Di banyak pesantren, hafalan sering dipahami sebagai urusan mengulang berkali-kali sampai ayat itu menempel di kepala. Cara ini memang bekerja pada sebagian santri, terutama yang memiliki daya memori kuat dan ritme belajar cepat.
Tetapi, diam-diam ada banyak santri lain yang mengulang ayat sampai puluhan kali namun tetap belum bisa mengikatnya. Pada titik ini, sebagian merasa dirinya “kurang pintar” padahal masalahnya bukan itu.
Hafalan bukan hanya soal mengulang; ia proses biologis, psikologis, dan spiritual sekaligus.
Dalam ilmu neurosains, memori hafalan Qur’an bekerja melalui tiga tahap: encoding (perekaman), storage (penyimpanan), dan retrieval (pemanggilan).
Tahap pertama — encoding — tidak bekerja optimal jika santri menghafal dalam kondisi emosi tertekan atau pikiran pecah. Otak bagian prefrontal cortex yang bertugas memproses informasi baru akan kalah oleh sistem limbik yang sedang sibuk mengurus rasa gelisah. Maka tidak heran ada santri yang hafal ketika sendirian di kamar, tetapi macet ketika setoran. Ini masalah retrieval, bukan masalah niat.
Ritme hafalan juga dipengaruhi dopamin — neurotransmitter yang menguatkan motivasi dan rasa menyenangkan. Ketika santri merasa berhasil, walau sedikit, otak memberi hadiah kecil berupa dopamin yang membuat hafalan berikutnya lebih ringan. Inilah alasan mengapa strategi “sedikit tapi berhasil” sering lebih efektif daripada “banyak tapi memberatkan”.
Metode ini sesungguhnya selaras dengan sabda Rasulullah Saw:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim no 783)
Di sisi spiritual, Al-Qur’an bukan sekadar objek informasi, tapi cahaya yang meminta adab.
Salah satu adab ilmu adalah niat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niat…” (HR. Bukhari-Muslim). Banyak ulama menjelaskan bahwa niat adalah penentu kualitas, bukan hanya keabsahan. Niat yang benar menata hati, dan hati yang tenang menata pikiran. Inilah simpul temu antara spiritualitas dan neuroscience: ketenangan hati memudahkan kerja otak.
Ada cara yang lebih halus untuk menghafal: mengikat makna sebelum mengikat bunyi. Ketika santri paham maknanya, otak menyimpan hafalan bukan sebagai suara melainkan sebagai kisah. Otak jauh lebih pandai menyimpan cerita daripada bunyi yang hampa. Dan ketika hafalan sudah menjadi cerita, ia tidak hanya mudah diingat, tetapi juga mudah dijaga.
Hafalan yang baik pada akhirnya adalah dialog antara akal, emosi, dan ruhani. Mengulang tetap penting, namun bukan satu-satunya pintu. Ada santri yang butuh ketenangan, ada yang butuh ritme, ada yang butuh pemaknaan, dan ada yang butuh kebahagiaan dalam prosesnya. Semua ini tidak bertentangan dengan tradisi pesantren, hanya perlu diberi bahasa agar ia terlihat.
––––––––––––––––––
Ustadz Arief
Islamic Personality Spesialist
Ceritakan masalahmu dengan aman dan nyaman:
WhatsApp: 087875168341
Email: arief.cultiva@gmail.com

