Ada satu momen yang mengubah cara saya memandang otak, ketika saya membaca bahwa apa yang saya lihat sekarang, saat ini, bukanlah dunia melainkan tebakan terbaik otak saya tentang dunia. Bukan metafora puitis, tapi klaim ilmiah yang serius, datang dari kerangka teori yang disebut predictive processing.
Selama bertahun-tahun saya membayangkan otak seperti kamera dunia luar memancarkan informasi, mata dan telinga menangkapnya, lalu otak menyusunnya jadi gambaran yang koheren. Sederhana, linier, masuk akal. Tapi kerangka ini ternyata keliru atau setidaknya, sangat tidak lengkap. Predictive processing membalik urutannya sepenuhnya otak tidak menunggu informasi datang untuk kemudian diproses. Ia sudah lebih dulu menyusun prediksi tentang apa yang akan terjadi, dan sinyal indrawi yang masuk dari dunia hanyalah bahan koreksi semacam catatan kecil di pinggir halaman atas prediksi yang sudah disusun sebelumnya.
Karl Friston dan Prinsip Energi Bebas
Nama yang paling sering muncul di balik kerangka ini adalah Karl Friston, seorang neurosaintis yang mengajukan apa yang disebut free energy principle. Saya harus mengakui, ketika pertama kali mencoba memahami gagasan Friston, saya kewalahan bahasanya penuh istilah dari fisika statistik dan teori informasi, jauh dari bahasa neurosains populer yang biasa saya temui. Tapi inti gagasannya, kalau saya sederhanakan, cukup mengganggu ketenangan saya setiap sistem biologis yang bertahan hidup dari sel tunggal sampai otak manusia pada dasarnya sedang berusaha meminimalkan "kejutan". Bukan kejutan dalam arti sehari-hari, tapi dalam arti teknis selisih antara apa yang diprediksi sistem itu dan apa yang benar-benar terjadi.
Bagi Friston, otak bukan alat untuk merepresentasikan dunia seakurat mungkin. Otak adalah mesin yang berusaha membuat prediksinya sendiri menjadi kenyataan atau, kalau prediksi meleset, secepat mungkin merevisi prediksi itu agar selisihnya (yang disebut "prediction error") kembali kecil. Saya mulai melihat ini sebagai semacam tarik-menarik abadi prediksi menekan ke bawah, sinyal indrawi mendorong koreksi ke atas, dan yang saya alami sebagai "persepsi" hanyalah titik keseimbangan sementara dari tarik-menarik itu.
Yang membuat saya berhenti cukup lama untuk merenung adalah implikasinya pada ilusi optik. Saya selalu menganggap ilusi sebagai "kesalahan" otak semacam bug dalam sistem penglihatan. Tapi dalam kerangka Friston, ilusi justru adalah bukti bahwa sistem bekerja sebagaimana mestinya otak menerapkan pola yang paling mungkin berdasarkan pengalaman masa lalu, bahkan ketika pola itu tidak cocok dengan apa yang sebenarnya ada di depan mata. Ilusi bukan kegagalan prediksi ia adalah prediksi yang menang atas realitas.
Anil Seth dan Halusinasi yang Terkendali
Kalau Friston memberi saya kerangka matematis yang abstrak, saya menemukan pijakan yang lebih mudah dipahami lewat kerja Anil Seth, seorang neurosaintis kesadaran yang mempopulerkan istilah yang menurut saya brilian controlled hallucination. Seth berargumen bahwa apa yang kita sebut persepsi sadar sebenarnya adalah halusinasi dalam artian, ia dikonstruksi oleh otak, bukan direkam secara pasif dari dunia luar namun halusinasi ini "dikendalikan" karena terus-menerus dikoreksi oleh sinyal indrawi yang masuk.
Saya suka bagaimana Seth membedakan ini dari halusinasi dalam pengertian klinis. Ketika sistem prediksi bekerja normal, koreksi dari sinyal indrawi cukup kuat untuk menjaga prediksi tetap "berpijak" pada dunia nyata itulah yang kita alami sebagai persepsi yang stabil dan dapat dipercaya. Tapi Seth juga mengangkat kemungkinan yang menurut saya cukup mengusik pada kondisi tertentu, seperti psikosis, keseimbangan itu bisa terganggu. Prediksi otak menjadi terlalu dominan, sementara sinyal koreksi dari indra kehilangan bobotnya. Hasilnya adalah pengalaman yang oleh dunia klinis disebut halusinasi bukan karena otak "rusak" secara mendasar, tapi karena mekanisme yang sama yang biasanya menghasilkan persepsi normal, kini bekerja dengan keseimbangan yang timpang.
Saya merasa ini adalah salah satu titik paling tajam dari seluruh kerangka predictive processing ia tidak memperlakukan pengalaman "normal" dan pengalaman psikotik sebagai dua sistem yang berbeda, melainkan sebagai dua titik di sepanjang spektrum yang sama. Bukan otak yang sehat versus otak yang cacat, melainkan seberapa besar bobot yang diberikan pada prediksi dibanding pada koreksi indrawi.
Efek Plasebo sebagai Prediksi yang Menjelma
Dari sini saya mulai melihat kerangka yang sama muncul di tempat yang tidak terduga efek plasebo. Saya dulu menganggap plasebo sebagai semacam "trik pikiran" yang samar-samar bekerja lewat sugesti. Tapi dalam bingkai predictive processing, plasebo punya penjelasan yang lebih tajam ketika seseorang meyakini dirinya akan sembuh misalnya setelah menelan pil yang sebenarnya tidak mengandung zat aktif otak menyusun prediksi kuat tentang penurunan rasa sakit. Prediksi itu, dalam sistem yang memperlakukan prediksi sebagai penentu utama pengalaman, bisa benar-benar menggeser bagaimana sinyal nyeri diproses dan dirasakan, bahkan mengubah respons fisiologis yang terukur.
Ekspektasi, dengan kata lain, bukan sekadar bumbu psikologis di atas proses biologis yang "sesungguhnya". Ia adalah bagian dari proses biologis itu sendiri.
Pertanyaan yang Tersisa
Semua ini membawa saya pada satu pertanyaan yang terus mengganggu saya setiap kali saya mencoba menutup laptop dan kembali ke aktivitas sehari-hari kalau apa yang saya alami sebagai realitas sebenarnya adalah tebakan otak saya yang terus-menerus diperbarui, seberapa jauh saya bisa mempercayai apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan sebagai "benar-benar terjadi"? Saya tidak berusaha menuju kesimpulan skeptis yang ekstrem dunia di luar kepala saya tetap ada, dan koreksi indrawi tetap menjaga prediksi saya berpijak padanya. Tapi saya jadi lebih rendah hati terhadap persepsi saya sendiri. Setiap kali saya begitu yakin melihat sesuatu "apa adanya", saya kini teringat bahwa yang sebenarnya saya alami adalah hasil rekonsiliasi panjang antara apa yang otak saya duga akan terjadi, dan apa yang dunia, dengan caranya yang diam, coba koreksi kembali.

