Dunia terbagi menjadi dua kelompok, mereka yang merasa cukup dengan secangkir kopi di pagi hari, dan mereka yang tidak akan merasa hidup sebelum melompat dari tebing atau mempertaruhkan seluruh kekayaannya pada sebuah ide gila.
Selama dekade terakhir, stigma terhadap para pencari sensasi (sensation seekers) mulai bergeser. Apa yang dulu dianggap sebagai impulsivitas tanpa arah, kini mulai dipetakan oleh para neurosaintis sebagai sebuah keunggulan evolusioner yang tersimpan dalam sirkuit saraf. Kepribadian ini bukan sekadar soal keberanian; ini soal bagaimana otak mengolah molekul kesenangan.
Secara neurologis, perbedaan antara seorang akuntan yang hati-hati dan seorang Elon Musk terletak pada efisiensi sistem dopaminergik. Dopamin adalah mata uang universal otak untuk motivasi dan imbalan atao reward. Namun, bagi para pencari sensasi, nilai tukar mata uang ini berbeda.
Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan skor tinggi pada skala Novelty Seeking sering kali memiliki varian genetik pada reseptor dopamin D4 (DRD4). Reseptor ini cenderung kurang sensitif. Akibatnya, aktivitas normal yang bagi orang awam sudah memuaskan seperti menonton film atau makan malam terasa hambar bagi mereka.
Otak mereka secara biologis berada dalam kondisi gairah rendah atao low arousal. Untuk mencapai level kepuasan yang sama dengan orang normal, mereka harus memacu sirkuit ventral tegmental area (VTA) dengan stimulus yang jauh lebih kuat. Inilah yang menjelaskan mengapa seorang Sir Richard Branson tidak berhenti pada satu bisnis sukses, melainkan terus melompat ke balon udara, rekor samudra, hingga wisata luar angkasa. Baginya, risiko adalah bahan bakar untuk mencapai homeostasis mental.
Elon Musk, sang arsitek risiko intelektual dalah representasi dari penggabungan antara High Sensation Seeking dengan dominasi Korteks Prefrontal. Secara neurologis, ia tidak hanya mencari ledakan dopamin sesaat, melainkan imbalan jangka panjang dari pemecahan masalah skala peradaban.
Saat SpaceX berkali-kali gagal mendaratkan roket, otak Musk tidak merespons dengan rasa takut yang melumpuhkan seperti pada penderita kecemasan. Sebaliknya, Amigdalanya pusat rasa takut mungkin memiliki konektivitas yang unik dengan korteks prefrontal, memungkinkannya memproses kegagalan sebagai data, bukan ancaman eksistensial. Risiko baginya bukanlah bahaya, melainkan variabel matematis.
Alex Honnold, dinginnya solo free, pendaki yang memanjat El Capitan tanpa tali ini menjadi subjek studi saraf yang menarik. Saat dipindai dengan fMRI, Amigdala Honnold hampir tidak menunjukkan aktivitas ketika melihat gambar-gambar mengerikan yang biasanya memicu respons stres pada orang normal.
Ini adalah slh satu contoh ekstrem di mana ambang batas neurologis terhadap rasa takut begitu tinggi sehingga ia membutuhkan situasi hidup-dan-mati hanya untuk merasa terjaga.
Namun, ada garis tipis antara keberanian visioner dan kehancuran. Kepribadian unik ini sangat bergantung pada keseimbangan antara sistem aktivasi perilaku (BAS) dan sistem penghambatan perilaku (BIS).
Pencari sensasi yang sukses biasanya memiliki BAS yang kuat, dorongan maju namun tetap memiliki BIS yang berfungsi sbg sensor bahaya. Tanpa sensor bahaya yang memadai, dorongan neurologis ini bisa tergelincir menjadi adiksi atau perjudian patologis. Otak mereka menjadi mesin yang terus menginjak gas tanpa memiliki rem yang pakem.
Secara historis, manusia membutuhkan para pengambul resiko atau para pencari sensasi. Mereka adalah para penjelajah yang berani menyeberangi samudra tanpa peta dan nenek moyang kita yang berani mencoba api. Tanpa anomali dopamin di otak mereka, spesies manusia mungkin masih terjebak di zona nyaman gua-gua purba.
Memahami neurologi di balik pencarian sensasi bukan berarti membenarkan kecerobohan. Ini adalah upaya menghargai bahwa spektrum kepribadian manusiadari yang paling waspada hingga yang paling berani adalah mekanisme pertahanan kolektif kita.

