IBHCenter

Indonesian Board of Hypnotherapy Official Website

  • Home
  • Blog
  • Member
    • Certified Hypnotist
    • Certified Hypnotherapist
    • Trainer
  • Jadwal Pelatihan
  • Renewal
  • login

Perceraian Neurologis Ala Dr Joe Dispenza

January 12, 2026 by Rifqah Ramdhana Jufri, M.Pd

Istilah "otak tertua" sering digunakan untuk merujuk pada bagian otak yang mengatur emosi dan insting karena urutan evolusinya. Konsep ini paling populer dijelaskan melalui teori Triune Brain (Tiga Serangkai Otak) oleh Dr. Paul MacLean. Meskipun secara teknis ada bagian yang lebih tua (otak reptil), otak emosi disebut "tua" karena sudah ada jauh sebelum manusia memiliki kemampuan berpikir logis yang kompleks.

Berikut adalah urutan hirarkinya :

1. Otak Reptil (The Oldest – Batang Otak)

Ini adalah bagian yang benar-benar paling tua secara evolusi. Ia mengatur fungsi bertahan hidup dasar yang otomatis, seperti:

Detak jantung dan pernapasan. Insting "lawan atau lari" (fight or flight). Reaksi cepat terhadap bahaya.

Kenapa disebut tua? Karena struktur ini sudah dimiliki oleh reptil sejak ratusan juta tahun lalu.

2. Otak Mamalia / Otak Emosi (Sistem Limbik)

Inilah yang sering Anda maksud. Secara evolusi, bagian ini berkembang setelah otak reptil, muncul pada mamalia awal. Bagian ini meliputi Amigdala (pusat rasa takut/emosi) dan Hipokampus (pusat memori). Fungsi: Mengatur emosi, rasa kasih sayang, pengasuhan anak, dan hubungan sosial.

Kenapa disebut tua? Karena sistem ini sudah sempurna pada mamalia jutaan tahun sebelum manusia (Homo sapiens) muncul dengan kemampuan bahasa dan logika.

3. Otak Berpikir (Neokorteks)

Ini adalah bagian "terbaru" yang hanya berkembang pesat pada primata tingkat tinggi dan manusia.

Fungsi : Logika, perencanaan, bahasa, dan pengendalian diri. Hubungannya dengan trauma yakni Neokorteks sering kali "kalah" atau "mati kutu" ketika otak emosi (sistem limbik) mengambil alih saat terjadi trauma.

Menurut Dr. Joe Dispenza, trauma bukanlah sebuah "penyakit" dalam pengertian medis konvensional yang bersifat statis atau permanen, melainkan sebuah catatan neurologis dan emosional dari masa lalu yang tersimpan di dalam otak dan tubuh.

Dr. Joe Dispenza memandang trauma dalam irisan berikut :

1. Trauma sebagai "Snapshot" Memori

Dr. Joe menjelaskan bahwa ketika kita mengalami peristiwa traumatis, emosi yang dirasakan sangatlah kuat. Karena intensitas emosi tersebut, otak mengambil "snapshot" atau foto instan dari kejadian tersebut. Inilah yang kemudian menjadi memori jangka panjang.

2. Tubuh Menjadi "Pikiran" (Body as the Mind)

Ini adalah konsep unik dari Dr. Joe. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan kejadian traumatis tersebut, tubuh akan melepaskan kimiawi yang sama seolah-olah kejadian itu sedang terjadi sekarang.

Kondisi Biologis: Secara bertahap, tubuh tidak bisa membedakan antara kejadian nyata dan ingatan persis dengan teori hipperealitas ala boudrilard

Kecanduan Emosional: Tubuh akhirnya "terkondisi" untuk hidup dalam masa lalu dan menjadi kecanduan pada hormon stres (seperti kortisol dan adrenalin).

3. Catatan Neurologis Masa Lalu

Bagi Dr. Joe, trauma adalah loop (lingkaran) saraf. Otak yang terus-menerus memproses trauma sebenarnya sedang bekerja seperti "rekaman masa lalu" (a record of the past). Jika seseorang bangun tidur dan langsung memikirkan masalah atau traumanya, mereka sebenarnya sedang memulai hari di masa lalu, bukan di masa depan.

4. Proses Penyembuhan "Rewiring"

Karena trauma dipandang sebagai pemrograman saraf dan kondisi emosional, maka penyembuhannya bukan sekadar mengobati gejala, melainkan memutus koneksi dengan berhenti memberikan energi pada emosi masa lalu melalui meditasi dan kesadaran (awareness)

Menciptakan masa depan dengan melatih otak dan tubuh untuk merasakan emosi baru yang lebih tinggi (seperti rasa syukur atau cinta) bahkan sebelum hal baik itu terjadi

Mengapa Ini Penting dalam Pembahasan Trauma?

Dr. Joe Dispenza sering membahas ini karena trauma menetap di "otak tua" (Sistem Limbik), bukan di otak berpikir. Itulah sebabnya :

Secara logika kita tahu kita sudah aman, tapi tubuh (melalui otak tua) tetap merasa terancam.

