh smartphone. Ketika mereka membuka HP saat senggang, DMN yang secara alami sudah haus akan informasi sosial langsung disuapi oleh algoritma media sosial. Jika yang mereka lihat adalah penolakan (cyberbullying) atau bukti bahwa mereka ditinggalkan (FOMO), DMN ini berputar menjadi pusaran kecemasan (rumination loop). Mereka terus-menerus memikirkan "Kenapa saya dihujat?" atau "Kenapa saya tidak diajak?", bahkan saat mereka mencoba tidur.
Jika kita mengaitkan analisis Lieberman ini dengan struktur otak remaja secara umum, kita melihat adanya mismatch (ketidakcocokan) biologis. Sistem limbik (sirkuit sosial & emosi). Sudah matang penuh dan sangat sensitif. Mereka sangat butuh pengakuan teman sebaya. Kemudian prefrontal cortex atau kendali emosi yang belum matang sempurna (baru matang di usia pertengahan 20-an).
Jadi, ketika cyberbullying memicu rasa sakit fisik di dACC (menurut teori Lieberman), remaja belum memiliki "rem" kognitif (PFC) yang cukup kuat untuk menenangkan diri mereka sendiri dengan logika seperti, "Ah, akun bodong ini tidak kenal aku, kok. Stop menyalahkan remaja karena mereka "baperan" atau "lemah" di media sosial. Tekhnologi hari ini dirancang untuk mengeksploitasi kebutuhan sosial purba manusia. Dan ketika remaja menjadi korban cyberbullying atau FOMO, otak mereka benar-benar sedang terluka secara fisik. Mereka tidak sedang membesar-besarkan masalah, mereka sedang mengalami penderitaan biologis yang nyata.

