IBHCenter

Indonesian Board of Hypnotherapy Official Website

  • Home
  • Blog
  • Member
    • Certified Hypnotist
    • Certified Hypnotherapist
    • Trainer
  • Jadwal Pelatihan
  • Renewal
  • login

Neurobiologi di Balik Tragedi Otak Menolak Menjadi Mesin

February 9, 2026 by Rifqah Ramdhana Jufri, M.Pd

Dalam dekade terakhir, kesibukan manusia telah bermutasi dari sekadar status kerja menjadi lencana kehormatan (badge of honor). Namun, di balik efisiensi yang diagung-agungkan, otak manusia sedang mengalami krisis struktural. Fenomena ini bukan sekadar rasa kantuk yang hilang dengan kopi, ini adalah neuroinflamasi kronis akibat benturan antara desain evolusioner otak kita dengan tuntutan era digital yang hiper akseleratif.

Otak manusia memiliki keterbatasan bandwidth kognitif. Gaya hidup serba cepat memaksa kita melakukan task switching (yang sering keliru disebut multitasking) secara konstan. Secara neurologis, setiap perpindahan fokus menuntut "biaya peralihan" yang menguras glukosa di Prefrontal Cortex (PFC) pusat kendali eksekutif kita.

Ketika PFC kelelahan, ia kehilangan kemampuan untuk menghambat amygdala (pusat emosi/takut). Akibatnya? Kita menjadi lebih reaktif, mudah cemas, dan kehilangan kemampuan berpikir jangka panjang. Secara harfiah, kecepatan hidup yang berlebih membuat kita "kehilangan akal sehat" demi kecepatan respons.

Kita hidup dalam ekonomi perhatian yang memicu lonjakan dopamin jangka pendek melalui notifikasi dan pencapaian instan. Masalahnya, menurut prinsip homeostasis, otak akan melakukan regulasi turun (downregulation) terhadap reseptor dopamin untuk melindungi diri dari stimulasi berlebih.

Hasilnya adalah anhedonia, kondisi di mana hal-hal yang biasanya menyenangkan terasa hambar. Kelelahan mental ini bukan karena kita kekurangan stimulasi, melainkan karena kita overdosis stimulasi yang dangkal, sehingga sirkuit penghargaan kita mengalami kelelahan material.

Jika ada tokoh yang paling tajam membedah ini secara filosofis-neurologis, ia adalah Byung-Chul Han. Dalam karyanya The Burnout Society, Han berargumen bahwa kita telah beralih dari "Masyarakat Kedisiplinan" Foucault ke "Masyarakat Pencapaian."

Analisa kritis Han menyebut manusia modern sebagai proyek bagi dirinya sendiri. Kita tidak lagi dieksploitasi oleh bos, melainkan mengeksploitasi diri sendiri secara sukarela sampai titik hancur (burnout).

Han menekankan hilangnya "kontemplasi" atau deep boredom. Secara neurosains, momen melamun atau tidak melakukan apa-apa sebenarnya mengaktifkan Default Mode Network (DMN). DMN adalah saat di mana otak melakukan konsolidasi memori, pemrosesan diri, dan kreativitas. Dengan gaya hidup serba cepat, kita membunuh DMN, yang berarti kita membunuh kemampuan kita untuk menjadi manusia yang utuh dan kreatif.

Secara sistemik, kelelahan mental ini bermanifestasi sebagai Allostatic Load kerusakan kumulatif pada tubuh akibat aktivasi respons stres yang berkepanjangan. Ketika kadar kortisol tetap tinggi karena tekanan "kecepatan," neurogenesis di Hippocampus (pusat memori) terhambat. Kita mulai sering lupa, sulit fokus, dan secara fisik, otak kita mengalami penyusutan volume pada area-area krusial tersebut.

Kelelahan mental bukan tanda kelemahan karakter, melainkan sinyal biologis bahwa sistem operasi kita sedang dipaksa menjalankan perangkat lunak yang tidak kompatibel. Mengambil jeda bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan intervensi klinis untuk menyelamatkan integritas saraf kita.

Seperti yang disiratkan Byung-Chul Han, kebebasan sejati di era modern bukan terletak pada kemampuan untuk melakukan segalanya dengan cepat, melainkan pada keberanian untuk mengatakan "tidak" pada tuntutan kecepatan yang tidak manusiawi.

The Power of Doing Nothing

Untuk membangun kembali ketahanan saraf, kita bisa menerapkan protokol berikut

Dopamine Fasting (Skala Kecil), matikan semua notifikasi selama 2 jam di tengah hari. Ini memaksa reseptor dopamin untuk kembali sensitif terhadap stimulasi normal, bukan stimulan buatan.

Monotasking Rigidity, latih otak untuk hanya melakukan satu hal dalam satu waktu. Secara neuroplastis, ini memperkuat konektivitas antara PFC dan Anterior Cingulate Cortex, meningkatkan kontrol impuls.

Inkubasi Kreatif, sediakan waktu 15 menit sehari tanpa gawai, tanpa buku, dan tanpa musik. Biarkan pikiran berkelana. Inilah saat di mana DMN melakukan "defragmentasi" pada hard drive biologis

"Kesembuhan bukan berarti kita menjadi lebih cepat lagi, melainkan kemampuan kita untuk mengatur ritme agar sirkuit internal tidak terbakar oleh ekspektasi eksternal."

 

I invite you to a spectacular collaboration

Find me in contact +62 819-3822-9535 – rifqah.ramdhana18@gmail.com

 

Filed Under: NLP for Hypnosis

In memoriam Yan Nurindra

Certified Instructor of The Month January-2026

Azwan Zamzami, S.Psi, CI, CMT.NNLP, C.PLC, C.NLC
No Anggota: 12092

lihat Profile

//Artikel Terbaru

  • Neurobiologi di Balik Tragedi Otak Menolak Menjadi Mesin
  • MAU TERUS SEHAT KUAT TANPA OBAT ? KUASAI INI SEKARANG!
  • Kleptomania Dari Adrenalin Menuju Candu
  • Solusi Terapi Emosi, Trauma, dan Perilaku Anak & Dewasa
  • Solusi Efektif Mengatasi Masalah Emosi, Trauma, dan Perilaku

//Jadwal Pelatihan

Advanced Hypnotherapy

9-Feb-2026 - Surabaya

Ilyas Afsoh

Detail

Basic Hypnotherapy

9-Feb-2026 - Tangerang

Bernartdous Sugiharto, S.S.T, CH, CHt, CPHt, CMH, CI, C.ESTher, CT. MTH, CT. NLMOR, CT NNLP, CT. PBL, CT. HLC

Detail

Basic Hypnotherapy

10-Feb-2026 - Jakarta

DR.(H.C) ARIS BUDIMAN, CHt.,CPHt.,CMHt, CI, CMTHt.

Detail

Professional Hypnotherapy Workshop

10-Feb-2026 - Surabaya

Ilyas Afsoh

Detail

Jadwal Lengkap

// News

// Our Network

logo-nca logo-nnlp

// The Indonesian Board of Hypnotherapy

Plaza Basmar Lantai 3
Jl. Mampang Prapatan Raya 106 Jakarta Selatan
Whatsapp: 0813-8100-0981 (Mey)
IBH is managed by Integra

© Copyright 2014 IBH Center · All Rights Reserved · Powered by Indonesia9 ·