Dalam kacamata neurosains, gengsi bukanlah sekadar fenomena sosial, ia adalah mekanisme pertahanan diri yang agresif. Ketika seseorang merasa harga dirinya terancam, otak mengaktifkan sirkuit yang sama dengan ancaman fisik. Namun, pada individu yang rela melakukan kebohongan patologis demi reputasi, terjadi malfungsi menarik dalam hierarki kognitif mereka.
Normalnya, Prefrontal Cortex (PFC) berfungsi sebagai CEO otak yang mengelola kebenaran dan kontrol impuls. Namun, menurut perspektif Antonio Damasio, pakar neurobiologi emosi, keputusan manusia sering kali disetir oleh somatic markers sinyal emosional dari tubuh.
Bagi orang dengan gengsi tinggi, ketakutan akan terlihat rendah yg memicu sinyal stres yg hebat. Untuk meredam stres ini, PFC justru bekerja lembur bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk mengonstruksi narasi fiktif yang koheren agar status sosialnya tetap terjaga. Mereka tidak sekadar menipu orang lain, otak mereka secara aktif membutuhkan kebohongan tersebut untuk merasa aman secara biologis.
Setiap kali cerita fiktifnya dipercaya atau mendapatkan kekaguman, sistem reward di ventral striatum melepaskan dopamin. Analisa ala Robert Sapolsky, peneliti neurobiologi perilaku ini sering menekankan betapa otak manusia sangat sensitif terhadap hierarki. Ketika seseorang yang sangat gengsi bercerita tentang pencapaian palsu, otak mereka merasakan hadiah instan yang mengalahkan rasa bersalah. Lama-kelamaan, jalur saraf ini menguat, berbohong menjadi jalur pintas tercepat untuk mendapatkan kepuasan saraf.
Normalnya, saat kita berbohong, Anterior Cingulate Cortex (ACC) akan mendeteksi konflik antara kenyataan dan ucapan, yang memicu rasa tidak nyaman atau disonansi kognitif. Pada karakter gengsi tingkat tinggi, ACC mengalami desensitisasi.
V.S. Ramachandran, yang terkenal dengan studinya tentang penyangkalan memori, mungkin melihat ini sebagai bentuk pertahanan ego ekstrem di mana otak menulis ulang memori agar sesuai dengan citra diri yang diinginkan. Mereka mulai memercayai kebohongan mereka sendiri karena otak tidak lagi mampu membedakan antara fakta dan ambisi.
Menghadapi individu seperti ini memerlukan pendekatan yang presisi. Berdebat dengan fakta keras sering kali justru memicu reaksi defensif yang lebih hebat efek backfire. Secara kognitif, mempermalukan mereka di depan umum akan memicu lonjakan kortisol hormon stres yang membuat mereka semakin terjebak dalam kebohongan untuk menyelamatkan muka. Jika Anda ingin mengonfrontasi, lakukan secara empat mata untuk menurunkan tensi sistem limbik mereka.
Alih-alih berkata, tu bohong, gunakan pertanyaan terbuka yang memaksa otak mereka melakukan pemrosesan data ulang. Wah, menarik sekali. Bagaimana detail prosesnya saat itu terjadi? ertanyaan mendetail memaksa Prefrontal Cortex mereka bekerja lebih keras untuk menjaga konsistensi cerita fiktifnya, yang sering kali membuat retakan dalam narasi mereka muncul dengan sendirinya tanpa Anda harus menuduh.
Psikologi kognitif menyarankan untuk memutus ketergantungan dopamin mereka pada kebohongan. Berikan apresiasi atau perhatian justru saat mereka membicarakan hal-hal yang nyata atau menunjukkan sisi manusiawi mereka. Ini melatih otak mereka bahwa validasi bisa didapat tanpa harus menjadi fiktif.
Orang yang terperangkap dalam gengsi patologis sebenarnya hidup dalam mode bertahan hidup, survival mode yang konstan.
Mereka tidak menikmati kenyataan karena kenyataan dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi mereka. Memahami bahwa perilaku ini adalah hasil dari sirkuit otak yang malfungsi dapat membantu kita merespons dengan ketegasan yang tetap tenang, bukan dengan amarah yang sia-sia. Intix otak manusia adalah mesin penyusun cerita. Namun, bagi mereka yang diperbudak gengsi, mesin ini kehilangan rem etikanya demi menjaga hormon harga diri tetap tinggi di tengah kekosongan jiwa.

