Mengapa ada orang yang begitu mudah membuat orang lain setuju, namun di saat yang sama tega merusak nama baik orang lain? Jawabannya terletak pada fungsi spesifik di otak. Orang dengan kemampuan persuasi tinggi sering kali memiliki sistem dopaminergik yang sangat aktif. Ketika mereka berhasil meyakinkan orang lain, otak mereka melepaskan dopamin dalam jumlah besar. Namun, jika mereka pernah merasa ditolak mereka merasakan luka ego yang nyata secara neurologis.
Secara ideal, PFC bertugas sebagai rem moral. Namun, pada individu dengan kecenderungan ini, PFC gagal meredam dorongan amigdala untuk menyerang balik. Alih-alih serangan fisik, mereka menggunakan agresi relasional. Merusak nama baik orang lain adalah strategi kognitif untuk mengembalikan hierarki dominasi mereka yang sempat goyah.
Induk persuasi terletak pada Theory of Mind, kemampuan untuk memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Ironisnya, pelaku manipulasi memiliki ToM yang sangat tajam. Mereka tahu persis kata-kata apa yang akan membuat audiens percaya dan celah mana yang paling efektif untuk menghancurkan reputasi lawan mereka.
Untuk memahami ini lebih dalam, kita bisa melihat pola perilaku yang sering dikaitkan dengan profil Narcissistic Personality Inventory dalam sejarah atau budaya populer seperti karakter fiksi atau tokoh politik kontroversial.
Meskipun fiksi, karakter ini adalah representasi neurologis yang akurat dari profil, ia menggunakan informasi sebagai senjata. Begitu seseorang tidak sejalan dengan rencananya, ia tidak membantah argumen orang tersebut dengan logika, melainkan merusak kredibilitas orang itu di mata publik.
Secara neurologis, individu seperti ini mengalami apa yang disebut Narcissistic Injury saat tidak disetujui. Otak mereka mempersepsikan perbedaan pendapat sebagai ancaman eksistensial, sehingga responnya adalah pemusnahan karakter
Efek halo, jika seseorang karismatik dan persuasif, otak kita secara otomatis mengasumsikan bahwa apa yang mereka katakan tentang orang lain juga benar. Dari social proof, manusia memiliki insting purba untuk berada di sisi pemenang atau sisi yang dominan agar tetap aman dalam kelompok.
Perilaku merusak nama orang lain karena dendam intelektual adalah tanda dari Dark Triad (Machiavellianisme, Narsisme, dan Psikopati) dalam dosis tertentu, di mana empati afektif rendah namun empati kognitif sangat tinggi
Kecenderungan untuk menghancurkan reputasi orang lain hanya karena ketidaksepakatan di masa lalu adalah bentuk kompensasi atas kerentanan ego yang ekstrem. Secara neurologis, ini adalah kegagalan integrasi antara empati dan kendali impuls, yang dibungkus dengan kemampuan komunikasi yang mahir.

