Pertunjukan "Mens Rea" oleh Pandji Pragiwaksono telah memicu gelombang diskusi besar di Indonesia. Sebagai seorang dosen ilmu sosial, penulis, pemerhati issu sosial, perempuan dan anak tentu melihat ini bukan sekadar panggung komedi, melainkan sebuah orgasme sosial yang orisinil
Mens Rea: Mengapa Kita "Marah" ?
Pertunjukan stand-up comedy "Mens Rea" seperti gelas Spirytus Rektyfikowany yang pecah setelah merampas kortex penggemarnya, Istilah hukum mens rea yang berarti seolah menjadi cermin bagi penonton untuk melihat kembali niat di balik kritik-kritik tajam yang dilontarkan. Namun, alih-alih tertawa, sebagian masyarakat elitis payah justru bereaksi dengan kemarahan. Mengapa kritik, terutama yang dibalut komedi satire, begitu menyakitkan bagi sebagian orang?
Kritik Sebagai Ancaman Eksistensi Politik
Dalam ilmu sosial, kritik terhadap figur publik atau tatanan sosial sering kali dianggap sebagai serangan terhadap "kelompok" atau identitas diri seseorang. Fenomena ini menarik karena menyentuh sensitivitas kolektif kita. Saat sebuah pertunjukan menyentuh institusi atau figur yang dihormati, audiens merasa keamanan psikologisnya terganggu.
Secara analitik, masyarakat kita sering kali terjebak dalam Hero Worship atau pemujaan figur. Dalam perspektif ilmu sosial , ketika sebuah institusi atau tokoh dikritik, pendukungnya tidak merasa ideologinya diserang, melainkan eksistensinya yang terancam.
Kontroversinya ada di sini. Kemarahan publik terhadap Mens Rea sering kali bukan karena komedinya tidak lucu, melainkan karena komedi tersebut terlalu akurat. Kita marah karena Mens Rea membongkar "niat jahat" (sesuai namanya) yang selama ini kita sembunyikan di bawah karpet kesantunan palsu.
Perspektif Neurosains: Mengapa Otak Memilih Marah?
Neurosains memberikan jawaban yang menarik mengenai alasan kemarahan ini muncul secara instan.
- Amigdala dan Respons Fight-or-Flight: Saat mendengar kritik yang tajam terhadap sesuatu yang kita yakini, otak kita tidak memprosesnya hanya sebagai informasi verbal. Amigdala, bagian otak yang bertanggung jawab atas pemrosesan emosi dan ancaman, sering kali mendeteksi kritik sebagai ancaman fisik. Akibatnya, otak memicu respons "lawan atau lari" (fight-or-flight). Kemarahan adalah bentuk "lawan" dari ancaman psikologis tersebut.
- Disonansi Kognitif di Prefrontal Cortex: Ketika kritik dalam "Mens Rea" bertentangan dengan keyakinan yang sudah tertanam lama, terjadi konflik di bagian Prefrontal Cortex. Otak merasa tidak nyaman memegang dua informasi yang bertentangan (disonansi kognitif). Untuk menghilangkan rasa tidak nyaman ini, otak mengambil jalan pintas menolak kritik tersebut mentah-mentah dan menggantinya dengan emosi marah untuk memvalidasi keyakinan lama.
- Neuroplastisitas dan Ketahanan Mental: Orang yang jarang terpapar pada perbedaan pendapat cenderung memiliki sirkuit otak yang kaku terhadap kritik. Sebaliknya, mereka yang terbiasa berjejaring dan belajar seperti semangat saya misalnya hehehe memiliki otak yang lebih adaptif dalam memproses informasi baru tanpa harus merasa terancam.
Kenapa Kita "Harus" Marah
Kemarahan sebenarnya adalah sinyal bahwa ada nilai dalam diri kita yang sedang terusik. Namun, sebagai masyarakat yang cerdas, tantangannya adalah menggeser reaksi dari amigdala (emosi murni) ke prefrontal cortex (analisis logis)
Kritik dalam "Mens Rea" seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk bertanya: Apakah kita marah karena kritiknya salah, atau karena kita takut kebenaran yang disampaikan merusak zona nyaman kita?
Fenomena "Mens Rea" adalah laboratorium sosial yang nyata. Dengan memahami bahwa kemarahan adalah reaksi neurologis alami, kita bisa mulai belajar untuk tidak meledak saat dikritik, melainkan mendengarkan dengan kepala dingin. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa termasuk dalam perlindungan perempuan dan anak sering kali dimulai dari kritik pahit yang berhasil kita cerna dengan bijak
I invite you to spectacular collaboration
Find me in contact +62 819-3822-9535

