Sepuluh tahun lalu, buku-buku tentang otak sibuk menjawab pertanyaan bagaimana otak bekerja? dan menjanjikan peta, area dan zat kimia. Judul-judul yang kini ramai dibicarakan menanyakan hal lain. Pertanyaannya bukan lagi apa itu otak
Sebagai contoh, The Emergent Mind karya Gaurav Suri dan Jay McClelland memuat kecerdasan pada manusia dan mesin dalam satu subjudul yang sama. Yosef Grodzinsky lebih terang-terangan lagi. Judul bukunya, How Deeply Human Is Language?, memasang Chomsky, otak dan “fantasi AI” dalam satu kalimat.
Sementara itu The Shape of Things Unseen karya Adam Zeman menjadikan imajinasi sebagai tema ilmiahnya, kemampuan yang oleh banyak orang dipakai sebagai batas terakhir antara manusia dan model bahasa. The Latent Brain karya Mark Humphries mengajukan “ilmu baru” tentang bagaimana kita berpikir, merasa dan bertindak. Di tengah gelombang ini, kata baru sulit dibaca lepas dari kehadiran mesin sebagai pembanding.
Tesis yang ingin saya ajukan sederhana yaitu sebagian ledakan minat pada buku neurosains hari ini bukan dipicu oleh kemajuan ilmu tentang otak melainkan oleh kegelisahan tentang manusia. Otak dibaca ulang sebagai cermin. Pembaca tidak lagi membuka buku neurosains terutama untuk memahami tubuhnya tetapi untuk memastikan bahwa dirinya masih punya sesuatu yang tidak bisa dicopy paste.
Kegelisahan itu faktanya punya logika sendiri. Ketika model bahasa menulis esai, menjawab soal ujian dan meniru gaya penulis, definisi lama tentang kecerdasan manusia ikut goyah. Bahasa pernah dianggap kemampuan paling manusiawi. Kini ia diproduksi mesin dengan fasih. Maka wajar bila yang dicari pembaca adalah argumen bahwa fasih belum tentu paham dan bahwa menghasilkan kalimat tidak sama dengan memiliki bahasa.
Buku seperti karya Grodzinsky menyentuh kebutuhan itu dengan menautkan bahasa pada struktur otak bukan pada statistik kata. Ilmu yang dipanggil sebagai saksi dalam sebuah perdebatan cenderung kehilangan sebagian ketenangannya. Temuan yang bernuansa mudah dipangkas menjadi slogan otak bukan komputer atau sebaliknya, otak hanyalah komputer. Kubu pertama menjadikan otak sebagai benteng kekhususan manusia, seolah semua yang terjadi dalam kepala kita tidak bisa dijelaskan secara komputasional.
Kubu kedua menjadikan otak sebagai bukti bahwa kita pun mesin prediksi dan tidak ada yang istimewa.
Kecerdasan dapat muncul dari komponen sederhana tanpa harus identik dengan komponennya. Tetapi bila kecerdasan bisa muncul dari substrat yang berbeda, apa lagi yang tersisa sebagai pembeda? Pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab neurosains saja. Ia menuntut filsafat dan neurosains popular.
Imajinasi, yang digarap Zeman, memperlihatkan kesulitan ini dengan jelas. Kita senang menyebut imajinasi sebagai wilayah yang tak tersentuh mesin. Namun sains tentang imajinasi sendiri justru menunjukkan betapa beragamnya pengalaman itu dan betapa belum selesainya kita memahaminya. Mengangkat sesuatu yang belum dipahami sebagai benteng pertahanan identitas adalah strategi rapuh sebab benteng seperti itu hanya aman selama pengetahuan belum sampai ke sana.
Ada tiga pertanyaan yang layak diajukan pada setiap buku neurosains populer hari ini. Pertama, apakah ia menjelaskan otak atau memakai otak untuk memenangkan sebuah posisi tentang AI? Kedua, apakah klaim “khas manusia” yang ia ajukan bertumpu pada bukti atau pada kebutuhan kita untuk merasa istimewa? Ketiga, apakah ia berani mengakui bagian yang belum diketahui atau menutupnya dengan metafora yang enak dibaca?
Tren ini sendiri bukan masalah. Rasa ingin tahu tentang otak yang dipertajam oleh kehadiran mesin adalah hal sehat dan tidak ada salahnya cermin dipakai untuk melihat diri. Tetapi cermin selalu memantulkan yang berdiri di depannya. Bila yang kita bawa adalah ketakutan yang kita baca dari otak hanyalah penghiburan. Bila yang kita bawa adalah kegigihan bertanya, kita bisa menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada keunikan hingga pemahaman tentang bagaimana pikiran tumbuh di dalam kepala maupun di luarnya, dan tanggung jawab kita atas apa yang kita biarkan berpikir

