Antonio Damasio pernah menyebut manusia sebagai "feeling machines that think" — mesin perasa yang kebetulan juga berpikir, bukan sebaliknya.
Pada 13 September 1848, seorang mandor konstruksi rel kereta bernama Phineas Gage sedang memadatkan bahan peledak ke dalam lubang batu ketika sebatang besi sepanjang satu meter meluncur menembus tulang pipinya, melintasi bagian depan otaknya, dan keluar dari puncak kepalanya. Ia selamat. Ia bahkan bisa berjalan dan berbicara beberapa menit kemudian. Yang tidak selamat adalah dirinya yang lama rekan-rekan kerjanya kelak berkata bahwa ia "tidak lagi Gage." Bukan kecerdasannya yang hilang. Ia masih bisa menghitung, mengingat, bernalar. Yang hilang adalah sesuatu yang lebih sulit dinamai, kemampuannya membuat keputusan yang masuk akal bagi hidupnya sendiri.
Selama lebih dari satu abad, kasus Gage menjadi anekdot yang menarik tapi tidak dipahami sepenuhnya. Baru pada penghujung abad kedua puluh, seorang neurolog bernama Antonio Damasio bekerja dengan pasien-pasien modern yang mengalami kerusakan di wilayah otak yang sama dengan Gage, korteks prefrontal ventromedial mulai melihat pola yang berulang. Pasien-pasien ini mempertahankan kecerdasan logis mereka sepenuhnya. Mereka bisa mendaftar dengan sempurna, semua alasan mengapa satu pilihan lebih baik daripada pilihan lain. Namun ketika keputusan itu harus benar-benar diambil dalam kehidupan nyata, mereka gagal berulang kali menikah dengan pasangan yang merugikan mereka, mengambil kesepakatan bisnis yang jelas buruk, kehilangan pekerjaan demi pekerjaan. Logika mereka utuh. Sesuatu yang lain telah lenyap.
Dari observasi inilah lahir apa yang kemudian dikenal sebagai somatic marker hypothesis hipotesis penanda somatik. Dalilnya sederhana untuk diucapkan tapi radikal dalam implikasinya, keputusan yang baik bukan dihasilkan oleh nalar yang bekerja sendirian, melainkan oleh nalar yang dibimbing oleh sinyal tubuh, perubahan detak jantung, kelembapan telapak tangan, ketegangan di perut yang muncul jauh sebelum kesadaran sempat merumuskan alasan apa pun. Damasio menyebutnya "penanda" karena sinyal-sinyal ini bertindak seperti rambu di persimpangan menandai satu jalur sebagai berbahaya, jalur lain sebagai aman, tanpa perlu si pengambil keputusan mengetahui persisnya mengapa.
Ini membalik satu warisan filsafat yang sudah berumur ribuan tahun, gagasan bahwa nalar murni adalah bentuk kognisi tertinggi, dan emosi adalah gangguan yang harus disingkirkan agar keputusan menjadi jernih. Para pasien dengan kerusakan ventromedial justru menunjukkan yang sebaliknya. Mereka adalah realisasi sempurna dari cita-cita "keputusan tanpa emosi" dan justru karena itulah mereka gagal berfungsi. Nalar yang dilucuti dari sinyal tubuhnya tidak menjadi lebih murni, ia menjadi lumpuh, tenggelam dalam kalkulasi tanpa akhir karena tidak ada lagi yang membisikkan kapan harus berhenti menimbang dan mulai memilih.
Delapan dekade setelah kasus Gage direkam untuk pertama kalinya dalam literatur medis, ilmu saraf telah bergerak jauh dari sekadar mengaitkan lokasi lesi dengan gejala. Riset yang lebih baru di antaranya kajian tentang apa yang disebut allostatic interoceptive overload, gangguan pada kemampuan otak membaca dan meregulasi sinyal internal tubuh yang ditemukan melintasi berbagai kondisi psikiatris dan neurologis, memperluas gagasan Damasio ke arah yang lebih luas lagi. Bukan hanya kerusakan struktural yang bisa membungkam penanda somatik. Beban kronis, tekanan berkepanjangan, kondisi yang memaksa sistem regulasi tubuh bekerja tanpa jeda, tampaknya juga bisa menumpulkan kemampuan yang sama membuat sinyal tubuh yang seharusnya membimbing keputusan menjadi berisik, tidak jelas, atau bahkan diam sama sekali.
Ini mengubah cara kita seharusnya membaca kegagalan mengambil keputusan yang baik dalam hidup sehari-hari. Kegagalan semacam itu jarang murni soal kurangnya informasi atau lemahnya logika. Lebih sering, ia adalah tanda bahwa saluran antara tubuh dan pikiran sedang dibebani melampaui kapasitasnya bukan karena informasinya kurang, tapi karena mesin yang seharusnya merasakannya sudah terlalu lelah untuk berbisik.
Ada godaan untuk membaca hipotesis penanda somatik sebagai pembenaran romantis atas slogan populer "dengarkan kata hatimu." Damasio sendiri akan keberatan dengan penyederhanaan ini. Yang ia usulkan bukan penggantian nalar dengan insting melainkan penolakan terhadap gagasan bahwa keduanya pernah benar-benar terpisah. Kata hati bukan alternatif dari pikiran. Ia adalah pikiran, hanya saja dalam bentuk yang lebih tua, lebih cepat, dan tidak pernah benar-benar berhenti bekerja bahkan ketika kesadaran belum sempat menyusun satu kalimat pun.
Dari kasus Phineas Gage dan dari setiap pasien setelahnya yang mengalami nasib serupa bukan bahwa mereka kehilangan kemampuan berpikir melainkan bahwa mereka dipaksa hidup sebagai bukti hidup dari sebuah gagasan yang telah lama kita puja tanpa pernah benar-benar menguji konsekuensinya, pikiran yang sungguh-sungguh murni dari tubuh. Yang tersisa dari eksperimen tak disengaja itu bukan kecerdasan yang lebih jernih tapi seseorang yang tahu segalanya dan tidak bisa memilih apa pun.

