IBHCenter

Indonesian Board of Hypnotherapy Official Website

  • Home
  • Blog
  • Member
    • Certified Hypnotist
    • Certified Hypnotherapist
    • Trainer
  • Jadwal Pelatihan
  • Renewal
  • login

Only Positive Vibes, Not Always a Good Thing

May 11, 2026 by Rifqah Ramdhana Jufri

Menarik sekali. Menghubungkan ambisi, toxic positivity, dan kepribadian neurotik melalui kacamata neurosains membawa kita ke dalam labirin sirkuit otak yang sangat kompleks. Jika kita bedah bagaimana dorongan ambisi yang dipaksakan untuk selalu berpikir positif justru menjadi racun mematikan, khususnya bagi mereka yang memiliki kecenderungan neurotik (neurotisime tinggi).

Untuk memahami mengapa toxic positivity sangat berbahaya bagi tokoh neurotik, kita harus melihat cetak biru saraf mereka terlebih dahulu. Neurotisisme salah satu dimensi kepribadian utama dalam Big Five ditandai oleh ketidakstabilan emosi, kecemasan kronis, dan sensitivitas tinggi terhadap ancaman. Secara neurobiologis, otak seorang neurotik memiliki karakteristik unik

Amigdala pusat pemrosesan emosi dan ancaman bekerja sangat reaktif. Stimulus kecil yang bagi orang lain biasa saja, oleh amigdala neurotik ditafsirkan sebagai bahaya besar. Dorsolateral Prefrontal Cortex (dlPFC), yang berfungsi sebagai pengontrol emosi rasional dan logika, kesulitan meredam alarm yang terus-menerus dibunyikan oleh amigdala.

DMN jaringan otak yang aktif saat kita melamun atau berpikir tentang diri sendiripada tokoh neurotik sering kali mengalami hyper connectivity. Ini memicu rumor kronis berpikir berlebihan/overthinking yang berputar-putar tanpa solusi. Ketika seorang neurotik memiliki ambisi besar, mereka didorong oleh dua kekuatan yang saling bertolak belakang, approach motivation keinginan mencapai sukses dan avoidance motivation ketakutan luar biasa akan kegagalan.

Di sinilah toxic positivity masuk sebagai solusi instan yang merusak. Doktrin bahwa kamu harus selalu positif, kegagalan hanya ada di pikiranmu, atau kesedihan adalah tanda kelemahan yang memaksa otak neurotik melakukan represi emosi yang ekstrem. Neurosains membedakan antara Cognitive Reappraisal membingkai ulang masalah secara sehat dan Expressive Suppression menekan emosi negatif secara paksa.

Toxic positivity memaksa tokoh neurotik melakukan Expressive Suppression. Ketika mereka merasa cemas atau gagal, mereka memaksa diri untuk tersenyum dan berkata, "Semua baik-baik saja." Penelitian fMRI menunjukkan bahwa menekan emosi secara sadar justru meningkatkan aktivitas amigdala, bukan menurunkannya. Jantung berdetak lebih cepat, kadar kortisol (hormon stres) melonjak, dan beban kognitif pada prefrontal cortex meningkat drastis.

Otak mendeteksi adanya ketidakselarasan antara apa yang dirasakan (bahaya) dan apa yang diekspresikan (aman), menciptakan disonansi kognitif yang melelahkan. Ambisi digerakkan oleh jalur dopaminergik mesolimbik atau sistem penghargaan otak. Pada tokoh neurotik, ambisi sering kali bersifat adiktif karena pencapaian adalah satu-satunya cara sementara untuk meredam rasa cemas dan tidak berharga (insecurity).

Ketika dicampur dengan toxic positivity, individu ini menolak untuk memproses kelelahan atau sinyal kegagalan. Mereka terus memompa dopamin dengan menetapkan target baru yang tidak realistis, sembari mengabaikan rasa sakit fisik dan mental. Akibatnya reseptor dopamin mengalami downregulation (penurunan sensitivitas). Ambisi tidak lagi memberikan rasa puas, melainkan kecemasan yang semakin intens dan burnout saraf

Toxic Positivity Loop pada Otak Neurotik Dengan Siklus Destruktif

Kecemasan/Kegagalan (Amigdala Hiperaktif)

                 │

                 ▼

Doktrin Toxic Positivity ("Saya Harus Positif!")

                 │

                 ▼

Penekanan Emosi Paksa (Expressive Suppression)

                 │

                 ▼

Konflik Internal & Lonjakan Kortisol (Stres Saraf)

                 │

                 ▼

Rasa Bersalah Karena Merasa Cemas (Overthinking di DMN)

                 │

                 ▼

Meningkatnya Neurotisisme & Ambisi yang Kompulsif

 

Bagi tokoh neurotik, toxic positivity bukanlah obat, melainkan jaringan kerusakan mental. Memaksa otak yang sangat sensitif terhadap ancaman untuk mengabaikan sinyal bahaya berupa kecemasan atau kesedihan adalah bentuk sabotase diri yang nyata. Secara neurosains, penerimaan emosi (emotional acceptance) adalah satu-satunya jalan keluar yang logis.

Ketika kita menerima bahwa “saya sedang cemas dan itu tidak apa-apa," aktivitas di prefrontal cortex meningkat secara sehat, mengirimkan sinyal inhibisi (penghambatan) ke amigdala menggunakan neurotransmiter GABA. Amigdala pun tenang. Ambisi yang sehat bagi seorang neurotik tidak dibangun di atas fondasi optimisme buta, melainkan di atas penerimaan realitas yang radikal dan regulasi emosi yang welas asih.

 

Filed Under: Hypnotherapy

In memoriam Yan Nurindra

Certified Instructor of The Month April-2026

Azwan Zamzami, S.Psi, CI, CMT.NNLP, C.PLC, CT.NLC
No Anggota: 12092

lihat Profile

//Artikel Terbaru

  • Only Positive Vibes, Not Always a Good Thing
  • Neurosains Untuk Kaum Kurang Pelukan
  • Menemukan Kembali Diri yang Utuh
  • Menemukan Kembali Makna Hidup
  • Membaca Buku Pintu Transformasi Diri

//Jadwal Pelatihan

Advanced Hypnotherapy

11-May-2026 - Wonosobo

Ilyas Afsoh

Detail

Advanced Hypnotherapy

11-May-2026 - Bandung

Deden Rizwan R, S. Pd. I, CI. IBH

Detail

Basic Hypnotherapy

11-May-2026 - Tangerang

Bernartdous Sugiharto, S.S.T, CH, CHt, CPHt, CMH, CI, C.ESTher, CT. MTH, CT. NLMOR, CT NNLP, CT. PBL, CT. HLC

Detail

Advanced Hypnotherapy

12-May-2026 - Bandung

Ilyas Afsoh

Detail

Jadwal Lengkap

// News

// Our Network

logo-nca logo-nnlp

// The Indonesian Board of Hypnotherapy

Plaza Basmar Lantai 3
Jl. Mampang Prapatan Raya 106 Jakarta Selatan
Whatsapp: 0813-8100-0981 (Mey)
IBH is managed by Integra

© Copyright 2014 IBH Center · All Rights Reserved · Powered by Indonesia9 ·