Yang lagi banyak viral, otak manusia bukan lagi sekadar organ biologis, melainkan tambang emas narasi. Kita menyaksikan lahirnya era Neuromania, di mana imbuhan "neuro" ditempelkan pada segala hal mulai dari kepemimpinan hingga pemasaranhanya untuk memberikan stempel otoritas ilmiah pada klaim yang justru seringkali dangkal.
Namun, ada sebuah tren yang mengkhawatirkan, peramuan neurosains menjadi pengetahuan modern yang sengaja di"absurd"kan. Ilmu pengetahuan yang seharusnya membedah kompleksitas eksistensi manusia, justru dipersempit menjadi sekadar alat mekanistis untuk mengejar produktivitas dan kekayaan materi.
Secara ilmiah, neurosains mengajarkan kita tentang Neuroplastisitas kemampuan otak untuk berubah melalui pengalaman. Namun, di tangan para pemandu sukses instan, konsep ini diramu ulang secara absurd. Mereka menjual ide bahwa otak hanyalah sirkuit yang bisa di hacking untuk mencapai kekayaan.
Pendekatan ini mengabaikan prinsip Sistem Limbik dan Korteks Prefrontal yang bekerja secara dinamis. Otak tidak beroperasi dalam ruang hampa sosial, ia adalah organ yang sangat terikat pada konteks budaya dan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika neurosains terus dipaksa menjadi alat pencetak uang, kita sebenarnya sedang melakukan devaluasi terhadap kapasitas kognitif manusia yang paling luhur yakni empati dan refleksi kritis.
Banyak tokoh populer saat ini menggunakan jargon neurosains seperti dopamin, kortisol, dan oksitosin seolah-olah itu adalah mantra ajaib. Mereka menciptakan dikotomi yang salah antara otak pemenang dan otak pecundang. Kritik tajam perlu diarahkan pada mereka yang mempopulerkan Neuro determinisme. Dengan dalih ilmiah, mereka mengklaim bahwa perilaku manusia sepenuhnya ditentukan oleh transmisi neurotransmitter, sehingga tanggung jawab etis dan perjuangan intelektual digantikan oleh konsumsi suplemen atau teknik meditasi lima menit yang dijanjikan mengubah struktur otak.
Terang ini adalah bentuk pengerdilan ilmu pengetahuan diramu bukan untuk membebaskan pikiran, tapi untuk menjinakkan manusia agar tetap patuh dalam roda konsumerisme yang dianggap ilmiah.
Neurosains yang jujur seharusnya tidak menawarkan solusi instan agar laris di pasar buku selfhelp. Neurosains yang tajam seharusnya memantik perenungan tentang. Bagaimana konektom manusia dibentuk oleh ketidakadilan struktur sosial? Bagaimana arus informasi digital yang eksploitatif merusak Default Mode Network (DMN) kita, sehingga kita kehilangan kemampuan untuk berpikir mendalam (deep thinking)?
Ilmu pengetahuan modern seringkali terpaksa menjadi "absurd" karena pasar tidak menyukai ketidakpastian. yang menjadi landasan fundamental dari ilmu. Padahal, inti dari neurosains adalah pengakuan akan misteri yang belum terpecahkan.
Kesimpulan menjadikan neurosains sebagai alat pertajam kekayaan hanyalah bentuk lain dari perbudakan intelektual. Kita butuh literasi otak yang tidak hanya berbicara tentang bagaimana menjadi lebih cepat atau lebih kaya, tetapi bagaimana menjadi lebih manusiawi. Pengetahuan modern yang menarik seharusnya membawa kita pada kesadaran bahwa di balik miliaran neuron, ada tanggung jawab moral yang tidak bisa dijawab oleh sekadar hormon dopamin.

