Dalam lorong-lorong gelap cortex cingulate anterior kita, sebuah tragedi eksistensial sedang dipentaskan setiap detik. Kita hidup di era di mana perhatian bukan lagi komoditas, melainkan sisa-sisa reruntuhan yang diperebutkan oleh algoritma. Mengutip gaya Albert Camus, barangkali kita adalah Sisyphus modern, bukan lagi mendorong batu ke puncak bukit, melainkan mendorong kursor ke bawah layar (scrolling), hanya untuk menemukan kekosongan yang sama berulang kali.
Secara neurologis, fenomena mudah terdistraksi bukanlah sekadar cacat moral atau kemalasan belaka, melainkan sebuah pembajakan biokimia. Otak kita memiliki sistem purba yang disebut sirkuit dopaminergik. Dahulu, sirkuit ini adalah insting bertahan hidup, sebuah sinyal untuk mencari nutrisi atau menghindari predator. Namun kini, sirkuit itu telah dijinakkan oleh notifikasi.
Setiap kali ponsel bergetar, ventral tegmental area (VTA) melepaskan dopamin ke nucleus accumbens. Ini adalah janji kesenangan, bukan kesenangan itu sendiri. Seperti karakter dalam prosa Franz Kafka, kita terjebak dalam birokrasi saraf yang tak berujung: kita mencari makna dalam "klik" berikutnya, namun hanya menemukan labirin tanpa pintu keluar.
Masalah utamanya terletak pada executive function yang dikelola oleh prefrontal cortex (PFC). Ketika kita berpindah fokus setiap 40 detik, kita memaksakan apa yang disebut neurosaintis sebagai switching cost. Otak tidak benar-benar melakukan multitasking, ia hanya melakukan lompatan fragmentaris yang melelahkan.
Setiap distraksi membakar glukosa otak yang seharusnya digunakan untuk sintesis ide yang mendalam. Dampaknya adalah residua atensi, sebagian dari kesadaran kita tetap tertinggal pada tugas sebelumnya, membuat kita seperti hantu yang menghuni banyak ruangan tapi tidak benar-benar hadir di manapun. Bayangkan Gabriel García Márquez menulis tentang ini sebagai "seratus tahun kegilaan digital." Kita kehilangan kemampuan untuk melihat karena kita terlalu sibuk mengintip.
Dan yang sebenarnya sedang terjadi, dunia tidak kekurangan orang pintar, dunia kekurangan mereka yang mampu bertahan dalam keheningan cukup lama untuk melahirkan mahakarya. Distraksi adalah bentuk bunuh diri kecil yang dilakukan setiap hari. Kita menukar neuroplastisitas, kemampuan otak untuk bertumbuh dengan atrofi perhatian. Kita menjadi apa yang dikhawatirkan T.S. Eliot "Distracted from distraction by distraction."
Menolak distraksi bukan sekadar teknik manajemen waktu, itu adalah tindakan pemberontakan eksistensial. Untuk merebut kembali kedaulatan kognitif dari tangan-tangan dingin pengembang aplikasi, kita memerlukan "Neuro-Rehabilitation" yang ketat.
Pertama, lakukan detoksifikasi dopamin secara rutin. Otak yang terus-menerus dibombardir rangsangan cepat akan mengalami down regulation, di mana reseptor dopamin menjadi tumpul. Memulai hari dengan "90 menit pertama tanpa layar" adalah kunci. Di pagi hari, prefrontal cortex berada dalam kondisi paling potensial. Memasukkan sampah digital di jam ini ibarat menuangkan racun ke dalam sumur yang jernih.
Kedua, membangun keheningan. Secara neurologis, otak sangat reaktif terhadap cues (sinyal visual). Jika ponsel berada dalam jangkauan pandangan, otak menghabiskan energi untuk tidak menyentuhnya sebuah pemborosan glukosa yang sia-sia. Seperti kata Virginia Woolf, seseorang harus memiliki "ruangan milik sendiri" untuk bisa mencipta. Letakkan perangkat pemicu distraksi di ruangan berbeda.
Ketiga, melatih kembali Neuro-Plastisitas melalui kebosanan. Kita telah kehilangan kemampuan untuk bosan, padahal dalam kebosanan itulah Default Mode Network (DMN) mulai melakukan konsolidasi memori dan pemecahan masalah kreatif. Latihan sepuluh menit diam tanpa stimulasi adalah cara melatih inhibitory control pada otak.
Terakhir, bekerjalah dengan ritme ultradian. Otak bekerja dalam siklus biokimia sekitar 90 menit. Bekerja dalam blok waktu fokus (deep work) diikuti oleh istirahat total tanpa layar adalah cara mempercepat pembentukan mielin lapisan lemak saraf yang membuat pengiriman informasi menjadi lebih efisien.
Pada akhirnya, kualitas hidup kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang kita konsumsi, melainkan oleh seberapa banyak kedalaman yang mampu kita gali di tengah kebisingan dunia yang dangkal ini. Menjadi produktif bukan berarti melakukan lebih banyak hal, melainkan menjadi lebih "ada" pada satu hal yang bermakna.
Memahat kembali kehendak kita. Sebab, jika kita terus membiarkan perhatian kita dicuri, kita bukan lagi subjek dari hidup kita sendiri, melainkan sekadar objek dari algoritma yang makin rakus.
I invite you to a spectacular collaboration
Find me in contact +62 819-3822-9535 – rifqah.ramdhana18@gmail.com

