Mimpi mayoritas terjadi pada fase REM (Rapid Eye Movement). Secara neurologis, saat kita memasuki fase ini, amigdala sbg pusat pemrosesan emosi menjadi sangat aktif, sementara korteks prefrontal lateral pusat logika dan kontrol diri justru menurun aktivitasnya. Inilah alasan mengapa mimpi sering kali terasa sangat emosional namun tidak logis secara narasi.
Penelitian dari Matthew Walker, seorang neurosaintis terkemuka, menunjukkan bahwa mimpi berfungsi sebagai terapi semalam. Otak memproses peristiwa traumatis atau emosional yang terjadi di siang hari dengan cara melepaskan muatan emosionalnya zat kimia stres seperti noradrenalin menurun drastis saat tidur REM.
Artinya, jika kita merasa cemas sebelum tidur, otak akan memutar ulang fragmen emosi tersebut untuk mengintegrasikannya ke dalam memori jangka panjang, namun dalam lingkungan yang lebih aman secara kimiawi. J. Allan Hobson dan Robert McCarley mengusulkan bahwa mimpi bermula dari aktivitas saraf di batang otak yang mengirimkan sinyal acak ke korteks.
Namun, poin pentingnya adalah sintesis. Otak kita, yang merupakan mesin pencari makna, mencoba menyusun sinyal acak tersebut menjadi sebuah cerita yang dipengaruhi oleh kekhawatiran, keinginan, dan emosi yang paling dominan sebelum kita memejamkan mata. Untuk mempertajam pemahaman ini, kita bisa melihat bagaimana gagasan populer bersinggungan dengan temuan neurosains
Meskipun teori Freud tentang simbolisme mimpi sering diperdebatkan, gagasannya mengenai Tagesreste atau "sisa-sisa siang hari" tetap relevan. Freud berpendapat bahwa rangsangan kecil atau ketegangan emosional yang tidak terselesaikan di siang hari akan muncul kembali dalam mimpi. Neurosains modern memvalidasi ini sebagai bentuk konsolidasi memori selektif, di mana otak memprioritaskan penyimpanan informasi yang memiliki bobot emosional tinggi.
Senada Jung melihat mimpi bukan sekadar pelampasan emosi, melainkan upaya psyche untuk mencapai keseimbangan. Jika seseorang terlalu menekan emosi tertentu saat sadar, mimpi akan menghadirkan emosi tersebut secara intens untuk menciptakan kelengkapan mental. Secara neurologis, ini terlihat pada bagaimana sirkuit limbik mengambil alih saat kesadaran menurun. Mimpi bukanlah peristiwa acak yang jatuh dari langit. Ia adalah kelanjutan dari dialog internal kita. Apa yang kita rasakan sebelum tidur baik itu kecemasan tentang pekerjaan, rasa rindu, atau kegembiraan berfungsi sebagai bahan baku utama bagi otak untuk menyusun skenario mimpi.
Mimpi adalah mekanisme biologis yang memastikan bahwa Ketika manusia bangun, beban emosional dari hari kemarin telah dikunyah dan diletakkan pada tempatnya, sehingga kesehatan mental tetap terjaga. Jika emosi adalah benang, maka mimpi adalah tenunannya. Kita tidak sekadar bermimpi, kita sedang melakukan pembersihan emosional agar otak siap menghadapi realitas baru di pagi hari.