Kita tidak bisa "menasehati" trauma hanya dengan logika kita harus menjangkau sistem saraf otonom dan otak emosi tersebut melalui metode seperti meditasi atau pernapasan untuk "mengatur ulang" programnya.

Analogi sederhana. Neokorteks adalah pengendara, sementara sistem limbik (otak emosi) adalah kuda. Jika kuda tersebut ketakutan karena memori masa lalu, sehebat apa pun si pengendara berbicara, kuda tersebut akan tetap lari atau memberontak sampai ia merasa tenang secara emosional.

1. Reaksi Berlebihan pada Hal Sepele (The Overreaction)

Pernahkah Anda melihat seseorang (atau Anda sendiri) meledak marah hanya karena masalah kecil, seperti pasangan lupa mencuci piring atau anak menumpahkan susu?

Kenyataannya secara logika, piring kotor bukanlah ancaman nyawa. Namun, bagi otak emosi, perilaku itu memicu memori lama tentang "diabaikan" atau "tidak dihargai" (mungkin dari trauma perceraian orang tua dulu). Otak tua menganggap ini sebagai serangan besar dan mengaktifkan mode perang.

2. Sulit Meninggalkan Hubungan Toksik

Secara logika, seseorang tahu bahwa pasangannya kasar atau tidak setia. Namun, mereka tetap bertahan.

Kenyataannya otak emosi (sistem limbik) mencari apa yang familier, bukan apa yang sehat. Jika masa kecil seseorang penuh dengan konflik, maka "konflik" terasa seperti "rumah" bagi otak emosinya. Tubuhnya sudah kecanduan kimiawi stres tersebut, sehingga meninggalkan hubungan itu justru terasa "menakutkan" bagi otak tuanya.

3. Fobia atau Ketakutan yang Tidak Rasional

Seseorang yang takut terbang di pesawat tetap akan berkeringat dingin meskipun ia membaca statistik bahwa pesawat adalah transportasi paling aman (logika).

Kenyataannya logika ada di Neokorteks, tapi rasa takut ada di Amigdala (otak tua). Otak tua tidak bisa membaca statistik ia hanya tahu bahwa ketinggian itu berbahaya. Selama otak tua tidak merasa aman secara emosional, data statistik tidak akan berguna.

4. Kebiasaan Belanja atau Makan Saat Stres (Emotional Eating/Shopping)

Anda tahu bahwa uang tabungan harus disimpan atau diet harus dijaga, tetapi saat stres, anda tetap membeli barang yang tidak perlu atau makan berlebihan.

Kenyataannya otak emosi mencari cara instan untuk merasa aman atau nyaman (pelepasan dopamin). Ia tidak peduli dengan rencana masa depan Anda (logika) ia hanya peduli agar Anda merasa "oke" saat ini juga demi kelangsungan hidup emosional Anda.

5. Stage Fright (Demam Panggung)

Anda sudah menghafal materi presentasi dengan sempurna (logika). Namun, saat berdiri di depan orang banyak, tiba-tiba otak anda kosong (blank) dan tangan gemetar.

Kenyataannya otak tua menganggap diperhatikan oleh banyak orang sebagai ancaman (seperti diincar predator). Ia mematikan fungsi otak berpikir (Neokorteks) untuk mengalihkan semua energi ke otot agar Anda bisa "lari".

Mengapa Dr. Joe Dispenza menekankan Ini ?

Kenyataan-kenyataan di atas membuktikan bahwa kita lebih banyak dikendalikan oleh masa lalu (otak tua) daripada oleh keinginan masa depan kita. Dalam kasus anak korban perceraian, kenyataan hidupnya mungkin muncul sebagai ketidakmampuan untuk percaya pada pasangan (meskipun pasangannya sangat baik). Selalu merasa "siaga" menunggu sesuatu yang buruk terjadi saat keadaan sedang tenang-tenang saja.

Saat ini, jika seseorang hidup dengan trauma, pikirannya ada di masa depan (khawatir) atau masa lalu, tetapi tubuhnya (perasaan) terjebak di masa lalu. Untuk menciptakan state of being baru, manusia harus melewati proses yang disebut "Breaking the Habit of Being Yourself". Ini salah satu karya Joe yang membuat imajinasi saya tidak pernah berhenti untuk takjub

Bagaimana saya berlatih menggugah ketakjuban demi ketakjuban itu , mari kita gaskaann ..

1. Memasuki "The Present Moment" (Saat Ini)

Anda tidak bisa menciptakan masa depan jika anda masih menjadi "diri anda yang lama". Dr. Joe menekankan pentingnya menjadi "No Body, No One, No Thing, No Where, No Time."

Kenyataannya: Ini dilakukan melalui meditasi dalam. Anda harus melupakan identitas anda sebagai "korban perceraian", melupakan nama anda, pekerjaan anda, dan masalah anda sampai anda hanya menjadi kesadaran murni. Di titik nol inilah perubahan bisa dimulai

2. Memutuskan Lingkaran Pikiran & Perasaan

State of being adalah lingkaran di mana pikiran memicu perasaan, dan perasaan memicu pikiran yang sama. 

