IBHCenter

Indonesian Board of Hypnotherapy Official Website

  • Home
  • Blog
  • Member
    • Certified Hypnotist
    • Certified Hypnotherapist
    • Trainer
  • Jadwal Pelatihan
  • Renewal
  • login

Anatomi Gengsi

February 12, 2026 by Rifqah Ramdhana Jufri, M.Pd

Dalam kacamata neurosains, gengsi bukanlah sekadar fenomena sosial, ia adalah mekanisme pertahanan diri yang agresif. Ketika seseorang merasa harga dirinya terancam, otak mengaktifkan sirkuit yang sama dengan ancaman fisik. Namun, pada individu yang rela melakukan kebohongan patologis demi reputasi, terjadi malfungsi menarik dalam hierarki kognitif mereka.

Normalnya, Prefrontal Cortex (PFC) berfungsi sebagai CEO otak yang mengelola kebenaran dan kontrol impuls. Namun, menurut perspektif Antonio Damasio, pakar neurobiologi emosi, keputusan manusia sering kali disetir oleh somatic markers sinyal emosional dari tubuh.

Bagi orang dengan gengsi tinggi, ketakutan akan terlihat rendah yg memicu sinyal stres yg hebat. Untuk meredam stres ini, PFC justru bekerja lembur bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk mengonstruksi narasi fiktif yang koheren agar status sosialnya tetap terjaga. Mereka tidak sekadar menipu orang lain, otak mereka secara aktif membutuhkan kebohongan tersebut untuk merasa aman secara biologis.

Setiap kali cerita fiktifnya dipercaya atau mendapatkan kekaguman, sistem reward di ventral striatum melepaskan dopamin. Analisa ala Robert Sapolsky, peneliti neurobiologi perilaku ini sering menekankan betapa otak manusia sangat sensitif terhadap hierarki. Ketika seseorang yang sangat gengsi bercerita tentang pencapaian palsu, otak mereka merasakan hadiah instan yang mengalahkan rasa bersalah. Lama-kelamaan, jalur saraf ini menguat, berbohong menjadi jalur pintas tercepat untuk mendapatkan kepuasan saraf.

Normalnya, saat kita berbohong, Anterior Cingulate Cortex (ACC) akan mendeteksi konflik antara kenyataan dan ucapan, yang memicu rasa tidak nyaman atau disonansi kognitif. Pada karakter gengsi tingkat tinggi, ACC mengalami desensitisasi.

V.S. Ramachandran, yang terkenal dengan studinya tentang penyangkalan memori, mungkin melihat ini sebagai bentuk pertahanan ego ekstrem di mana otak menulis ulang memori agar sesuai dengan citra diri yang diinginkan. Mereka mulai memercayai kebohongan mereka sendiri karena otak tidak lagi mampu membedakan antara fakta dan ambisi.

Menghadapi individu seperti ini memerlukan pendekatan yang presisi. Berdebat dengan fakta keras sering kali justru memicu reaksi defensif yang lebih hebat efek backfire. Secara kognitif, mempermalukan mereka di depan umum akan memicu lonjakan kortisol hormon stres yang membuat mereka semakin terjebak dalam kebohongan untuk menyelamatkan muka. Jika Anda ingin mengonfrontasi, lakukan secara empat mata untuk menurunkan tensi sistem limbik mereka.

Alih-alih berkata, tu bohong, gunakan pertanyaan terbuka yang memaksa otak mereka melakukan pemrosesan data ulang. Wah, menarik sekali. Bagaimana detail prosesnya saat itu terjadi? ertanyaan mendetail memaksa Prefrontal Cortex mereka bekerja lebih keras untuk menjaga konsistensi cerita fiktifnya, yang sering kali membuat retakan dalam narasi mereka muncul dengan sendirinya tanpa Anda harus menuduh.

Psikologi kognitif menyarankan untuk memutus ketergantungan dopamin mereka pada kebohongan. Berikan apresiasi atau perhatian justru saat mereka membicarakan hal-hal yang nyata atau menunjukkan sisi manusiawi mereka. Ini melatih otak mereka bahwa validasi bisa didapat tanpa harus menjadi fiktif.
Orang yang terperangkap dalam gengsi patologis sebenarnya hidup dalam mode bertahan hidup, survival mode yang konstan.

Mereka tidak menikmati kenyataan karena kenyataan dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi mereka. Memahami bahwa perilaku ini adalah hasil dari sirkuit otak yang malfungsi dapat membantu kita merespons dengan ketegasan yang tetap tenang, bukan dengan amarah yang sia-sia. Intix otak manusia adalah mesin penyusun cerita. Namun, bagi mereka yang diperbudak gengsi, mesin ini kehilangan rem etikanya demi menjaga hormon harga diri tetap tinggi di tengah kekosongan jiwa.

Filed Under: Hypnotherapy

In memoriam Yan Nurindra

Certified Instructor of The Month January-2026

Azwan Zamzami, S.Psi, CI, CMT.NNLP, C.PLC, C.NLC
No Anggota: 12092

lihat Profile

//Artikel Terbaru

  • Anatomi Gengsi
  • MEK rahasia inti eksekusi tanpa terkecuali
  • Dampak Anak Tidak Mau Makan Nasi Terhadap Tumbuh Kembang
  • Anak Susah Makan Nasi? Ini Penyebab Psikologis yang Jarang Disadari
  • Hipnoterapi Anak Takut Nasi di Lumajang: Solusi Efektif Mengatasi Anak Susah Makan

//Jadwal Pelatihan

Professional Hypnotherapy Workshop

12-Feb-2026 - Jakarta

DR.(H.C) ARIS BUDIMAN, CHt.,CPHt.,CMHt, CI, CMTHt.

Detail

Professional Hypnotherapy Workshop

12-Feb-2026 - Surabaya

Ilyas Afsoh

Detail

Basic Hypnotherapy

12-Feb-2026 - Tangerang

Bernartdous Sugiharto, S.S.T, CH, CHt, CPHt, CMH, CI, C.ESTher, CT. MTH, CT. NLMOR, CT NNLP, CT. PBL, CT. HLC

Detail

Basic Hypnotherapy

13-Feb-2026 - Depok

DR.(H.C) ARIS BUDIMAN, CHt.,CPHt.,CMHt, CI, CMTHt.

Detail

Jadwal Lengkap

// News

// Our Network

logo-nca logo-nnlp

// The Indonesian Board of Hypnotherapy

Plaza Basmar Lantai 3
Jl. Mampang Prapatan Raya 106 Jakarta Selatan
Whatsapp: 0813-8100-0981 (Mey)
IBH is managed by Integra

© Copyright 2014 IBH Center · All Rights Reserved · Powered by Indonesia9 ·