IBHCenter

Indonesian Board of Hypnotherapy Official Website

  • Home
  • Blog
  • Member
    • Certified Hypnotist
    • Certified Hypnotherapist
    • Trainer
  • Jadwal Pelatihan
  • Renewal
  • login

Belajar dari Homelander (The Boys)

February 14, 2026 by Rifqah Ramdhana Jufri, M.Pd

Dalam dinamika sosial, kita sering menjumpai individu yang memperlakukan kritik ringan layaknya serangan fisik yang fatal. Bagi mereka, kata-kata bukan sekadar alat komunikasi, melainkan potensi peluru. Fenomena ini, yang sering disertai dengan kecenderungan mendistorsi cerita demi menjaga citra diri tetap bersih, bukanlah sekadar masalah karakter yang sulit. Secara neurologis, ini adalah manifestasi dari salah urat pada sirkuit kewaspadaan otak.

Secara neurologis, pusat kendali rasa takut dan ancaman manusia berada pada Amigdala. Pada individu dengan tingkat sensitivitas yang sehat, amigdala hanya akan menyala hebat saat ada ancaman nyata. Namun, pada individu dengan hipersensitivitas patologis, amigdala berada dalam kondisi hyper-arousal atau siaga satu yang konstan.

Setiap kata yang ambigu, nada bicara yang sedikit tinggi, atau bahkan keheningan lawan bicara dideteksi sebagai ancaman eksistensial. Ketika amigdala membajak otak Amygdala Hijack, fungsi Prefrontal Cortex pusat logika dan nalar menjadi lumpuh. Hasilnya? Reaksi emosional yang meledak-ledak dan perasaan terancam yang luar biasa, meskipun pemicunya hanya hal sepele.

Mengapa individu ini cenderung mengubah cerita atau membuat lawan bicara terlihat lebih buruk demi citra mereka yang netral? Jawabannya terletak pada upaya otak menghindari Disonansi Kognitif.

Bagi mereka, mengakui kesalahan atau terlihat "jahat" memicu lonjakan hormon stres (Kortisol) yang sangat menyakitkan secara psikis. Untuk meredam ini, otak secara otomatis melakukan penyuntingan memori. Mereka tidak selalu berbohong dengan sengaja; terkadang otak mereka benar-benar meyakini narasi palsu tersebut (konfabulasi). Dengan memosisikan diri sebagai korban atau pihak yang netral, otak mendapatkan asupan Dopamin sebagai bentuk perlindungan diri dari rasa malu yang menghancurkan.

Untuk memahami dinamika ini secara lebih nyata, kita bisa melihat karakter Homelander dari serial populer The Boys. Meskipun ia memiliki kekuatan fisik yang tak terbatas, secara neurologis ia adalah representasi sempurna dari hipersensitivitas yang rapuh.

Hipersensitivitas terhadap kritik Homelander memiliki kebutuhan patologis untuk dicintai dan divalidasi. Satu komentar negatif atau keraguan dari rekan timnya dianggap sebagai pengkhianatan besar. Amigdalanya selalu dalam kondisi red alert, membuat setiap interaksi sosial menjadi medan tempur harga diri.

Gaslighting, setiap kali ia melakukan kesalahan fatal atau kekejaman, otaknya segera menyusun narasi bahwa ia adalah korban dari sistem atau orang lain. Ia mendistorsi fakta dalam bicaranya untuk mempertahankan citra sebagai pahlawan yang netral dan benar.

Analisis neurologis Homelander menderita apa yang secara klinis disebut sebagai Narcissistic Injury. Jalur sarafnya tidak memiliki resiliensi untuk memproses kegagalan, sehingga otak memilih jalur pintas: menyerang orang lain atau memutarbalikkan kenyataan sebagai proteksi ego.

Perilaku ini menciptakan efek bola salju. Karena mereka sering mengubah cerita untuk terlihat baik, orang-orang di sekitar mereka mulai menarik diri karena merasa dimanipulasi. Tragisnya, isolasi ini kemudian dianggap sebagai serangan atau penolakan baru oleh si individu sensitif, yang memicu amigdala bekerja lebih keras lagi.

Perilaku ini sering kali berakar dari trauma masa lalu (seperti C-PTSD) di mana otak belajar bahwa "terlihat salah berarti dalam bahaya maut." Menghadapi individu dengan pola saraf seperti ini memerlukan boundaries yang sangat kuat. Memahami bahwa reaksi mereka adalah hasil dari disfungsi sirkuit saraf bukan sekadar niat jahat dapat membantu kita untuk tidak ikut terbawa dalam arus distorsi realita mereka.

Penyembuhan bagi kondisi ini melibatkan pelatihan ulang otak melalui terapi seperti DBT (Dialectical Behavior Therapy). Tujuannya adalah memperkuat jalur komunikasi antara logika dan emosi, sehingga kata-kata orang lain tidak lagi dianggap sebagai peluru, melainkan sekadar informasi yang bisa diproses dengan tenang.

 

Filed Under: Hypnosis in Communication

In memoriam Yan Nurindra

Certified Instructor of The Month January-2026

Azwan Zamzami, S.Psi, CI, CMT.NNLP, C.PLC, C.NLC
No Anggota: 12092

lihat Profile

//Artikel Terbaru

  • Belajar dari Homelander (The Boys)
  • Di Balik Karisma dan Agresi Pasif
  • Mengapa Otak Elon Musk dan Richard Branson Tidak Mengenal Kata Cukup
  • Anatomi Gengsi
  • MEK rahasia inti eksekusi tanpa terkecuali

//Jadwal Pelatihan

Advanced Hypnotherapy

14-Feb-2026 - Depok

DR.(H.C) ARIS BUDIMAN, CHt.,CPHt.,CMHt, CI, CMTHt.

Detail

Basic Hypnotherapy

14-Feb-2026 - Yogyakarta

Ilyas Afsoh

Detail

Basic Hypnotherapy

14-Feb-2026 - Bandung

Fx. Praptoharsoyo,CI,MT.NNLP

Detail

Basic Hypnotherapy

14-Feb-2026 - Yogyakarta

Agung Dwi Sasongko, S.Pd., S.Psi., M.Pd.

Detail

Jadwal Lengkap

// News

// Our Network

logo-nca logo-nnlp

// The Indonesian Board of Hypnotherapy

Plaza Basmar Lantai 3
Jl. Mampang Prapatan Raya 106 Jakarta Selatan
Whatsapp: 0813-8100-0981 (Mey)
IBH is managed by Integra

© Copyright 2014 IBH Center · All Rights Reserved · Powered by Indonesia9 ·