Ada satu perhitungan sederhana yang mengganggu saya begitu saya menemukannya ratarata manusia berkedip 15 hingga 20 kali setiap menit. Kalau dijumlahkan, itu berarti mata saya tertutup selama beberapa persen dari seluruh waktu saya terjaga bukan angka kecil. Tapi yang membuat saya benar-benar berhenti sejenak bukan frekuensinya, melainkan fakta bahwa saya, seperti hampir semua orang, tidak pernah sekalipun menyadari kegelapan itu terjadi. Dunia di depan mata saya terasa mengalir tanpa jeda, padahal setiap beberapa detik, secara harfiah, layarnya sempat mati.
Saya mulai bertanya-tanya ke mana perginya momen gelap itu? Kenapa saya tidak pernah mengalami dunia sebagai video yang terputus-putus, dengan kedipan hitam yang muncul berulang? Jawabannya ternyata jauh lebih menarik dari sekadar "otak bergerak cepat sehingga tidak sempat kita sadari" dan di titik inilah saya menemukan riset seorang neurosaintis Jepang bernama Tamami Nakano yang mengubah cara saya memandang tindakan sekecil berkedip.
Nakano dan Kedipan sebagai Jeda yang Disengaja
Nakano dan timnya melakukan sesuatu yang menurut saya cerdik mereka meminta partisipan menonton sesuatu sambil otaknya dipindai lewat fMRI, lalu melihat apa yang terjadi tepat pada momen berkedip. Dugaan awal yang wajar adalah aktivitas otak akan menurun sejenak semacam "mati layar" singkat yang sejalan dengan hilangnya cahaya di retina. Tapi yang ditemukan justru sebaliknya tepat saat berkedip, muncul lonjakan aktivitas di jaringan yang disebut default mode network jaringan otak yang biasanya aktif ketika kita sedang melamun, merenung, atau tidak fokus pada tugas eksternal apa pun.
Ini yang membuat saya berhenti membaca sejenak untuk mencerna. Berkedip, yang selama ini saya anggap murni tindakan mekanis untuk melembabkan mata, ternyata tampak seperti jeda kognitif mikro semacam napas kecil bagi perhatian saya sendiri, ratusan kali dalam sehari, tanpa saya pernah memintanya atau menyadarinya.
Nakano bahkan menemukan sesuatu yang menurut saya lebih menggelitik pola berkedip ternyata tidak acak. Saat orang menonton video yang punya struktur naratif misalnya adegan yang jelas jeda maupun potongannya kedipan cenderung berkumpul tepat di titiktitik jeda alami cerita, seolah otak "menunggu" momen paling aman untuk menutup mata sejenak tanpa kehilangan informasi penting. Saya jadi membayangkan otak saya sendiri, tanpa sepengetahuan saya, terus menerus menghitung kapan waktu paling tepat untuk mengambil jeda mikroskopis ini.
Volkmann dan Misteri Kegelapan yang Hilang
Tapi pertanyaan yang lebih tua justru datang lebih dulu, jauh sebelum era fMRI, dari kerja seorang peneliti bernama Frances Crane Volkmann pada era 1970an. Volkmann meneliti fenomena yang disebut saccadic suppression penekanan sinyal visual yang terjadi bukan hanya saat berkedip, tapi juga saat mata bergerak cepat (saccade) dari satu titik pandang ke titik lain. Volkmann menunjukkan bahwa otak secara aktif menekan pemrosesan sinyal visual selama periode transisi ini, bukan sekadar karena mata tertutup atau bergerak terlalu cepat untuk direkam.
Yang saya pelajari dari Volkmann dan penerus penelitiannya adalah bahwa otak melakukan sesuatu yang jauh lebih canggih daripada sekadar "mengabaikan" gambar buram akibat kedipan atau gerakan mata. Ia secara aktif menyunting pengalaman visual saya, menghapus jeda dan keburaman itu dari kesadaran, lalu menyambung potonganpotongan gambar yang tersisa menjadi sesuatu yang terasa mulus dan berkesinambungan. Saya seperti sedang menonton film yang telah disunting rapi oleh seorang editor tak kasat mata dan editor itu adalah otak saya sendiri, bekerja tanpa pernah meminta persetujuan saya.
Kedipan sebagai Metafora untuk Sesuatu yang Lebih Besar
Semakin saya merenungkan ini, semakin saya melihat berkedip sebagai contoh kecil dari sesuatu yang jauh lebih luas betapa banyak "penyuntingan" yang dilakukan otak terhadap pengalaman saya, tanpa saya pernah diberi tahu sedang terjadi. Saya cenderung mempercayai bahwa apa yang saya alami sebagai kenyataan adalah rekaman langsung dan utuh dari dunia luar. Tapi kedipan mengingatkan saya bahwa kesadaran saya jauh lebih mirip sebuah versi yang sudah disunting penuh potongan yang dihapus, jeda yang disembunyikan, demi menjaga ilusi kesinambungan yang saya sebut "pengalaman".
Saya juga tidak bisa berhenti memikirkan sisi lain dari temuan Nakano kalau berkedip berkaitan dengan default mode network jaringan yang sama yang aktif saat saya melamun atau merenung tanpa arah mungkin setiap kedipan bukan cuma soal mata yang kering, tapi juga soal otak yang mencuri jeda sepersekian detik untuk dirinya sendiri, ratusan kali sehari, di tengah segala hal yang saya kira sedang saya perhatikan penuh.
Ada sesuatu yang menggelitik sekaligus sedikit meresahkan dari gagasan ini bahwa tindakan paling sepele yang saya lakukan puluhan ribu kali sehari sesuatu yang bahkan tidak pernah saya anggap sebagai "tindakan" ternyata menyimpan jejak dari proses kognitif yang jauh lebih dalam daripada yang pernah saya bayangkan. Saya jadi bertanya, sambil menutup dan membuka mata saya lagi tanpa sadar berapa banyak lagi hal kecil yang saya lakukan setiap hari, yang sebenarnya adalah otak saya bekerja diamdiam untuk menjaga saya tetap merasa utuh?