Langkahnya, anda harus mulai berpikir melampaui apa yang anda rasakan. Jika anda merasa takut (perasaan lama), anda harus secara sadar memilih pikiran yang lebih tinggi (harapan/kekuatan) dan mengajarkan tubuh anda secara emosional bagaimana rasanya emosi baru tersebut sebelum kejadian nyatanya muncul.

3. Rehearsal Mental (Latihan Mental)

Otak tidak bisa membedakan antara kejadian nyata dan apa yang anda bayangkan dengan sangat jelas disertai emosi yang kuat.

Caranya: Setiap pagi, sebelum anda membuka mata dan mengecek ponsel, duduklah diam. Visualisasikan diri anda menjadi orang yang baru

Kuncinya: Jangan hanya membayangkan gambar, tapi rasakan emosinya. Jika anda ingin menjadi orang yang percaya diri, rasakan energi kepercayaan diri itu di dada anda sekarang juga. Saat anda menggabungkan niat yang jelas dengan emosi yang ditingkatkan, anda mulai mengubah gen dan sirkuit saraf anda.

4. Mengatasi Perlawanan Tubuh

Saat Anda mencoba berubah, tubuh anda akan protes. Tubuh yang sudah kecanduan hormon stres akan berkata: "Ini aneh, ini tidak nyaman, ayo kembali marah/sedih saja."

Kenyataannya: Inilah momen krusial. Dr. Joe menyebutnya sebagai "menjinakkan hewan" (tubuh). Anda harus tetap diam dan memerintahkan tubuh bahwa pikiran adalah tuannya. Setiap kali anda berhasil mengatasi dorongan untuk kembali ke emosi lama, anda sedang merombak ulang sistem saraf anda.

5. Mempertahankan "State" Tersebut Sepanjang Hari

Perubahan tidak hanya terjadi saat meditasi 20 menit, tapi bagaimana anda bersikap setelahnya.

Tantangannya: Bisakah anda tetap berada dalam perasaan "bersyukur" dan "aman" saat terjebak macet atau saat bertemu orang yang memicu amarah anda? Jika anda bisa mempertahankan emosi baru tersebut di tengah tantangan, itulah saat anda benar-benar telah memiliki state of being baru.

Perbedaan Nyata yang Akan Terjadi ..

State Lama : Bangun tidur rightarrow Mengingat masalah rightarrow merasa stres rightarrow beraksi secara otomatis (Reaktif).

State Baru: Bangun tidur rightarrow menciptakan emosi syukur rightarrow menentukan niat hari ini rightarrow Beraksi dengan kesadaran (Proaktif).

Intinya anda harus jatuh cinta pada masa depan anda lebih daripada anda membenci masa lalu anda .. Selamat berlatih 

I invite you to spectacular collaboration 

Find me in contact +62 819-3822-9535

Filed Under: NLP for Hypnosis

In memoriam Yan Nurindra

Certified Instructor of The Month December-2025

dr. Evan Sastria, M.H.Kes., MARS.,CI (IBH), CCH (NGH), MCH, CT.NLP(NNLP), CT.NLP(NFNLP), CPC (NFNLP)
No Anggota: 01779

lihat Profile

//Artikel Terbaru

  • Perceraian Neurologis Ala Dr Joe Dispenza
  • Awas Kecanduan, Waspadai Alarm Berbahaya Saat Otak Happy Dengan Gaya Literasi Baru
  • Hafalan Bukan Hanya Soal Mengulang
  • Ketika Hipnoterapi Hadir di Daerah
  • Mens Rea: Anatomi Kemarahan Kolektif dan “Penyakit” Kognitif Elit, Kenapa Harus Marah ?

//Jadwal Pelatihan

Advanced Hypnotherapy

13-Jan-2026 - Surabaya

Ilyas Afsoh

Detail

Basic Hypnotherapy

13-Jan-2026 - Jakarta

DR.(H.C) ARIS BUDIMAN, CHt.,CPHt.,CMHt, CI, CMTHt.

Detail

Advanced Hypnotherapy

13-Jan-2026 - Tangerang

Bernartdous Sugiharto, S.S.T, CH, CHt, CPHt, CMH, CI, C.ESTher, CT. MTH, CT. NLMOR, CT NNLP, CT. PBL, CT. HLC

Detail

Advanced Hypnotherapy

14-Jan-2026 - Surabaya

Ilyas Afsoh

Detail

Jadwal Lengkap

// News

// Our Network

logo-nca logo-nnlp

// The Indonesian Board of Hypnotherapy

Plaza Basmar Lantai 3
Jl. Mampang Prapatan Raya 106 Jakarta Selatan
Whatsapp: 0813-8100-0981 (Mey)
IBH is managed by Integra

© Copyright 2014 IBH Center · All Rights Reserved · Powered by Indonesia9 ·