IBHCenter

Indonesian Board of Hypnotherapy Official Website

  • Home
  • Blog
  • Member
    • Certified Hypnotist
    • Certified Hypnotherapist
    • Trainer
  • Jadwal Pelatihan
  • Renewal
  • login

Seni Menipu

January 28, 2026 by Rifqah Ramdhana Jufri, M.Pd

Berbohong memang punya reputasi buruk secara moral, tapi secara neurologis, otak kita sering kali melihatnya sebagai "hadiah". Ada alasan biologis mengapa berbohong bisa memberikan sensasi rush atau kepuasan tersendiri. Aktivasi sistem reward saat kita berhasil melakukan kebohongan terutama jika tujuannya untuk mendapatkan keuntungan atau menghindari hukuman otak melepaskan dopamin. Nucleus Accumbens area ini adalah pusat kesenangan otak. Ketika sebuah kebohongan berhasil "menipu" sistem atau orang lain, otak mencatatnya sebagai kemenangan kecil.

Sensasi menang ada kepuasan kognitif saat kita merasa lebih pintar atau lebih unggul karena berhasil memanipulasi informasi tanpa ketahuan. Seringkali, berbohong dilakukan untuk menghindari konflik atau rasa malu. Ketika kita berada dalam situasi tertekan, amigdala (pusat emosi/takut) akan aktif. Berbohong berfungsi sebagai jalan pintas untuk menurunkan tingkat stres tersebut secara instan. Perasaan "lega" setelah berhasil menghindari masalah melalui kebohongan sering disalahartikan oleh otak sebagai rasa senang.

Penelitian dari University College London menunjukkan fenomena yang disebut adaptasi emosional. Pertama kali seseorang berbohong, amigdala bereaksi kuat (kita merasa bersalah atau deg-degan). Namun, semakin sering kita berbohong, respon amigdala semakin melemah. Otak menjadi terbiasa dan tidak lagi merasa "sakit" atau bersalah. Akibatnya, hambatan untuk berbohong hilang, dan yang tersisa hanyalah sensasi dopamin dari poin pertama tadi.

Bagi sebagian orang, berbohong adalah latihan mental yang kompleks. Korteks prefrontal bagian otak ini bekerja keras untuk menyusun cerita, menahan kebenaran, dan memantau reaksi lawan bicara. Bagi tipe kepribadian tertentu (seperti manipulator ulung atau pencari tantangan), keberhasilan mengelola beban kognitif yang berat ini memberikan kepuasan intelektual yang mirip dengan menyelesaikan teka-teki sulit.

Meskipun terasa menyenangkan di awal, berbohong secara kronis sebenarnya meningkatkan kadar hormon stres (kortisol) dalam jangka panjang karena otak harus terus-menerus "menjaga" konsistensi cerita bohong tersebut agar tidak terbongkar. Mendeteksi kebohongan bukan sekadar melihat hidung yang memanjang seperti Pinokio; ini adalah pertarungan antara sistem emosional yang bocor dan sistem kontrol yang berusaha keras menutupi jejak.

Secara neurologis, otak kita mendeteksi kebohongan melalui proses yang disebut Interpersonal Deception Theory. Otak pendengar (terutama bagian Korteks Prefrontal) bekerja mencari ketidakkonsistenan. Berbohong itu melelahkan secara mental karena si pembohong harus, mengingat apa yang mereka katakana, menekan kebenaran agar tidak selip, memantau apakah anda percaya pada mereka. Karena beban kognitif ini sangat berat, otak mereka sering "bocor". Kita mendeteksinya lewat jeda bicara yang terlalu lama, kontak mata yang dipaksakan, atau cerita yang terlalu detail (karena mereka terlalu kompensasi).

Kita memiliki sel saraf bernama Mirror Neurons yang membantu kita berempati dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Saat seseorang berbohong, mereka sering kali merasa cemas (meskipun sedikit). Otak Anda menangkap mikrosekresi stres ini melalui bahasa tubuh mereka. Anda mungkin merasa "ada yang tidak beres" atau feeling tidak enak. Itu adalah hasil kerja mirror neurons yang menangkap ketidakelarasan antara kata-kata dan emosi mereka.

Manusia memiliki ekspresi wajah yang terjadi dalam sepersekian detik (kurang dari $1/5$ detik) sebelum otak pembohong sempat menutupinya. Amigdala mereka bereaksi jujur terhadap rasa takut atau bersalah, yang muncul di wajah sebagai kilasan ekspresi mikro. Otak kita, khususnya bagian Superior Temporal Sulcus (STS), sangat ahli dalam memproses gerakan sosial ini secara bawah sadar. Secara neurologis, otak kita memiliki "Truth Bias" (bias kebenaran). Otak kita secara evolusioner dirancang untuk memercayai orang lain agar kerja sama sosial tetap berjalan. Jika kita mencurigai semua orang setiap saat, prefrontal cortex kita akan burnout karena kelelahan.

Untuk memaksa otak pembohong menunjukkan "keretakan" informasinya, kita harus menaikkan Beban Kognitif (Cognitive Load) mereka hingga mencapai titik jenuh. Saat otak terlalu sibuk mengolah cerita, sistem kontrol mereka akan tumbang, dan tanda-tanda stres akan muncul ke permukaan.

