Di lingkungan sekolah yang penuh tekanan seperti ujian, tugas menumpuk, atau konflik pertemanan otak anak laki-laki dan perempuan mengaktifkan sirkuit yang berbeda untuk bertahan hidup. Respon Anak Perempuan "Tend and Befriend" (Merawat dan Berteman) secara neurobiologis, ketika anak perempuan merasa tertekan, otak mereka melepaskan oksitosin dalam jumlah besar.
Alih-alih lari, mereka secara alami mencari koneksi sosial untuk meredakan ketegangan. Inilah alasan mengapa anak perempuan cenderung ingin berbicara atau curhat saat ada masalah. Di skolah Jika seorang anak perempuan gagal dalam ujian, ia mungkin akan berkumpul dengan teman-temannya untuk membahas perasaan mereka. Proses verbal ini membantu menurunkan kadar kortisol (hormon stres) di otaknya.
Sebaliknya jika mereka dilarang berbicara atau merasa terisolasi secara sosial, tingkat stres mereka akan melonjak jauh lebih tinggi dibanding laki-laki. Respon Anak Laki-Laki: "Fight or Flight" (Lawan atau Lari). Otak laki-laki merespons stres dengan membanjiri sistem mereka dengan kortisol dan testosteron, namun dengan sedikit oksitosin.
Karena amigdala mereka sangat reaktif, stres sering kali memicu respons fisik. Jika mereka merasa terancam secara akademis atau sosial, pilihannya adalah menjadi agresif (lawan) atau menarik diri sepenuhnya (lari/melamun). Anak laki-laki yang stres mungkin akan terlihat "berulah", menjadi lebih kasar saat bermain, atau justru terlihat sangat malas dan tidak peduli (ini adalah bentuk dari "lari" secara mental).
Karena koneksi verbal mereka lebih lambat saat stres, menanyakan "Kenapa kamu melakukan itu?" saat mereka sedang emosi sering kali sia-sia. Otak mereka sedang dalam mode "bertahan hidup", bukan mode "berdiskusi".
Neurosains, laki-laki vs perempuan, mengapa anak laki-laki dan perempuan bereaksi berbeda terhadap stres?
Anak laki-laki: Sang "Physical Processor"
Respon Stres: Fight or Flight (Lawan atau Lari)
Sirkuit Amigdala, saat tertekan, bagian otak ini memicu dorongan fisik. Stres sering kali keluar dalam bentuk kegelisahan motorik (tidak bisa diam) atau agresi. Mode Hibernasi, jika tekanan terlalu besar, otak laki-laki bisa "shut down" atau melamun sebagai mekanisme perlindungan diri. Kebutuhan Utama, gerakan. Aktivitas fisik membantu menurunkan hormon stres (kortisol) di otak mereka. Jangan ajak bicara saat ia sedang marah. Beri waktu 15 menit untuk "mendinginkan" sirkuit otaknya.
Anak perempuan: Sang "Verbal Connector"
Respon Stres: Tend and Befriend (Merawat dan Berteman) Jalur Oksitosin, sres memicu keinginan untuk mencari dukungan sosial. Berbicara adalah cara utama mereka menenangkan sistem saraf. Koneksi Dua Belahan Otak, mereka memproses emosi dan logika secara bersamaan, membuat mereka sangat peka terhadap nada bicara dan ekspresi wajah guru/orang tua.
Kebutuhan Utama, mendengarkan. Rasa aman secara sosial adalah kunci agar mereka bisa fokus belajar kembali. Validasi perasaannya terlebih dahulu. Jika hatinya tenang, otaknya akan kembali tajam untuk berpikir logis.
Konsep memahami bukan membatasi penting sebagai tindakan tepat dalam merespon perbedaan keduanya
I invite you to a spectacular collaboration
Find me in contact +62 819-3822-9535 – rifqah.ramdhana18@gmail.com

