Mengapa dua orang yang melihat fakta yang sama bisa sampai pada kesimpulan yang sangat berbeda? Di media sosial, fenomena ini terjadi setiap hari. Satu berita dipuji sebagai kebenaran oleh satu kelompok, tetapi dianggap kebohongan oleh kelompok lain. Yang menarik, keduanya sama-sama merasa telah berpikir secara rasional.
Apakah ini berarti manusia tidak lagi mampu berpikir objektif? Neurosains memberikan jawaban yang lebih kompleks. Otak manusia ternyata tidak dirancang untuk menjadi mesin pencari kebenaran yang sepenuhnya netral. Sebaliknya, otak berevolusi untuk membuat prediksi, menghemat energi, dan mempertahankan keyakinan yang selama ini membantu seseorang memahami dunianya.
Salah satu konsep yang banyak dibahas dalam neurosains modern adalah predictive processing. Menurut pendekatan ini, otak tidak sekadar menerima informasi dari lingkungan, tetapi terus-menerus membangun prediksi tentang apa yang akan dilihat, didengar, dan dipercaya. Informasi baru kemudian dibandingkan dengan model yang sudah ada di dalam otak.
Ketika informasi baru sesuai dengan keyakinan yang telah dimiliki, otak memprosesnya dengan relatif mudah. Sebaliknya, ketika informasi tersebut bertentangan dengan keyakinan yang sudah tertanam, otak menghadapi apa yang disebut sebagai prediction error. Kondisi ini menuntut otak untuk memperbarui model mentalnya, sebuah proses yang memerlukan usaha kognitif lebih besar dan sering kali menimbulkan ketidaknyamanan.
Di sinilah muncul fenomena yang dalam psikologi dikenal sebagai confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari, mengingat, dan lebih mudah menerima informasi yang mendukung keyakinan yang telah dimiliki, sambil mengabaikan atau meremehkan informasi yang bertentangan.
Dari sudut pandang neurosains, bias ini bukan sekadar kelemahan berpikir. Ia merupakan konsekuensi dari cara otak bekerja. Korteks prefrontal berusaha mengevaluasi bukti secara rasional, tetapi proses tersebut tidak bekerja sendirian. Sistem emosi, memori, pengalaman masa lalu, dan identitas sosial ikut memengaruhi bagaimana suatu informasi dimaknai.
Itulah sebabnya sebuah fakta ilmiah dapat diterima oleh seseorang, tetapi ditolak oleh orang lain yang memiliki pengalaman hidup, lingkungan sosial, atau identitas kelompok yang berbeda. Penolakan tersebut sering kali bukan karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena informasi baru dianggap mengancam model mental yang selama ini memberikan rasa aman dan kepastian.
Media sosial memperkuat kecenderungan ini. Algoritma digital dirancang untuk menampilkan konten yang sesuai dengan minat dan perilaku pengguna. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan jenis informasi tertentu, semakin banyak informasi serupa yang akan ditampilkan. Lama-kelamaan, terbentuklah echo chamber, yaitu lingkungan informasi yang terus mengulang pandangan yang sama hingga terasa sebagai satu-satunya kebenaran.
Akibatnya, seseorang semakin jarang terpapar perspektif yang berbeda. Bukan karena pandangan lain tidak ada, tetapi karena algoritma dan kebiasaan kita bersama-sama membatasi apa yang kita lihat. Dalam kondisi seperti ini, mengubah pendapat seseorang tidak cukup hanya dengan menyodorkan data. Otak tidak hanya memproses fakta, tetapi juga mempertimbangkan makna emosional, identitas kelompok, dan rasa aman. Ketika sebuah informasi dianggap mengancam identitas tersebut, respons yang muncul sering kali bukan rasa ingin tahu, melainkan penolakan.
Hal ini menjelaskan mengapa perdebatan di ruang publik sering berakhir tanpa kesepakatan. Masing-masing pihak merasa membawa bukti yang paling kuat, tetapi keduanya memproses bukti tersebut melalui model mental yang berbeda. Apakah manusia kemudian tidak mungkin berpikir objektif? Neurosains justru menunjukkan bahwa otak memiliki kemampuan untuk berubah melalui neuroplastisitas. Model mental dapat diperbarui ketika seseorang bersedia mengevaluasi keyakinannya, terbuka terhadap bukti baru, dan terbiasa berdialog dengan pandangan yang berbeda. Namun, proses ini membutuhkan waktu, kerendahan hati intelektual, dan lingkungan yang mendorong refleksi, bukan sekadar reaksi.
Di era digital, tantangan terbesar bukanlah membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah. Tantangan yang lebih mendasar adalah mengenali bagaimana otak kita sendiri memproses informasi. Sebab, sebelum kita terjebak oleh berita palsu, sering kali kita terlebih dahulu terjebak oleh keyakinan yang tidak pernah kita pertanyakan. Mungkin, langkah pertama menuju pemikiran yang lebih kritis bukanlah mencari lebih banyak informasi, melainkan berani bertanya kepada diri sendiri:
"Apakah saya mempercayai informasi ini karena memang didukung oleh bukti, atau karena informasi tersebut sesuai dengan apa yang sejak awal ingin saya percayai?"
Referensi
Friston, K. (2010). The Free-Energy Principle: A Unified Brain Theory? Nature Reviews Neuroscience.
Clark, A. (2013). Whatever Next? Predictive Brains, Situated Agents, and the Future of Cognitive Science. Behavioral and Brain Sciences.
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow.
Sharot, T. (2017). The Influential Mind: What the Brain Reveals About Our Power to Change Others.