Tekhnik komunikasi berbasis neurosains untuk membongkar kebohongan

Teknik Narasi Terbalik (Reverse Order Recall)

Ini adalah teknik paling efektif dalam interogasi modern. Mintalah orang tersebut menceritakan kembali kejadiannya, tetapi dari akhir ke awal. Alasan neurologis, memori asli bersifat multisensorik dan mudah diakses dari berbagai titik. Namun, kebohongan biasanya disimpan secara linear (seperti naskah). Efeknya saat dipaksa bercerita terbalik, Korteks Prefrontal mereka akan overload. Anda akan melihat mereka mulai gagap, banyak berhenti, atau rincian ceritanya menjadi kontradiktif.

Gunakan Pertanyaan Terbuka yang "Menjebak"

Jangan gunakan pertanyaan "Ya/Tidak". Gunakan pertanyaan yang menuntut proses berpikir mendalam. Contoh: daripada bertanya "Apakah kamu tadi ke kantor?", tanyakan "Bisa ceritakan apa hal paling menjengkelkan yang terjadi di kantor tadi?" Efeknya pembohong harus menciptakan detail baru secara instan. Semakin banyak detail yang mereka buat "saat itu juga", semakin besar kemungkinan Amigdala mereka bereaksi karena takut ketahuan, yang memicu tanda-tanda fisik seperti berkeringat atau menyentuh wajah.

Tingkatkan Kontak Mata (Taktik Tekanan)

Mintalah mereka mempertahankan kontak mata saat menjelaskan detail yang rumit. Mempertahankan kontak mata membutuhkan pemrosesan visual yang signifikan. Efeknya, bagi pembohong, membagi fokus antara "mengarang cerita" dan "menjaga kontak mata" adalah hal yang sangat berat. Biasanya, mereka akan mengalihkan pandangan saat harus berpikir keras, atau justru memberikan tatapan yang terlalu kaku dan tidak berkedip (over-compensation).Teknik "Mata-matai" Inkosistensi Emosi

Perhatikan waktu antara ucapan dan ekspresi mereka.

Dalam kondisi normal, emosi muncul bersamaan atau sedikit mendahului kata-kata. Sebaliknya saat berbohong ada jeda mikro. Misalnya, seseorang berkata Saya sangat marah! lalu sedetik kemudian baru menunjukkan wajah marah. Efeknya, ini terjadi karena emosi tersebut tidak autentik (tidak diproses otomatis oleh sistem limbik), melainkan dikonstruksi secara sadar oleh otak motorik.

Jika Anda menerapkan teknik di atas, perhatikan tanda-tanda "sistem error"  seperti distansi diri, berhenti menggunakan kata "saya" dan menggantinya dengan "kita" atau "orang-orang" untuk menjauhkan diri dari kebohongan. Repetisi mengulang pertanyaan sebelum menjawab (untuk mengulur waktu bagi otak berpikir). Fidgeting terlokalisir menutup mulut, menyentuh hidung, atau merapikan baju secara tiba-tiba sebagai bentuk penyaluran energi stres. Eksperimen kecil lain kali anda merasa seseorang berbohong, coba potong ceritanya dengan pertanyaan spesifik yang tidak relevan di tengah-tengah narasi mereka. Perhatikan berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk kembali ke jalur cerita semula

I invite you to a spectacular collaboration

Find me in contact +62 819-3822-9535 – rifqah.ramdhana18@gmail.com

Filed Under: Hypnosis in Communication

In memoriam Yan Nurindra

Certified Instructor of The Month December-2025

dr. Evan Sastria, M.H.Kes., MARS.,CI (IBH), CCH (NGH), MCH, CT.NLP(NNLP), CT.NLP(NFNLP), CPC (NFNLP)
No Anggota: 01779

lihat Profile

//Artikel Terbaru

  • Seni Menipu
  • Pensiunan Pinokio
  • MAU TERUS SEHAT KUAT TANPA OBAT ? KUASAI INI SEKARANG!
  • Banyak orang tua tidak menyadari bahwa masalah anak takut, jijik, atau menolak makan nasi bukanlah hal sepele
  • Mengajarkan anak agar mau makan nasi dengan baik tanpa rasa takut atau jijik merupakan hal yang sangat penting bagi orang tua

//Jadwal Pelatihan

Advanced Hypnotherapy

28-Jan-2026 - Jakarta

DR.(H.C) ARIS BUDIMAN, CHt.,CPHt.,CMHt, CI, CMTHt.

Detail

Professional Hypnotherapy Workshop

29-Jan-2026 - Jakarta

DR.(H.C) ARIS BUDIMAN, CHt.,CPHt.,CMHt, CI, CMTHt.

Detail

Advanced Hypnotherapy

29-Jan-2026 - Jakarta

Ilyas Afsoh

Detail

Basic Hypnotherapy

29-Jan-2026 - Tangerang

Bernartdous Sugiharto, S.S.T, CH, CHt, CPHt, CMH, CI, C.ESTher, CT. MTH, CT. NLMOR, CT NNLP, CT. PBL, CT. HLC

Detail

Jadwal Lengkap

// News

// Our Network

logo-nca logo-nnlp

// The Indonesian Board of Hypnotherapy

Plaza Basmar Lantai 3
Jl. Mampang Prapatan Raya 106 Jakarta Selatan
Whatsapp: 0813-8100-0981 (Mey)
IBH is managed by Integra

© Copyright 2014 IBH Center · All Rights Reserved · Powered by Indonesia9 ·