Ada satu fakta yang cukup lama mengganggu saya setiap kali membaca buku-buku neurosains populer hampir semuanya bercerita seolah otak hanya terdiri dari neuron. Padahal, kalau ditelusuri lebih jauh, neuron bukan satu-satunya penghuni otak bahkan bukan yang jumlahnya paling banyak. Ada populasi sel lain disebut glia, yang selama puluhan tahun dianggap sekadar "lem" penyangga sel figuran yang tugasnya cuma menopang neuron secara struktural, tidak lebih.
Saya mulai mempertanyakan narasi itu ketika membaca riset-riset dua dekade terakhir tentang salah satu jenis sel glia bernama astrosit. Ternyata sel ini jauh dari pasif. Astrosit aktif memantau dan bahkan ikut memodulasi sinapsis titik pertemuan antar neuron tempat sinyal saraf diteruskan. Ia bukan cuma penonton di pinggir lapangan, tapi lebih mirip wasit yang diam-diam mengatur jalannya permainan.
Yang membuat saya semakin tertarik astrosit disebut-sebut terlibat dalam proses memori dan tidur. Salah satu teori yang saya temukan menyebut sel ini berperan dalam sistem glymphatic semacam mekanisme "pembersihan" otak yang aktif terutama saat kita tidur, membuang produk sisa metabolisme yang menumpuk di jaringan saraf sepanjang hari. Kalau teori ini benar, tidur bukan cuma waktu istirahat bagi neuron, tapi juga waktu kerja bagi astrosit untuk membersihkan "sampah" di otak kita.
Semakin saya gali, semakin banyak spekulasi riset yang membuat saya berhenti sejenak untuk merenung. Beberapa penelitian menduga astrosit yang bermasalah mungkin ikut terlibat dalam gangguan mood seperti depresi, atau bahkan skizofrenia lewat jalur yang sejujurnya belum sepenuhnya dipahami. Saya kira ini menarik justru karena ketidaktahuannya: berbeda dari topik neurotransmitter yang sudah dibahas berulang-ulang, astrosit terasa seperti wilayah yang baru mulai dipetakan.
Semua ini membuat saya berpikir ulang tentang cara saya membayangkan otak selama ini. Kalau selama ini saya membayangkan kognisi sebagai jaringan neuron yang saling berkomunikasi lewat listrik dan kimia, mungkin gambaran itu tidak lengkap. Ada lapisan lain yang bekerja di baliknya diam, lambat, tidak seheboh neuron yang menyala dan memicu, tapi barangkali sama pentingnya dalam menentukan siapa saya, bagaimana saya mengingat, dan bagaimana saya tidur di malam hari.
Saya jadi bertanya pada diri sendiri berapa banyak lagi bagian dari "diri" saya yang selama ini saya kira remeh, padahal justru diam-diam ikut menentukan siapa saya sebenarnya?

