Di balik perilaku manusia yang sering dianggap tabu seperti mengupil, memakannya (Mukofagi), hingga kebiasaan menciumi tangan sendiri terdapat sebuah orkestra saraf yang bekerja tanpa henti. Ini bukan sekadar perilaku kurang kerjaan, melainkan sisa-sisa evolusi yang terjebak dalam struktur otak modern kita.
Jika kita merujuk pada pemikiran Robert Sapolsky, seorang neurobiologis dari Stanford, perilaku ini adalah hasil dari pergulatan antara dua wilayah otak. Korteks adalah polisi moral kita, ia tahu bahwa mengupil di depan umum adalah sanksi sosial. Namun, ketika kita melamun, stres, atau sendirian, kendali PFC melemah.
Di saat itulah, Basal Ganglia pusat kebiasaan otomatis mengambil alih kendali motorik. Tangan bergerak secara tidak sadar menuju wajah. Ini adalah bentuk Self Soothing penenangan diri yang sangat primitif. Bagi otak, menyentuh wajah dan mengeksplorasi lubang tubuh memberikan input sensorik yang konstan, memastikan sistem saraf kita bahwa semuanya terkendali.
Mengapa setelah berhasil mengambil upil, ada dorongan untuk memakannya? Wolfram Schultz, pakar sistem reward otak, akan menjelaskan ini melalui Dopamine Spike. Tindakan mengeluarkan benda asing dari hidung memberikan rasa lega instan karena membersihkan saluran napas.
Otak mencatat keberhasilan ini sebagai kemenangan kecil. Bagi mereka yang lanjut memakannya, terdapat stimulasi tambahan pada Nukleus Akumbens pusat kesenangan. Tekstur yang khas dan kandungan garam dalam mukus memicu sensor rasa di lidah yang mengirim sinyal balik ke otak bahwa "misi pembersihan" telah selesai secara paripurna. Ini adalah sirkuit feedback yang menutup siklus kepuasan taktil dan oral sekaligus.
Fenomena menciumi tangan setelah menyentuh sesuatu atau bersalaman adalah bagian dari Social Chemosignaling. Secara neurologis, manusia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anjing yang saling mengendus. Saat kita menciumi jari, Bulbus Olfaktorius kita bekerja keras mengirim data ke Amigdala.
Tanpa sadar, saat sedang melakukan pemindaian data kimia. Anda mengecek kadar hormon, tanda-tanda stres, atau bahkan identitas biologis dari objek atau orang yang baru saja Anda sentuh. Ini adalah cara otak membangun peta navigasi sosial yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan. Otak Anda sedang bertanya: Apakah ini aman? Apakah ini familiar? Apakah ini ancaman?
Secara neurofisiologis, hidung dan mulut memiliki representasi yang sangat luas di Somatosensory Cortex peta tubuh di otak. Artinya, area ini sangat sensitif dan memberikan umpan balik yang kuat. Keinginan untuk mencicipi atau mencium hasil eksplorasi jari adalah cara sistem saraf melakukan verifikasi data.
Meskipun secara sosial perilaku ini diberi label negatif, secara biologis ini adalah mekanisme pengecekan lingkungan yang sangat efisien. Kita adalah makhluk sensorik yang butuh menyentuh, mencium, dan merasakan untuk memahami realitas di sekitar kita.
Jadi, ketika tangan bergerak menuju hidung atau secara refleks mencium jari setelah memegang sesuatu, ketahuilah bahwa itu adalah perangkat lunak purba yang sedang berjalan di atas perangkat keras modern. Selama perilaku ini tidak bersifat kompulsif hingga melukai jaringan kulit (yang bisa mengarah pada gangguan OCD atau Rhinotillexomania, ini hanyalah cara unik otak anda berinteraksi dengan dunia.
Kebiasaan mengupil atau menciumi tangan sering kali bersifat sub kortikal terjadi di bawah sadar. Langkah pertama adalah memindahkannya ke kesadaran logis
Pakailah cincin yang bertekstur, gelang karet, atau plester kecil di ujung jari telunjuk/jempol. Saat jari bergerak menuju wajah, tekstur asing ini akan memberikan kejutan sensorik yang membangunkan kesadaran sebelum tindakan dilakukan.
Perhatikan apakah ini terjadi saat bosan butuh dopamin atau cemas butuh penenangan. Otak Anda sebenarnya sedang mencari input sensorik. Berikan alternatif yang memberikan kepuasan serupa tanpa efek samping
Gunakan fidget spinner, kelereng, atau memutar-mutar pulpen. Ini memberikan stimulasi pada Somatosensory Cortex yang sama dengan saat mengupil.
Jika anda sering menciumi tangan secara tidak sadar, cobalah menggunakan minyak esensial seperti lavender atau peppermint pada pergelangan tangan. Ini memberikan input data kimia yang jauh lebih kaya dan menyenangkan bagi Bulbus Olfaktorius
Setiap kali muncul dorongan, segera minum satu teguk air. Ini mengalihkan fokus oral dan memberikan sensasi fisik baru di tenggorokan.
Tarik napas dalam melalui hidung. Ini memberikan umpan balik pada reseptor saraf di hidung bahwa saluran udara sudah bersih dan lapang, sehingga mengurangi dorongan untuk membersihkannya secara manual.
Sirkuit saraf yang tidak digunakan lama-kelamaan akan melemah. Dalam neurosains, ini disebut Long Term Depression. Jika anda berhasil menahan dorongan selama 21-66 hari, jalur saraf lama tersebut akan mulai tertutup semak belukar melemah, dan jalur baru seperti memainkan pulpen atau mencium aroma minyak esensial) akan menjadi jalan tol baru yang otomatis.
Berikan visualisasi pada otak tentang risiko infeksi. Ingatlah bahwa area di sekitar hidung dan mulut disebut Triangle of Death dalam anatomi karena pembuluh darahnya terhubung langsung ke otak. Bayangkan setiap kali jari masuk, anda sedang memasukkan koloni bakteri ke gerbang utama otak ketakutan yang logis terkadang bisa memperkuat kontrol Korteks Prefrontal.
Poinyya, jangan menghukum diri sendiri jika sesekali terpeleset. Otak manusia memang didesain untuk mencari kenyamanan sensorik. Yang penting adalah mulai melatih tangan untuk menemukan kesibukan lain yang tidak merugikan kesehatan jaringan tubuh.

